Setigi, dari Timbunan Sampah menjadi Obyek Wisata Alam yang Dikunjungi Wisatawan Mancanegara

0
34
Jembatan dan sepeda air, salah satu obyek yang diminati wisatawan saat berkunjung ke Setigi. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Jarum jam menunjuk pukul 9 pagi, Jalan Raya Sekapuk yang cukup lebar dan beraspal mulus itu masih lengang. Setelah masuk  sembilan ratus meter dari Jalan Raya Daendels, terlihat papan penunjuk obyek wisata alam Setigi yang terletak di Desa Sekapuk, Kecamatan Ujungpangkah, Gresik itu.

Di pintu gerbang, ada 2 petugas  yang melakukan pengecekan suhu tubuh. Setelah membeli tiket masuk dan mobil berjalan sekian belas  meter, kami disambut  oleh pemandangan lembah dan perbukitan nan eksotik.

Pengunjung yang mulai berdatangan ada yang naik sepeda air  di danau yang terletak di sisi kiri. Sebagian lagi berjalan menyeberangi  jembatan yang dibangun di atas danau tersebut, sambil sesekali berswafoto.  Sebagian dari mereka ada menaiki tangga yang seolah-olah menggapai langit, di sisi kanan. Ada juga yang menyusuri terowongan sepanjang 10 meter menuju ke pusat kuliner.

Menurut Abdul Halim (36), Kepala Desa Sekapuk, obyek wisata  seluas 5 hektar ini dulunya merupakan bekas pertambangan batu putih yang  dijadikan bata dan pondasi. Tidak heran jika pada berbagai titik terlihat ceruk dan bekas gerusan pada dinding bukit. Beberapa di antaranya membentuk telaga berbagai ukuran dan goa-goa dengan kedalaman beragam.

“Seratus hari setelah  saya dilantik menjadi Kepala Desa Sekapuk, kami mulai mengawali  pembangunan  obyek wisata ini. Saya dilantik pada 12 Desember 2017, jadi ya  tanggal 22 Maret 2018 lah,” ujarnya.

Lahan bekas galian tambang itu sebagian besar dimanfaatkan sebagai tempat membuang sampah warga Sekapuk sejak tahun 2003. Tidak heran jika selama 15 tahun  warga Desa Sekapuk dengan jumlah  sebanyak 5.800 dari 1.443 rumah tangga itu, menjadikan lahan tersebut penuh dengan sampah.

“Kami mengerahkan masing-masing pengurus RT  agar mengajak warga melakukan kerja bakti untuk membersihkan sampah. Tapi setelah dilakukan sebanyak 3 kali, kami menyadari bahwa tumpukan sampah itu tidak mungkin dikerjakan dengan tenaga manusia,” katanya.

Untuk mempercepat proses pembersihan sampah, diputuskan menggunakan alat berat yang bekerja selama 18 jam per hari. Sebagian sampah dibersihkan, sebagian lainnya ditimbun di jurang-jurang yang dalam, kemudian dipadatkan.

Butuh waktu sekitar 9 bulan untuk menjadikan lahan tersebut siap,  tanggal 7 Januari 2019 pembuatan danau dimulai. Pembiayaan berasal  dari tabungan warga yang dirupakan obligasi saham. Proses pengumpulan dana tidak instan,  suami Rif’atul Mubarokah itu butuh waktu 3 bulan untuk meyakinkan warga.

“Untuk pembiayaan awal dengan nilai sebesar Rp2 Milyar, tiap kepala keluaraga cukup menabung Rp200 ribu perbulan atau Rp8 ribu per 25 hari. Jadi dengan uang Rp8 ribu, masing-masing rumah tangga sudah bisa menjadi pengusaha. Saya sampaikan pada mereka jika obyek wisata ini tidak laku, tabungan bisa diambil dengan jaminan peraturan kepala desa,” tegasnya.

Bapak tiga anak ini sudah menyiapkan dana, jika memang  ada warga yang ingin mengambil uangnya jika dianggap obyek wisata ini tidak laku. Sebab  BUMDES Sekapuk memiliki beberapa bidang usaha yang menguntungkan selain obyek wisata tersebut.

