Tips Mengomposkan Limbah Rumah Tangga

0
28
(foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Limbah rumah tangga, utamanya di daerah perkotaan dengan tingkat kepadatan penduduk  sangat tinggi, jumlahnya semakin meningkat setiap hari. Sebagian besar limbah tersebut berupa berupa sampah organik, yang proporsinya bisa mencapai 78%. Sampah organik ini umumnya bersifat biodegradable, yaitu dapat terurai menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana, oleh aktivitas mikroorganisme tanah.

Salah satu cara mengurangi jumlah limbah rumah tangga  tersebut adalah dengan menjadikan pupuk organik (disebut juga dengan kompos).  Untuk menjadikan kompos, diperlukan pemilahan terlebih dahulu antara sampah organik dan anorganik. Untuk mengomposkan limbah organik dibutuhkan dekomkoser (pengurai).

Seperti dikutip dari laman litbang.pertanian.go, yang perlu diperhatikan dalam pembuatan kompos  dari sampah rumah tangga adalah komposisi bahan, reaksi kimiawi, tempat dan waktu yang menunjang pembuatan kompos. Saat pembuatan kompos, terjadi berbagai perubahan yang dilakukan oleh jasad-jasad renik. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh :

  1. Susunan bahan: bahan kompos dari campuran berbagai macam bahan tanaman, proses penguraiannya relatif lebih cepat daripada yang berasal dari tanaman sejenis.
  2. Ukuran bahan: semakin kecil ukuran bahan asalnya, semakin cepat proses penguraian bahan. Ukuran ideal potongan bahan mentah sekitar 4 cm. Jika potongan terlalu kecil timbunan menjadi padat sehingga tidak ada sirkulasi udara.
  3. Suhu optimal: pengomposan berlangsung optimum pada suhu 30 – 450 C.
  4. Derajat keasaman (pH): bahan baku kompos idealnya berkisar antara 6,5 – 8,0. Agar proses penguraian berlangsung cepat, pH dalam tumpukan kompos tidak boleh terlalu rendah (asam). Oleh sebab itu bahan kompos perlu ditaburi dengan kapur atau abu.
  5. Kandungan air dan oksigen (O2 ): yang ideal adalah 50-70%. Jika tumpukan kompos kurang mengandung air, bahan akan bercendawan. Hal ini merugikan, karena proses penguraian bahan berlangsung lambat, dan tidak sempurna. Aktivitas perombakan secara aerob memerlukan oksigen.
  6. Senyawa Nitrogen (N): semakin banyak kandungan senyawa nitrogen (N), semakin cepat bahan terurai karena jasad-jasad renik memerlukan senyawa N untuk perkembangannya.
  7. C/N-rasio: faktor paling penting dalam proses pengomposan adalah C/N-rasio. Hal ini disebabkan proses pengomposan tergantung dari kegiatan mikroorganisme yang membutuhkan karbon sebagai sumber energi dan pembentuk sel dan nitrogen untuk membentuk sel. Besarnya nilai rasio C/N tergantung dari jenis sampah.

Seperti disebutkan di atas, dalam proses pengomposan dibutuhkan dekomposer. Salah satu dekomposer yang banyak diaplikasikan saat ini adalah Petro Gladiator, baik cair maupun padat. Dekomposer tersebut diproduksi oleh PT Petrokimia Gresik.

Bagaimana cara dan aplikasi Petro Gladiator? Cukup mudah, hanya membutuhkan 4 langkah, yaitu: tumpuk, siram (tabur untuk Petro Gladiator padat), aduk dan peram.

Langkah 1: Tumpuk sampah rumah tangga organik yang sudah dicacah  (jika kondisi sampahnya kering, siram dengan air).

Langkah 2: Siram atau tabur tumpukan sampah tersebut  dengan 2 – 5 liter Petro Gladiator cair atau 2 – 5 kilogram Petro Gladiator padat,  untuk 1 ton bahan organik yang akan dikomposkan.

Langkah 3: Aduk hingga rata. Kemudian tutup dengan lembaran plastik atau terpal untuk mempertahankan kelembaban.

Langkah 4: Peram dan pertahankan kelembaban (40 – 60%), dengan cara disiram air jika tumpukan sampah rumah tangga tersebut mengering.

Untuk aerasi dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu: proses pembalikan seminggu sekali atau teknik ventilasi bambu/paralon yang telah dilubangi, kemudian dipasang dalam posisi baik horizontal, vertikal, maupun diagonal pada tumpukan kompos.

Proses pengomposan berlangsung lebih kurang 2 hingga 4 minggu. Kompos yang terlah jadi berwarna hitam kecoklatan, dengan tekstur remah dan tidak berbau busuk. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here