Polusi Udara yang Parah Mendorong Meningkatnya Limbah Plastik

0
16

Oleh: Amie Priyono

(Foto: Brian Yurasits @brian_yuri)

gemahripah.co – Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh para peneliti dari National University of Singapore (NUS), ketika udara di luar tidak kondusif, pekerja kantor lebih cenderung memesan makanan secara daring daripada keluar untuk makan siang. Hal ini menjadi salah satu penyebab meningkatkan limbah plastik dari kemasan makanan. Hasil studi tersebut dipublikasikan di jurnal Nature Human Behavior.

Seperti dilansir Science Daily, Associate Professor Alberto Salvo dari Departemen Ekonomi di Fakultas Seni dan Ilmu Sosial NUS dan seorang penulis studi tersebut, mengungkapkan bahwa sampah plastik adalah masalah lingkungan global yang berkembang.

“Sementara kami melihat lebih banyak penelitian tentang dampak polusi plastik terhadap lingkungan alam, tapi tida banyak yang mencoba memahami perilaku manusia yang mendorong meningkatnya volume polusi plastik. Di sinilah penelitian kami berupaya berkontribusi, menemukan hubungan sebab-akibat yang kuat antara polusi udara dan sampah plastik melalui permintaan pengiriman makanan,” ujarnya

Dalam dekade terakhir, lanjut Salvo, di perkotaan di beberapa negara berkembang, usaha makanan daring telah tumbuh dengan tajam. Dari bukti yang terkumpul menunjukkan banyak plastik sekali pakai dalam makanan yang dikirim, dari wadah hingga tas pembawa.

Polusi Udara Mendorong Meningkatnya Permintaan Layanan Makanan Secara Daring

Tim NUS, termasuk Assoc Prof Liu Haoming dan Assoc Prof Chu Junhong, memfokuskan studi mereka di Tiongkok. Negara itu merupakan salah satu pengguna platform pengiriman makanan daring terbesar di dunia, dengan 350 juta pengguna terdaftar.

Diperkirakan 65 juta wadah makanan dibuang setiap hari di seluruh Tiongkok, di mana pekerja kantoran berkontribusi lebih dari setengahnya.

Studi ini mensurvei pilihan makan siang dari 251 pekerja kantor berulang kali (masing-masing pekerja selama 11 hari kerja) di tiga kota di Tiongkok yang sering dipenuhi kabut asap, yaitu Beijing, Shenyang dan Shijiazhuang, antara Januari dan Juni 2018.

Untuk melengkapi survei pekerja kantoran, para peneliti juga mengakses daftar pesanan di Beijing pada tahun 2016, dari platform pengiriman makanan daring, yang secara luas mewakili semua segmen pasar yang dilayani oleh industri pengiriman makanan. Kemudian mereka mengumpulkan data pengamatan pada 3,5 juta pesanan pengiriman makanan dari sekitar 350.000 pengguna.

Data dari survei dan buku pesanan kemudian dibandingkan dengan pengukuran PM2.5 (partikel halus berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer), selama periode waktu makan siang dari jaringan pemantauan udara di tiga kota tersebut.

Dari hasil pengamatan, diketahu bahwa tingkat PM2.5 selama periode ini seringkali jauh di atas Standar Kualitas Udara Ambien Nasional AS 24 jam, sebesar 35? G / m³, membuat polusi sangat terlihat. Para peneliti berhati-hati dalam mengontrol faktor perancu seperti aktivitas ekonomi.

Kedua sumber data menunjukkan hubungan kuat antara polusi PM2.5 (kabut asap) dan konsumsi pengiriman makanan. Mengoreksi pengaruh cuaca dan musim, buku pesanan perusahaan mengungkapkan bahwa peningkatan PM2,5 100 g / m³ meningkatkan konsumsi pengiriman makanan sebesar 7,2 persen. Dampak pergeseran 100? G / m³ PM2.5 pada kecenderungan pekerja kantor untuk memesan pengiriman enam kali lebih besar, yaitu 43 persen.

