Krisis Fosfor

0
93

gemahripah.co – Dalam pertanian modern, secara historis penggunaan pupuk telah berhasil meningkatkan produktivitas pertanian dunia. Salah satu unsur hara makro pada pupuk yang lazim diberikan ke tanaman adalah Fosfor atau Phosphorus (P).

Fosfor berperan dalam pembentukan batang, bunga dan buah, sehingga dibutuhkan oleh semua jenis tanaman. Pierre Becker menyebutkan bahwa fosfor adalah pembentuk DNA dan tulang serta mengontrol perubahan energi di tingkat sel. Hal ini menyebabkan fosfor menjadi unsur kimia yang selalu dibutuhkan dan posisinya tidak bias digantikan oleh unsur apapun.

Fosfor diperoleh makhluk hidup melalui makanan. Fosfor masuk ke dalam rantai makanan pada saat tanaman menyerap fosfor yang tersedia di tanah. Sebagian besar fosfor dalam pertanian modern berasal dari pupuk fosfat, yang diaplikasikan oleh petani pada berbagai komoditas pertanian.

Pupuk fosfat diperoleh melalui pertambangan batuan fosfat dan sumber organik lainnya seperti kotoran manusia, kotoran unggas dan kotoran burung. Penggunaan sumber organik fosfor sebagai pupuk telah banyak dipakai berbagai petani diseluruh dunia pada masa lalu.

Penemuan teknologi proses pengolahan fosfat menjadi pupuk, merupakan jawaban atas meningkatnya permintaan fosfat. Di mana peningkatan permintaan fosfat tersebut sejalan dengan tren peningkatan kebutuhan pangan, yang berbanding lurus dengan perkembangan penduduk dunia. Sementara  pasokan fosfat yang berasal dari sumber organik sudah tidak lagi mencukupi.

Menurut Chris Earl, pada tahun 1857 ditemukan teknologi pengolahan fosfat. Penemuan ini merupakan tonggak dimulainya industri pupuk fosfat, yang produksinya jauh lebih besar dibandingkan dengan fosfat dari sumber organik. Ekses dari  produksi pupuk fosfat dalam skala industri, menyebabkan terjadinya eksploitasi besar-besaran  batuan fosfat.

Walaupun sangat penting, sumber atau deposit batuan fosfat ternyata tidak terbagi secara merata di semua negara. Astanto Kasno menyebutkan bahwa deposit dan produksi batuan fosfat dunia terkonsentrasi di empat negara, yaitu Maroko, Amerika Serikat, Rusia dan China. Peneliti dari Balai Penelitian Tanah itu mengungkapkan, keempat negara tersebut bahkan memegang porsi sebesar 74.8% produksi batuan fosfat dunia.

Dana Cordell, Peneliti dari University of Technology Sidney menyampaikan, pembentukan batuan fosfat membutuhkan waktu antara 10-15 juta tahun. Petr Ptacek, peneliti dari University of Brno, Republik Ceko, memperkirakan bahwa fosfor yang telah ditambang dapat kembali menjadi batuan fosfat dalam waktu 50.000 tahun. Dengan demikian batuan fosfat bisa dikategorikan sebagai komoditas terbatas dan tidak dapat diperbaharui (non-renewable).

Dana Cordell memprediksi  puncak produksi ini akan terjadi  pada kisaran tahun 2025-2100. Dengan  jumlah yang terbatas dan tidak dapat dipebaharui namun terus ditambang, batuan fosfat berpotensi akan habis.

Kurva Model Produksi Fosfor (Dana Cordell)

Penurunan produksi batuan fosfat jika tidak diimbangi dengan berbagai upaya mitigasi, dapat berunjung pada terjadinya krisis fosfor pada masa mendatang. Krisis fosfor dapat berimplikasi pada terjadinya krisis pangan di masa mendatang. Krisis pangan akan memicu malnutrisi, kematian, peperangan dan berbagai tragedi kemanusiaan.

Gejala terjadinya krisis fosfor berakar pada satu, fosfor tak tergantikan dan dibutuhkan oleh semua makhluk hidup. Dua, Sebagian besar fosfor berasal dari batuan fosfat yang terbatas dan tidak dapat diperbaharui. Tiga, Produksi batuan fosfat terkonsentrasi di 4 (empat) negara dan bergantung pada kebijakan negara tersebut. Empat, tren permintaan batuan fosfat naik sejalan dengan tren kebutuhan pangan dunia.

Bagaimana cara mencegah krisis tersebut? Salah satunya adalah dengan mengefisienkan aplikasi pupuk fosfat.  Sebenarnya aplikasi pupuk fosfat saat ini sudah cukup efisien. Food and Agriculture Organization (FAO) memperkirakan bahwa 90% fosfor dari pupuk terserap tanaman, namun penggunaannya harus tetap dijaga agar efisien.

Untuk meningkatkan efisiensi penggunaan fosfor, bisa dengan cara mengaplikasikan pupuk hayati yang mengandung bakteri pelarut fosfor. Bakteri pelarut fosfor akan melarutkan fosfor yang terikat di tanah sehingga mudah untuk diserap tanaman. Contoh Pupuk hayati yang memiliki keunggulan ini adalah Petro Biofertil, pupuk hayati yang diproduksi oleh PT Petrokimia Gresik.

Cara lain untuk memitigasi krisis fosfor ini adalah melakukan penambangan batuan fosfat secara lebih efisien, menggunakan pupuk fosfat secara tepat dan melakukan penelitan lanjutan untuk memperoleh fosfor dari sumber lain. (Fajar Primazona / Sumber foto:  International Fertilizer Association)

Referensi:

  1. Pierre Becker, Phosphate and phosphoric acid, 1989
  2. Dana cordell, Peak Phosphorus: the sequel to Peak Oil (http://phosphorusfutures.net/the-phosphorus-challenge/peak-phosphorus-the-sequel-to-peak-oil/)
  3. Dana cordell , The Story of Phosphorus: 7 reasons why we need to transform phosphorus use in the global food system (http://phosphorusfutures.net/the-phosphorus-challenge/the-story-of-phosphorus-8-reasons-why-we-need-to-rethink-the-management-of-phosphorus-resources-in-the-global-food-system/)
  4. Petr Ptacek, Apetites and Their Synthetic Analogues, Intech Open, 2016
  5. Astanto Kasno dkk, “Deposit, Penyebaran dan Karakteristik Fosfat Alam”, Buku Fosfat Alam, Balittan Kementrian Pertanian RI.
  6. thomsonreuters.com how will we fill 9 billion bowl in 2050
  7. FAO, Efficiency of soil and fertilizer phosphorus use, 2008
  8. Chris Earl, Phosphoric Acid Technology-History, Evolution and Future Perspective. 2011

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here