Peran Pasukan Jas Putih Kuba dalam Memerangi Virus Corona di Berbagai Negara

0
10
Para dokter Kuba saat upacara pelepasan sebelum diberangkatkan ke Kuwait untuk membantu mengatasi wabah COVID-19. (Foto: REUTERS / Alexandre Meneghini)
gemahripah.co – Pada awal wabah Covid-19, Togo menyambut tim yang terdiri dari 12 petugas kesehatan Kuba untuk merawat penderita virus di negara kecil yang terletak di Afrika Barat itu. Mereka membantu melakukan pengujian laboratorium dan meningkatkan protokol kesehatan.

Seperti dilansir Reuters, ketika banyak negara kekurangan tenaga medis untuk menghadapi  wabah tersebut, Kuba justru surplus dokter terlatih yang ditempatkan di luar negeri untuk memerangi penyakit mematikan itu.

“Saat banyak ilmuwan meraba-raba dalam kegelapan, teknologi kedokteran Kuba yang berakar dari pengalaman masa lalu, memberikan jawaban yang tepat,” kata Charles Azilan, Kepala Kerja Sama Kementerian Luar Negeri Togo.

Hampir 40 negara di 5 benua telah menerima tenaga medis Kuba selama terjadi pandemi. Hal ini tidak mengherankan, sejak tahun  1959 Kuba telah mengirimkan “pasukan jas putih” (julukan tim medis Kuba) ke lokasi bencana dan wabah penyakit di seluruh dunia atas nama solidaritas. Dalam dekade terakhir, mereka telah memerangi kolera di Haiti dan Ebola di Afrika Barat.

Bukan berarti kebijakan Pemerintah Kuba itu murni altruistik. Mereka juga telah mengekspor dokter dalam misi yang lebih rutin dengan imbalan uang tunai atau barang dalam beberapa dekade terakhir. Diekspornya tenaga medis tersebut  menjadikan mereka sebagai sumber devisa.

Memang tidak semua negara mendapatkan tenaga medis secara gratis selama pandemi, ada juga yang membayar. Hal ini membantu dalam memperkuat ekonomi Kuba setelah turunnya pemasukan dari sektor pariwisata yang disebabkan oleh wabah virus corona.

Kuba memiliki salah satu rasio dokter per kapita tertinggi di dunia. Sebelum pandemi melanda,  sekitar 28.000 tenaga medis dikerahkan ke seluruh dunia. Belakangan Kuba juga  mengirimkan tambahan 4.000 tenaga medis lagi.

“Mereka adalah penyelamat. Di beberapa negara Karibia, mereka merupakan tulang punggung dalam menghadapi pandemi,” kata Ralph Gonsalves, perdana menteri Saint Vincent dan Grenadines, dan Ketua Blok Karibia CARICOM.

Jamaika misalnya, menyambut 137 dokter dari Kuba pada Maret 2020, selain 296 dokter yang sudah berpraktik di sana.

“Tanpa mereka, akan jauh lebih sulit bagi kami,” kata Patricia Ingram-Martin, kepala perawat Jamaika.

Banyak negara yang berusaha untuk belajar dari penanganan Kuba dalam mengatasi pandemic. Seperti misalnya bagaomana cara mengisolasi kasus, melacak kontak mereka, menyaring penderita dan dengan cepat menerapkan perawatan terapeutik seperti interferon agen antivirus.

Sumber resmi pemerintah Kuba melaporkan, di negara dengan penduduk 11 juta orang tersebut hanya  terdapat 4.684 kasus dan 108 kematian sejauh ini. Jumlah tersebut hanya sepersepuluh dari rata-rata global per kapita.

Banyak dokter di berbagai negara yang berada di garis depan pertempuran melawan virus corona, merupakan lulusan sekolah kedokteran internasional Kuba di Havana. Sekolah tersebut telah melatih sekitar 30.000 orang asing. (Made Wirya)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here