Assoc Prof Chu dari Departemen Pemasaran di NUS Business School menjelaskan, menghadapi kabut asap di luar, seorang pekerja kantoran pada waktu makan siang memilih memesan makanan secara daring, untuk dapat menghindari paparan polusi udara.

“Basis konsumen yang lebih luas memiliki lebih banyak alternatif untuk menghindari lingkungan luar ruangan pada hari yang tercemar. Misalnya, dengan memasak makanan sendiri saat berada di rumah,” jelasnya.

Namun demikian, pihaknya menemukan dampak ekonomi yang besar juga di antara populasi yang lebih luas yang dilayani oleh platform pengiriman makanan.

Pengendalian Polusi Udara Membawa Manfaat Tambahan Limbah Plastik

Lebih dari 3.000 foto makanan dikirimkan oleh pekerja kantoran, memungkinkan tim NUS untuk menghitung seberapa banyak plastik sekali pakai bervariasi di berbagai pilihan makan siang. Khususnya, makanan yang dimakan di restoran dibandingkan dengan yang dikirim ke kantor.

Para peneliti memperkirakan, peningkatan 100? G / m³ PM2.5 meningkatkan penggunaan plastik sekali pakai rata-rata 10 gram, setara dengan sekitar sepertiga massa wadah plastik.

Foto-foto yang diterbitkan sebagai bagian dari penelitian menunjukkan bahwa rata-rata makanan yang diantarkan menggunakan 2,8 item plastik sekali pakai dan diperkirakan 54 gram plastik. Rata-rata makan di tempat makan menggunakan sekitar 6,6 gram plastik, seperti sumpit atau botol.

Berdasarkan buku pesanan, para peneliti juga memperkirakan bahwa pada hari tertentu, jika seluruh Tiongkok terkena peningkatan dosis 100? G / m³ PM2.5 seperti yang secara rutin diamati di Beijing, 2,5 juta lebih banyak makanan akan dikirimkan, membutuhkan tambahan 2,5 juta kantong plastik dan 2,5 juta wadah plastik.

Assoc Prof Liu dari Departemen Ekonomi mengungkapkan, temuan tersebut mungkin berlaku untuk kota-kota negara berkembang yang biasanya tercemar, seperti di Bangladesh, India, Indonesia dan Vietnam. Di mana praktik pengelolaan limbah sangat bervariasi, dengan angin meniup puing-puing plastik dari tempat pembuangan sampah yang tidak tertutup. Atau plastik yang dibuang ke sungai dan dari sana menuju ke laut.

“Jadi, dengan delapan juta ton plastik yang diperkirakan masuk ke laut setiap tahun, penelitian kami menunjukkan masalah yang lebih luas. Orang-orang melindungi diri dari pencemaran udara dengan memesan makanan melalui daring, yang sering kali dikemas dalam kemasan plastik. Terbukti dari penelitian kami,  pengendalian pencemaran udara dapat mengurangi sampah plastik,” terangnya.

Ke depan, para peneliti akan terus mengerjakan umpan balik perilaku di mana polusi menghasilkan polusi bentuk lain. Khususnya, untuk mempertahankan diri dari pencemaran lingkungan, manusia menggunakan lebih banyak sumber daya alam dan lebih banyak mencemari.

Sebagai contoh, baru-baru ini para peneliti mencatat tentang kekhawatiran atas paparan COVID-19 telah menyebabkan melonjaknya permintaan  makanan daring, yang sebagian besar dikemas dalam plastik.

Para peneliti berharap hasil studi mereka bisa menambah suara untukv menyerukan pengemasan yang lebih ramah lingkungan dan peningkatan pengelolaan limbah. (***)

*) Aktivis lingkungan hidup, atlet sepeda gunung, tinggal di Gresik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here