Choiron: Pensiunan yang Ingin Berwiraswasta, Harus Tahu Minat dan Resources yang Dimiliki.

0
204
Choiron (65), bisnisnya berkembang pesat setelah pensiun dini dari Petrokimia Gresik.(Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Ada pertanyaan  berulang yang terlontar dari kalangan karyawan, dari generasi ke generasi: setelah pensiun ingin tinggal di mana dan akan melakukan aktivitas apa? Yang dimaksud dengan aktivitas, biasanya berkaitan dengan finansial.

Seperti kita tahu, secara umum kekuatan finansial pensiunan tidak sebesar ketika masih aktif. Sedangkan hidup harus terus berjalan. Lebih-lebih bagi mereka yang sebelumnya menjadi pejabat tinggi dengan penghasilan yang besar. Setelah pensiun, quo vadis?

Tidak sedikit karyawan yang sudah memimpikan akan menjadi wiraswasta setelah pensiun. Ada yang konsisten dan merealisasikan mimpinya, ada juga yang hanya sekadar angan-anga belaka. “Ternyata saya tidak tahu akan memulai dari mana, dan saya bingung akan menekuni usaha apa,” begitu kata mereka.

Menurut Choiron, karyawan Petrokimia Gresik yang banting stir menjadi pengusaha sukses, tidak semua pensiunan mendambakan berwiraswasta. Ada berbagai alasan yang melatarbelakangi, tapi umumnya berangkat dari values, nilai-nilai yang diyakininya.

“Ada orang-orang yang tidak ingin berwiraswasta setelah pensiun, alasannya adalah apa sih yang kita cari dalam hidup ini? Mereka berpendapat bahwa saat meninggal kita tidak membawa harta, jadi buat apa kita mencari uang lagi saat masuk masa pensiun,” ujar suami Setyarini itu.

Ada juga yang berpendapat, tambahnya, tidak berwiraswasta setelah pensiun karena menurutnya menjadi pengusaha, dekat dengan kecurangan. Karena dia tidak mau berbuat curang, maka dia tidak ingin menjadi pengusaha.

Choiron menyampaikan, jika memang memutuskan untuk menjadi wiraswasta, kita harus tahu minat kita apa, dan sumber daya (resources) yang kita miliki bagaimana. Ada tiga bidang usaha yang umumnya digeluti oleh pengusaha, yaitu trading, memproses produksi, dan services.

“Contoh usaha trading adalah toko buku dan toko pakaian, usaha ini tidak memproses apa-apa. Misalnya kulak Rp100 ribu kemudian dijual dengan harga Rp110 ribu. Memproses produksi itu contohnya mendirikan pabrik genteng atau usaha kuliner, di mana kita membeli berbagai macam bahan baku, kemudian diolah menjadi produk dan dijual,” terang bapak 3 anak dan kakek 5 cucu tersebut.

Yang ketiga, lanjut Choiron, adalah services, seperti misalnya usaha salon kecantikan dan bengkel sepeda motor. Usaha jenis ini tidak banyak meyerap modal, karena penekanannya pada pelayanan.

“Nah, jika kita mau bisnis pada masa pensiun, seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya, harus berangkat dari minat dan resources. Dan resources itu tidak hanya uang, tapi macam-macam, seperti skill, network, lokasi, dan manajerial,” jelasnya.

Alumnus Fakultas Teknik Mesin ITS yang memutuskan pensiun dini dari Petrokimia Gresik pada tahun  2006 itu, menyarankan untuk tidak melakukan usaha dengan mencontoh keberhasilan orang lain.

“Misalnya ada kawan yang berhasil dalam bisnis batubara, tapi ketika kita mengikuti jejaknya malah menjadi rugi dan uang pesangon ludes. Banyak teman-teman yang terperosok karena menjalankan bisnis yang tidak sesuai dengan minat dan resources yang dimiliki,” ujar lelaki kelahiran Surabaya, 28 Maret 1955 itu.

Resto tipe life style, suasananya enak untuk nongkrong, mahal pun nggak masalah. (Foto: gemahripah.co)

Seandainya kita ingin berbisnis kuliner, kata Choiron, yang harus dipahami adalah bisnis makanan ini sepertinya mudah, tapi tidak sesederhana yang kita bayangkan.  Usaha kuliner, resto, itu tipenya macam-macam, ada tipe functional, life style, family dan traveller.

