Antara Mobil Futuristik dan Desa Tanpa Listrik

0
114
Mobil futuristik Tesla Model 3. (Foto: Vlad Tchompalov @tchompalov)

Oleh: Banter Laksana Bayu

gemahripah.co –  Ferrari dijadikan salah satu simbol tingginya sebuah strata sosial.  Sampai-sampai, julukan “tajir melintir’ hanya pantas disematkan bagi mereka yang mampu memiliki  mobil legendaris asal Maranello, Italia itu.

Tapi Tesla tidak kalah cerdas dalam strategi pencitraan mobil listriknya. Pengguna mobil futuristik keluaran Tesla, mendapat label sebagai ‘kaum borjuis’ yang peduli lingkungan. Karena dianggap berkontribusi dalam mengurangi jumlah polusi udara.

Mungkin di masa depan. Ukuran status sosial masyarakat dilihat dari seberapa besar keberpihakannya terhadap lingkungan.

Dengan kata lain, tingginya strata sosial tidak lagi didongkrak oleh kemewahan dan mahalnya barang yang digunakan atau dimiliki. Fenomena tersebut mungkin saja terjadi.

Data dari Electric Vehicle Outlook 2020 yang dirilis BloombergNEF, menunjukkan bahwa lebih dari 500.000 bus, hampir 400.000 mobil pengirim barang, truk, hingga 184 Juta skuter, motor roda dua dan sepeda, tercatat sebagai kendaraan listrik yang sudah on the road di seluruh dunia pada tahun 2020.

Angka-angka tersebut seolah ingin menjelaskan bahwa tren pasar otomotif dapat berubah drastis secara global.

Isu lingkungan akan mempengaruhi  perilaku konsumen secara bertahap dan terus menerus. Lambat laun, setiap konsumen akan berpikir mengenai dampak terhadap lingkungan dari setiap produk yang dipilih.

BloombergNEF memprediksi, jumlah permintaan kendaraan listrik akan terus meningkat. Diperkirakan penjualan kendaraan listrik akan meningkat sebesar 10% pada tahun 2025 dan meroket hingga 58% di 2040.

Lalu bagaimana dengan Indonesia? Sebetulnya keseriusan menggarap mobil listrik dalam negeri sudah dimulai lebih dulu ketimbang Tesla.

Justru pada masa krisis ekonomi tahun 1997, LIPI sudah mengembangkan mobil listrik untuk digunakan di kalangan terbatas.

Selanjutnya pada 2013 ada Selo, mobil listrik yang digagas Dahlan Iskan yang pernah gagal uji emisi dan sempat menjadi barang sitaan Kejaksaan Agung.

Walaupun banyak lika-liku, tahun 2014 Indonesia berhasil mempunyai mobil listrik yang berpelat nomor polisi dan ber STNK. Mobil tersebut menjadi kendaraan operasional Unit Pembangkit Listrik Gresik milik PT Pembangkitan Jawa Bali (PJB).

Semoga usaha pengembangan teknologi mobil listrik di Indonesia dapat terealisir. Meskipun ada pandangan yang menyatakan buat apa menghabiskan anggaran untuk mobil listrik, jika  hingga April 2020 masih ada  433 desa di empat Provinsi belum teraliri listrik. Provinsi tersebut adalah Papua, Papua Barat, NTT, dan Maluku. (***)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here