Kiprah Agus Nugroho,  Peraih Juara 1 Petani Berprestasi dari Temanggung

0
61
(foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Pada pembukaan Soropadan Agrifood Expo 2019 di Temanggung, Kamis (4/7/2019), Agus Nugroho mendapatkan penghargaan sebagai juara satu petani berprestasi. Penghargaan itu langsung diserahkan oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Mengingat kiprah petani muda kelahiran 2 November 1981 itu dalam bidang yang ditekuninya, penghargaaan tersebut pantas diterimanya.

Di tangannya, Kelompok Tani Sri Rejeki Dua beberapa kali mendapat penghargaan, baik tingkat regional maupun nasional. Di tangan dingin lelaki energik ini pula, poktan dari Desa Glapansari, Kecamatan Parakan, Temanggung tersebut, menjadi produsen benih bawang putih dengan omzet miliaran rupiah.

Baca juga: Sri Rejeki Dua, Poktan dengan Omzet Miliaran Rupiah

“Saya lahir dan tumbuh besar dari keluarga petani di Desa Glapansari. Saya mencintai dunia pertanian. Orang tua Saya menghidupi keluarganya dari hasil bumi, dan Saya menjadi seperti sekarang ini juga karena hasil bumi,” ujar suami dari Nur Afifah itu.

Selain membudidayakan beberapa komoditas, sejak tahun 2016 Agus  menjadi produsen benih bawang putih. Awalnya pernah rugi sebesar Rp. 70 juta, tapi bapak dua anak ini pantang menyerah meskipun saat itu modalnya ludes.

“Ketika modal habis, ada seseorang yang mengaku bernama Herry dari Malang, Jawa Timur, menawarkan modal Rp. 300 juta tanpa agunan. Tentu saja semula Saya ragu apakah orang ini serius atau hanya main-main. Dia minta kiriman 11 ton benih bawang putih dalam waktu 5 bulan sebagai gantinya,” ujar Agus.

Bawang putih yang dibeli Hery tersebut, selain ditanam sendiri juga dijual ke pihak ketiga. Belakangan Agus baru tahu, ternyata koleganya itu pebisnis hasil bumi di kota berhawa sejuk itu. Kemitraan mereka pun berjalan hingga saat ini.

“Meskipun Mas Hery sudah beberapa kali ke Temanggung, tapi Saya sekalipun belum pernah berkunjung ke Malang. Kenapa dia percaya pada Saya, mungkin dia tahu bahwa Saya pernah menjadi champion cabai sejak tahun 2015,” paparnya.

Champion, kata Agus, adalah petani juara yang dipilih dan dibina oleh Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian. Tugasnya untuk mendampingi petani binaan yang mendapat bantuan sarana produksi (saprodi) dari APBN, di daerah asal masing-masing. Jika ada gejolak harga komoditas hortikultura, para petani binaan tersebut diminta untuk ikut membantu operasi pasar.

Saat ini Agus mengelola lahan dengan luas 5 hektar, yang ditanami tembakau dan bawang putih. Untuk lahan bawang putih dilakukan secara tumpangsari dengan cabai. Sejak dua tahun terakhir dia menerapkan proses vernalisasi untuk benih bawang putihnya.

“Vernalisasi adalah proses pematahan dorman (masa tidur biji atau umbi). Biasanya untuk siap dijadikan benih, bawang putih membutuhkan waktu sekitar 5 bulan. Tapi dengan vernalisasi cukup dibutuhkan waktu 2 bulan saja, sudah siap tanam,” tegasnya.

Proses vernalisasi, jelas Agus,  dengan cara memasukkan bawang putih ke ruang pendingin, bisa cold storage atau peti kemas berpendingin, selama 3 – 4 minggu. Lamanya proses tersebut tergantung dengan kadar air bawang putih yang akan dijadikan benih, dan suhu di luar cold storage.

“Vernalisasi pada benih bawang putih ini sebenarnya tanpa sengaja. Suatu ketika iseng Saya menyimpan benih bawang putih di kulkas. Setelah Saya dikeluarkan ternyata tunasnya tumbuh lebih cepat,” katanya.

Selain mempersingkat waktu, Agus mengakui bahwa vernalisasi bisa mengurangi bobot benih bawang putih. Jika dengan cara konvensional bobotnya bisa susut antara 60 – 70%, dengan proses vernalisasi hanya susut 40 – 50%.

“Apalagi jika prosesnya dilakukan saat bawang putih sudah kering, hanya menyusut sekitar 4% saja. Dengan demikian saya berani beli ke petani  dengan harga lebih mahal, dan dijual ke konsumen dengan harga lebih murah dari harga pada umumnya. Karena tingkat penyusutannya kecil,” jelas Agus.

Kendalanya adalah pada mahalnya sewa cold storage. Untuk kapasitas 60 ton, Agus harus menyewa gudang di Semarang dengan harga Rp. 70 juta per bulan.

“Rencanaya Saya akan membuat cold storage sendiri dengan kapasitas 50 ton. Untuk membuat cold storage, daya yang dibutuhkan di atas 10 ribu watt. Belum lagi biaya pengajuan ijin dan jaringan kabelnya. Semoga rencana ini akan terwujud tahun ini,” pungkasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here