“Tipe functional itu, yang makanannya  mengenyangkan, murah dan enak. Seperti misalnya membuka warung di dekat pabrik. Konsumen tidak peduli dengan pelayanan penjualnya, biarpun tidak ramah, tetap saja mereka menjadi pelanggan setia,” ujarnya.

Sedangkan untuk yang tipe life style, lanjutnya, adalah usaha kuliner yang suasananya enak untuk nongkrong, mahal pun nggak masalah. Yang tipe family, konsumen tidak datang hanya untuk makan saja, tapi juga untuk gathering, pertemuan dengan kawan, kerabat, dan keluarga. Biarpun penyajiannya lama tidak masalah, karena pengunjung punya waktu banyak.

“Yang tipe traveller, pelayanan harus cepat karena pengunjung yang datang hanya untuk makan dan segera meneruskan perjalanan. Biasanya restoran jenis ini banyak kita temui di pinggir jalan yang menghubungkan antar kota,” katanya.

Choiron menyarankan, jika ingin berbisnis kuliner kita jangan sampai salah strategi dan taktik. Walaupun kita pandai memasak, pelayanannya bagus, jika strategi dan taktiknya salah maka tidak berhasil. Analoginya, jika kita akan berperang di padang pasir idealnya dengan menggunakan tank.

“Bayangkan, jika berperang di daerah rawa tapi yang kita gunakan tank, maka jangan harap akan memenangkan peperangan. Meskipun yang didatangkan adalah tank dengan teknologi canggih sekalipun,” tegasnya.

Jika strategi sudah tepat, tambahnya, tapi taktiknya yang salah maka kita akan mengalami kegagalan. “Kita sudah membawa tank yang canggih di padang pasir, tapi ternyata operator tank tidak cakap sehingga tidak bisa menembakkan amunisi dengan tepat, maka ya gagal juga,” jelasnya.

Choiron menyampaikan, ketika kita membuka usaha resto traveller, tapi pelayanan dan jenis makanan yang dijualnya adalah untuk resto family, maka kemungkinan berhasilnya kecil.

“Pernah ada resto di Gresik, yang pengusahanya bermaksud mendirikan resto dengan tipe traveller. Dari sisi lokasi sudah tepat, di jalan provinsi menuju keluar dan masuk Kota Gresik, makanannya juga relatif enak,” kisahnya.

Tapi Choiron memperhatikan makanan yang dijual adalah chinese food, di mana penyajianya lama karena harus harus dimasak dulu. Sedangkan pengunjungnya ingin segera makan karena sudah lapar dan bergegas melanjutkan perjalanan. Tentu saja resto tersebut tidak bertahan lama.

Lebih lanjut Choiron menyampaikan, menurut Philip Kotler, pakar marketing yang menulis beberapa buku marketing, pengusaha harus mengenal apa yang dinamakan 4P, yaitu product, price, place, dan promotion.

Untuk bisnis kuliner, jelasnya, kita harus bisa memenuhi 4P itu. Product, kualitas produk harus diperhatikan, seperti citarasanya harus bagus. Price, harga harus layak, tidak harus murah. Place, lokasi, pensiunan biasanya punya lokasi dulu yang umumnya dibeli saat masih aktif.

“Jadi pensiunan tersebut harus menyesuaikan, kira-kira lokasi yang dia miliki itu yang paling tepat membuka usaha kuliner tipe yang mana, apakah yang fungsional, life style, family atau traveller,” ujarnya.

Choiron tidak menampik adanya faktor keberuntungan dalam menjalankan usaha. Menurutnya, kesuksesan, baik penguasa maupun pengusaha,  adalah perpaduan antara keberuntungan dan kesiapan.

“Ibarat berburu celeng. Orang-orang yang berhasil adalah mereka yang siap, dan nasibnya bagus. Senjatanya siap, sudah berlatih menembak, ketika datang di lintasan intai, eh celengnya pas lewat. Maka orang itu akan mendapatkan buruannya,” jelasnya.

Tapi walaupun seseorang siap dengan senjata, tegasnya, tapi jika tidak ada celeng lewat ya tidak dapat hasil buruan. Sebaliknya ketika ada beberapa celeng lewat, tapi kita tidak siap, ya nggak dapat celeng juga.

“Keberuntungan, luck, atau hoki, menurut saya bukanlah klenik. Saya membuka beberapa usaha, pindah rumah, mantu, dan lain sebagainya, tidak pernah menghitung hari pasaran,” pungkasnya. (Made Wirya)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here