Ketika Perut Lapar tapi Tidak Ada Makanan Tersaji

0
31

oleh: Hendro Prastowo *)

(Foto: Thought Catalog @thoughtcatalog)

gemahripah.co – Saya akan bercerita tentang sebuah pengalaman dalam kehidupan rumah tangga. Pengalaman tentang makanan rumahan. Mungkin pengalaman yang tidak bermutu, tetapi siapa tahu ada gunanya.

Selama berumah tangga, saya jarang makan di luar rumah. Karena saya  termasuk tipe suami yang suka makan di rumah.

Bermula ketika saya masih tinggal dengan orang tua. Di mana selama belasan tahun saya lebih banyak merasakan masakan ibu. Sehingga secara tidak sadar citarasa masakan itu demikian melekat di lidah.

Menurut saya, makanan terenak di dunia adalah masakan ibu.Mungkin banyak orang merasakan apa yang saya alami.

Maka pada awal berumah tangga, saya berharap istri saya bisa memasak makanan selezat yang dimasak ibu. Dan makanan selalu tersaji tepat waktu, manakala saya lapar dan ingin segera makan.

Tapi kenyataan seringkali tidak seperti yang kita harapkan. Saya pernah merasa kecewa karena masakan istri jauh di bawah standar yang sudah terlanjur dibuat lidah saya.

Suatu ketika saya harus bekerja lembur hingga jam 7 malam.  Saya sengaja tidak membeli makanan di luar, meskipun merasa lapar karena sudah saatnya makan. Saya hanya ingin makan malam di rumah yang sudah disiapkan oleh istri.

Dalam perjalanan pulang, saya membayangkan masakan lezat yang sudah tersaji di meja makan. Dalam kondisi sangat lapar, betapa nikmatnya menyantap makanan buatan istri tercinta.

Saya berencana, sesampai di rumah akan mencium istri sambil mengucapkan terima kasih. Romantis. Maklum masih suasana pengantin baru.

Tapi begitu masuk rumah, bayangan indah itu langsung bubar. Saya melihat di meja makan tidak ada makanan terhidang. Bergegas saya menuju dapur, barangkali dia sedang bersiap menghidangkan makanan.  Ternyata istri masih memotong-motong sayuran. Duh!

Saya tahu, dia begitu ingin  membahagiakan suaminya. Dia berharap ketika suaminya sampai rumah, langsung bisa menikmati masakan yang masih hangat. Tapi entah bagaimana ceritanya, dia baru mulai masak pada saat perut saya sudah demikian lapar.

Anda bisa bayangkan ketika kelaparan berada pada puncaknya, dan sudah membayangkan akan menikmati masakan seenak masakan ibu, tapi kenyataan berbicara lain. Saya masih harus menunggu beberapa saat lagi. Situasi ini membuat emosi saya meletup. Seketika selera makan saya nyaris mencapai titik nadir.

Celakanya, ketika masakan sudah terhidang, makanan yang dimasak istri tidak selezat masakan ibu. Tapi syukurlah saya masih diberi kemampuan untuk mengendalikan emosi.

Masalah makanan yang terlambat disajikan dan kelezatannya tidak sesuai ekspektasi, adalah hal sepele belaka. Tidak bijak rasanya jika hanya masalah remeh-temeh ini kami harus bertengkar.

Toh istri saya sudah punya niat untuk memasak buat saya. Saya yakin dia sudah mempersiapkannya sejak awal. Mulai dari berpikir akan masak apa, bagaimana meracik bumbunya, hingga belanja ke pasar, tentulah membutuhkan energi.

Saya yakin dia ingin menyenangkan saya, hanya saja manajemen waktunya yang kurang pas. Dia juga harus banyak belajar bagaimana cara memasak agar menghasilkan makanan yang lezat. Maklum rumah tangga baru.

Jika makanan terlambat hanya berbilang puluhan menit saja kita marah-marah, rasanya malu dengan saudara-saudara kita yang sedang terkena bencana.

Panduduk yang mengalami bencana kelaparan di Yahukimo, Papua, misalnya. Mereka kadang harus menunggu lama untuk mendapatkan jatah makannya.

Bagi korban bencana alam yang berada di barak-barak pengungsian, seperti korban gempa di Lombok, NTB, atau di Palu, Sulawesi, masalah  terlambat makan menjadi tidak penting lagi. Bagi mereka, masih bisa makan setiap hari jauh lebih penting.

Maka ketika saya ada masalah seputar makanan, saya akan selalu ingat  suasana di daerah bencana. Dengan demikian, saya bisa mengendalikan emosi, agar pertengkaran  dengan istri bisa dihindari. Semua tergantung bagaimana cara mengendalikan pikiran kita. (***)

*) Penulis tinggal di Gresik, waktu senggangnya banyak dihabiskan untuk membaca dan belajar menulis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here