Tidak Ada yang Bisa memastikan Kapan Vaksin Covid-19 Siap Digunakan

0
8
Ilustrasi pekerja medis sedang melakukan aktivitas di laboratorium. (Foto: Prasesh Shiwakoti @lomash_s)

gemahripah.co – Para peneliti di seluruh dunia berlomba untuk mengembangkan vaksin melawan Covid-19. Saat ini terdapat lebih dari 170 calon vaksin yang kini dilacak oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Seperti dilansir The Guardian, vaksin biasanya membutuhkan pengujian bertahun-tahun dan tambahan waktu untuk diproduksi dalam skala besar. Tetapi para ilmuwan berharap dapat mengembangkan vaksin virus corona dalam 12 hingga 18 bulan ke depan.

Vaksin adalah serupa virus, atau bagian dari virus, yang berperan melindungi dan  menstimulasi sistem kekebalan agar tubuh manusia bisa  mengembangkan antibodi. Vaksin harus mengikuti standar keamanan yang lebih tinggi daripada obat lain, karena diberikan kepada jutaan orang sehat.

Bagaimana vaksin diuji?

Pengujian vaksin hingga bisa digunakan untuk manusia harus melalui 4 tahapan. Pertama adalah pengujian pra klinis, uji klinis fase 1, uji klinis fase 2, dan uji klinis fase 3.

Dalam tahap pengujian pra-klinis, peneliti memberikan vaksin kepada hewan untuk melihat apakah mampu memicu respons imun.

Dalam uji klinis fase 1, vaksin diberikan kepada sekelompok kecil orang untuk menentukan apakah vaksin tersebut aman dan untuk mempelajari lebih lanjut tentang tanggapan kekebalan yang dipicu.

Pada fase 2, vaksin diberikan kepada ratusan orang sehingga para ilmuwan dapat mempelajari lebih lanjut tentang keamanan dan dosis yang tepat.

Pada fase 3, vaksin diberikan kepada ribuan orang untuk memastikan keamanannya (termasuk efek samping yang jarang terjadi) dan keefektifannya. Uji coba ini melibatkan kelompok kontrol yang diberi plasebo.

Menurut data dari WHO yang dilansir pada Senin (14/9/2020), ada  34 lembaga penelitian yang membuat vaksin corona, dengan melalui tahapan tersebut.

Lembaga penelitian itu di antaranya adalah University of Oxford/AstraZeneca, CanSino Biologics Inc./Beijing Institute of Biotechnology, BioNTech/Fosun Pharma/Pfizer, Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm, Moderna/NIAID, Sinovac, Osaka University/ AnGes/ Takara Bio, Kentucky Bioprocessing, Research Institute for Biological Safety Problems, Rep of Kazakhstan, dan University of Melbourne/Murdoch Children’s Research Institute.

Dari 34 lembaga penelitian tersebut, yang  mencapai fase 2 baru ada lima lembaga, yaitu: University of Oxford/AstraZeneca, CanSino Biologics Inc./Beijing Institute of Biotechnology, BioNTech/Fosun Pharma/Pfizer, Wuhan Institute of Biological Products/Sinopharm dan University of Melbourne/Murdoch Children’s Research Institute.

University of Oxford/AstraZeneca

Vaksin dari University of Oxford/AstraZeneca didapatkan melalui virus simpanse, yang disebut vektor vaksin. Vektor tersebut berisi kode genetik dari protein paku yang terdapat pada virus corona dan memicu respon imun yang kuat pada tubuh manusia. Vaksin ini sedang dalam uji coba fase 2/3 gabungan di Inggris dan kabarnya baru-baru ini telah memasuki uji coba fase 3 di Afrika Selatan dan Brasil.

University of Melbourne/Murdoch Children’s Research Institute

Murdoch Children’s Research Institute di Australia sedang melakukan uji coba fase 3 menggunakan vaksin tuberkulosis yang berusia hampir 100 tahun. Vaksin tersebut tidak dianggap melindungi secara langsung terhadap Covid-19, tetapi dapat meningkatkan respons imun non-spesifik tubuh. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here