Setigi merupakan akronim dari Selo, Tirto dan Giri, harfiah artinya batu, air dan pegunungan. Abdul membangun obyek wisata ini tanpa melibatkan konsultan. Dari mulai konsep hingga desain dia sendiri  yang menanganinya.

Dana yang sudah diinvestasikan hingga saat ini sudah mencapai  Rp3,4 milyar, semuanya murni swadaya dari masyarakat.  Dia opotimis dalam empat tahun sudah balik modal.

“Makanya saya pastikan tahun 2020 harus dibuka. Dengan keuntungan Rp100 juta perbulan, dalam setahun bisa mencapai Rp1,2 milyar, jika dikalikan 4 tahun saja sudah cukup lah (balik modal),” katanya.

Setigi mulai dibuka sejak 1 Januari 2020,saat progres fisik mencapai 40%. Jam bukanya setiap hari mulai pukul 8 pagi hingga 9 malam. Saat pandemi  Covid-19, obyek wisata yang terletak 32 kilometer dari Kota Gresik itu tutup selama 90 hari sejak  tanggal 26 Maret 2020.

“Setelah dibuka lagi tanggal 6 juni 2020 dengan menerapkan protokol Covid-19, jam bukanya  8 pagi hingga 6 sore.  Sebelum  pandemi pengunjung pada hari Senin sampai Kamis berkisar 100 orang. Sedangkan Jumat, Sabtu dan Minggu bisa mencapai di atas 1.500 orang,” ungkap alumnus Pendidikan Ilmu Pelayaran yang pernah menjadi nahkoda beberapa kapal  dalam dan luar negeri itu.

Dengan tiket masuk  Rp15 ribu per orang, pengunjung bisa menikmati keindahan panorama dan 20 obyek. Tidak satu pun obyek  yang menjadi maskot, semuanya memiliki daya tarik dengan karakter keindahan yang berbeda.

Kepala Desa Sekapuk Abdul Halim, penggagas berdirinya Obyek Wisata Alam Setigi. (Foto: gemahripah.co)

“Semuanya istimewa, mulai dari Monumen Setigi, Topeng Suku Asmat, Jembatan Peradaban Gupala dan Dwarapala yang mewakili kejayaan Majapahit, Miniatur Persia, Candi Topeng Nusantara, Patung Semar dan lainnya. Banyak pengunjung yang berfoto di obyek-obyek tersebut,” jelasnya.

Ke depannya obyek wisata tersebut  akan dilengkapi dengan kolam renang dan pemandian hijaber yang saat ini sedang dalam proses pembangunan, dan direncanakan selesai pada tahun 2021. Selain itu juga akan dibangun miniatur Masjid Madinah, Pilar Persatuan dan banyak lagi.

Publikasi obyek wisata ini melalui media sosiap seperti Facebook dan IG. Semua karyawan diwajibkan mengunggah aktivitas selama bekerja, minimal 1 unggahan sehari di akun Facebook atau IG milik mereka.

“Kami sempat memiliki 63 karyawan sebelum terjadinya pandemi Covid-19. Saat ini tinggal 38 karyawan yang digaji dan 120 ibu-ibu PKK dan RT yang mengelola 30 stan makanan dan suvenir  yang manajamennya berdiri sendiri, tidak masuk dalam manajemen Setigi,” paparnya.

Manajemen obyek wisata tersebut memperdayakan  1 stan itu untuk 1 RT di Sekapuk yang terdiri dari 29 RT dan 1 PKK. Dengan demikian desa tersebut bisa memberdayakan masyarakat  ekonomi menengah ke bawah.

Lambat laun, destinasi wisata baru ini mulai dikenal khalayak ramai. Pengunjung Setigi tidak hanya dari Kabupaten Gresik saja, tapi juga dari daerah lain seperti  Tuban, Surabaya,Malang, Pasuruan, Mojokerto, Pacitan, dan Semarang.

“Kami juga pernah mendapat kunjungan wisatawan dari Nnew Zealand dan AS. Bahkan pernah dijadikan lokasi pembuatan beberapa sinetron yang tayang di televisi nasional,” pungkas Abdul Halim. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here