Darmaji, Petani Tua dari Brondong yang Masih Gesit Mengolah Lahan

0
87

sahabatpetani.com – Lelaki tua itu menyambut kedatangan kami dengan ramah, kemudian mempersilakan masuk ke ruang tamunya.  Di dinding ruang tamu yang cukup lebar itu terpampang  dua foto pasangan muda dengan ukuran 10 R berbingkai putih.  Lampu gantung antik tergantung tepat di atas meja yang dikelilingi kursi kayu berukir dengan jok busa berlapis kulit sintetis.

“Itu foto-foto dua anak perempuan saya yang baru saja menikah. Mereka tinggal di Surabaya dan Tuban. Dua-duanya lulusan akademi perawat di Tuban,” ujarnya membuka oboralan pada siang itu. Sesekali diusap keringat yang masih tersisa di leher dan keningnya. Panas udara pesisir benar-benar menusuk kulit.

Darmaji nama lelaki yang masih terlihat gesit dalam usia yang sudah tidak muda lagi itu. Dia petani sekaligus petambak yang tinggal Sidomukti, Kecamatan Brondong, Lamongan. Bapak 3 anak ini mengaku mulai belajar bertani dan mengelola tambak sejak lulus dari sekolah menengah pertama.

Lahan seluas 3 hektar yang terletak  di Brondong dan Tuban yang dikelolanya, merupakan warisan dari bapaknya. Dari total luas tersebut, 1 hektar yang terletak di Brondong dimanfaatkan untuk lahan pertanian yang ditanami jagung, kacang tanah, cabai, dan padi secara bergantian. Lahan 2 hektar yang terletak di Tuban, digunakan untuk budidaya ikan dan tambak garam.

“Setelah lulus SMP tahun 1972 Saya diajak Mbah Kakung (Kakek) untuk mengerjakan sawah, ladang, dan tambak. Sebab bapak sudah meninggal sejak Saya berumur 6 tahun,” kenangnya. Pandangan matanya menerobos jendela kaca, menatap jalan depan rumah yang lengang. Dia mencoba merajut kepingan-kepingan peristiwa masa lalu.

Darmaji lahr dari keluarga petani dan petambak, mulai dari kakek buyut hingga bapaknya. Dia melanjutkan tradisi itu hingga kini, dengan belajar secara otodidak, menimba ilmu dari kakek, dan petani maupun petambak di desanya.

Menurut Darmaji, ketika seseorang memutuskan menjadi petani atau petambak hendaknya jangan takut rugi. Sebab resiko mengalami kerugian sudah biasa dialami oleh petani maupun petambak. Misalnya saja saat membudidayakan udang, dia pernah mengalami kerugian hingga mencapai Rp. 90 juta.

“Tapi Saya tidak kapok, jika rugi terus berhenti menjadi petambak, lantas bagaimana nasib tambak Saya? Selain mencintai profesi sebagai petani dan petambak, Saya tidak kepikiran untuk beralih ke profesi lain? Maka apapun yang terjadi, Saya tetap menjalaninya,” ujar lelaki kelahiran 19 Agustus 1958 ini.

Bapak tiga anak ini juga mengaku pernah beberapa kali mengalami kerugian saat melakukan budidaya di lahan pertaniannya. Dia pernah rugi karena padi di sawahnya diserang hama. Suatu ketika panen cabai berhasil, dibiarkan membusuk di lahan. Hal ini dilakukan karena saat itu harga cabai terjun bebas.

“Jika hasil pertanian rugi bisa ditutup dari keuntungan hasil tambak, baik tambak ikan maupun garam. Dan sebaliknya, jika tambak merugi bisa ditutup dengam hasil pertanian. Dengan demikian Saya bisa menghidupi anak istri, menyekolahkan dua anak hingga perguruan tinggi. Satu anak Saya masih duduk di SMA,” paparnya.

Dengan lahan pertanian tadah hujan, Darmaji hanya menanam padi sekali dalam setahun. Hasil panennya lumayan bagus, bisa mencapai 6,5 ton per hektar. Hasil ini  jauh di atas panen sebelumnya yang hanya mencapai 4 hingga 5 ton perhektar.

“Peningkatan panen padi tidak lepas dari  peran pupuk majemuk, yaitu dengan mengaplikasikan PHONSKA dan SP-36. Sebelumnya Saya tahunya hanya pupuk urea saja. Dan karena sawah tadah hujan, Saya harus menanam padi saat curah hujan mencukupi,” akunya.

Suatu ketika ada petugas dari Petro yang menawarinya untuk melakukan uji coba Petro-Cas. Karena ingin hasil panen jagung meningkat, Darmaji menyetujuinya. Kebetulan dia akan mengolah lahan untuk persiapan menanam jagung di lahan seluas 1 hektar.

Setelah dilakukan uji tanah di lahannya oleh pihak PG, diketahui bahwa salinitas (tingkat keasinan) memang cukup tinggi. Menurut Darmaji, saat itu staf dari PG menyampaikan bahwa dengan salinitas yang tinggi, hasil panen jagung tidak bisa maksimal. Solusinya adalah dengan mengaplikasikan Petro-Cas, pembenah tanah yang mengandung kalsium tinggi.

“Menurut keterangan staf dari Petro, tingkat salinitas di lahan Saya bisa diturunkan dengan mengalikasikan Petro-Cas. Saya menurut saja, karena ingin panen jagung lebih meningkat,” akunya.

Lahan jagung yang diujicoba saat itu, terang Darmaji, seluas 1.400 m2. Aplikasi Petro-Cas dilakukan setelah olah lahan selesai. Dua minggu kemudian, setelah hujan turun, Darmaji mulai menanam benih. Setelah jagung berumur 15 hari, dia mengaplikasikan SP-36 dan Urea. Disusul kemudian aplikasi PHONSKA dan Urea  saat jagung berumur 30 hari.

“Hasilnya ternyata di luar dugaan. Batang jagung lebih tinggi, daun lebih lebar dan hijau, ketinggian tanaman jagung relatif rata, dan tongkol dua kali lebih besar dari hasil panen di lahan sekitarnya,” ujar Darmaji sambil tersenyum.

Tentu saja petani sepuh itu puas dengan perkembangan usaha taninya. Dia semakin yakin, bahwa jika dikelola dengan sungguh-sungguh dan dikerjakan dengan cara yang tepat, usaha tani bisa memperoleh hasil yang lebih bagus. Hanya saja dia prihatin melihat menurunnya minat anak-anak muda untuk melakukan usahatani.

“Bahkan anak ragil Saya pun tak hendak menjadi petani. Dia malah bercita-cita ingin menjadi polisi. Entah siapa nanti yang akan menggarap lahan seluas ini, jika Saya sudah tidak kuat lagi,” keluhnya. Mata petani tua  itu menerawang jauh. Diambilnya nafas dalam-dalam dan dihembuskan dengan pelan. Sementara matahari merayap pelan menuju cakrawala Barat. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here