Limbah Makanan di Skotlandia Menjadi Peyebab Lebih Banyak Gas Rumah Kaca daripada Plastik

0
17
(foto: Getty Image)

gemahripah.co – Jika Anda yakin bahwa sampah plastik menyumbang lebih besar dari perubahan iklim, maka Anda harus segera mengubah pendapat tersebut.  Menurut data dari Zero Waste Scotland, seperti dilansir oleh BBC, limbah makanan menjadi penyebab lebih besar dari perubahan iklim dibandingkan plastik.

Badan yang didanai pemerintah ini telah mendesak masyarakat untuk mengurangi jumlah makanan yang tidak diinginkan, yang mereka masukkan ke tempat sampah.

Ketika limbah makanan berakhir di TPA (tempat pembuangan akhir) membusuk, menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang paling merusak yang mendorong perubahan iklim.

Penelitian oleh Zero Waste Scotland menemukan bahwa 456.000 ton limbah makanan dihasilkan oleh penduduk Skotlandia pada tahun 2016. Dari jumlah tersebut, sekitar 224.000 ton di antaranya adalah sampah plastik.

Bekerjasama dengan Pemerintah Skotlandia, Zero Waste Scotland telah meluncurkan rencana aksi pengurangan limbah makanan. Hal tersebut dilakukan sebagai dalam upaya untuk mengurangi limbah makanan di Skotlandia, menjadi sepertiganya pada tahun 2025.

Menurut Gulland, Chief Executive Zero Waste Scotland, menggoreskan sisa lasagna, cincang atau salad dari piring Anda ke tempat sampah, benar-benar merusak planet ini. Karena ketika potongan-potongan pasta dan selada yang tidak  sempat Anda makan berakhir di TPA, mereka membusuk.

“Ketika mereka rusak, mereka memancarkan metana, yang berkali-kali lebih berbahaya dalam jangka pendek untuk iklim kita daripada karbon dioksida (CO2). Limbah makanan sebenarnya merupakan penyebab perubahan iklim yang lebih besar daripada plastik,” ujarnya.

Namun, Gulland mengungkapkan bahwa  masih penting untuk mengurangi limbah plastik, yang tetap menjadi “masalah yang sangat serius”. Ini juga menyebabkan kerusakan pada lingkungan dan satwa liar ketika dibuang dengan tidak tepat.

Zero Waste Scotland telah memperkirakan bahwa setiap rumah tangga Skotlandia dapat menghemat rata-rata £ 440 (sekitar Rp. 7,8 juta) setahun. Penghematan ini terjadi dengan mengurangi makanan yang  mereka boroskan.

Pengurangan tersebut bisa ditempuh dengan langkah-langkah, di antaranya adalah merencanakan makanan dan memanfaatkan saraba penyimpanan makanan, seperti freezer. Di samping itu dengan memanfaatkan  makanan yang tersisa.

Jumlah limbah makanan yang dikumpulkan di Skotlandia dan dikirim ke tenpat daur ulang limbah makanan khusus pada tahun 2016,  hanya sebesar 93.000 ton.  Sebagian besar sisanya dikirim ke TPA, sementara sekitar 150.000 ton dikirim ke ke rumah pengomposan, atau berakhir di pembuangan limbah setelah melalui saluran pembuangan dari wastafel dapur.

Zero Waste Scotland menghitung bahwa jejak karbon limbah makanan yang dikumpulkan dari rumah tangga Skotlandia tahun itu hampir tiga kali lipat dari sampah plastik. Limbah makanan itu  dikumpulkan dari rumah-rumah penduduk, dengan bobot sekitar 1,9 juta ton setara karbon dioksida (MtCO2e) dibandingkan dengan 0,73MtCO2e.

Pemerintah Skotlandia juga telah meluncurkan kampanye iklan baru, yang berjudul Food Gone Bad. Kampanye ini untuk membantu meningkatkan kesadaran akan dampak limbah makanan terhadap perubahan iklim dan cara menguranginya.

Seorang juru bicara pemerintah Skotlandia mengatakan, setelah deklarasi tentang darurat iklim global, pihaknya sedang meninjau berbagai kebijakan lintas pemerintah. Untuk memastikannya,  pemerintah bertanggung jawab dengan melakukan semua yang mereka bisa, untuk mendukung sektor publik, bisnis, masyarakat dan individu.

“Kami akan mendorong semua orang untuk mempertimbangkan apa lagi yang bisa kita semua lakukan untuk membantu mengurangi limbah makanan,” ungkapnya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here