Membuat Kompos dari Kulit Biji Kopi dan Kotoran Kambing

0
94

gemahripah.co – Akhir-akhir ini  semakin banyak petani yang menyadari tentang menurunnya kandungan bahan organik dalam tanah, yang berpengaruh pada tingkat kesuburan tanah. Untuk mengatasi hal tersebut, selain mengaplikasikan pupuk organik buatan pabrik, mereka juga mengaplikasikan pupuk organik buatan sendiri.

Pupuk organik yang dibuat sendiri oleh petani, biasanya berasal  dari limbah komoditas pertanian dan kotoran hewan, atau bisa juga kombinasi keduanya. Hanya saja tidak sedikit petani, utamanya petani horti, yang langsung mengaplikasikan kotoran hewan tanpa dikomposkan terlebih dulu.

Tentu saja pemanfaatan limbah kulit kopi dan kotoran kambing untuk pupuk sebaiknya  dikomposkan terlebih dahulu. Sebab kotoran hewan yang masih baru akan melepaskan senyawa nitrogen dan amonia. Apabila langsung diaplikasikan ke tanaman dapat membakar perakaran tanaman muda dan menghambat perkecambahan biji.

Selain berbahaya bagi pertumbuhan tanaman, ketika limbah tersebut  langsung diaplikasikan ke lahan, tidak dapat diserap langsung oleh tanaman. Karena kandungan haranya masih dalam bentuk yang tidak mudah tersedia oleh tanaman.

Pada beberapa daerah yang menjadi sentra perkebunan kopi, masih belum banyak petani yang menyadari bahwa limbah kulit kopi bisa dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Padahal kulit kopi dan kotoran kambing mengandung unsur hara makro yang dibutuhkan tanaman, seperti nitrogen, fosfor, kalium, dan C-organik.

Pemberian kompos bermanfaat untuk memperbaiki sifat fisik, kimia, dan  mengembalikan kesuburan tanah. Selain itu,  kompos menjadikan tekstur tanah menjadi lebih gembur, sehingga akar tanaman dapat lebih mudah melakukan penetrasi untuk penyerapan unsur hara.

Bagaimana cara untuk melakukan pengomposan dua limbah tersebut? PT Petrokimia Gresik (PG) melalui tim risetnya, beberapa kali melakukan sosialisasi dan praktek aplikasi pengomposan dengan menggunakan Petro Gladiator, dekomposer yang diproduksi oleh pabrik pupuk terlengkap di Indonesia itu.

Petro Gladiator  merupakan salah satu produk inovasi PG, yang bermanfaat untuk mempercepat proses pengomposan bahan organik. Petro Gladiator yang diproduksi dalam bentuk serbuk dan  cair itu, aman dan ramah lingkungan karena tidak mengandung bahan kimia.

Berikut cara pengomposan kulit biji kopi dan kotoran kambing dengan menggunakan Petro Gladiator serbuk atau cair:

  1. Menyiapkan alat & bahan dan membuat petakan sebagai tempat pengomposan
  2. Sebagai lapisan pertama kotoran kambing sebanyak 1 karung diratakan pada petakan lalu disiram dengan air yang telah dicampur dengan Petro Gladiator 0,5 liter.
  3. Lapisan kedua, kulit biji kopi 1 karung diratakan dan disiram dengan air yang telah dicampur dengan Petro Gladiator 1 liter. Untuk kulit biji kopi pemberian air lebih banyak karena kondisi bahan organik terlalu kering dan menyerap air.
  4. Lapisan ketiga, ditumpuk dengan kotoran kambing 1 karung dan disiram dengan air yang dicampur dengan Petro Gladiator 0,5 liter
  5. Tumpukan bahan organik ditutup dengan terpal dan setelah satu minggu dilakukan pembalikan dan pengamatan suhu dan kelembaban.
  6. Rata-rata bahan organik akan terkomposkan pada 2 – 4 minggu tergantung dari bahan organik yang dipakai (kandungan selulosa,lignin, dan C/N rasio).
  7. Ciri – ciri kompos yang telah matang dan siap diaplikasikan adalah; ketika digenggam tidak terasa panas atau hangat, C/N rasio 10 – 25, kadar air maksimal 50%,  baunya serupa bau tanah (tidak berbau busuk) , warna hitam kecoklatan, dan bersifat remah.

Petro Gladiator juga bisa diaplikasikan langsung pada lahan, atau lebih dikenal dengan istilah insitu. Caranya dengan mengaplikasikan Petro Gladiator serbuk maupun cair pada limbah panen. Limbah tersebut bisa berupa  jerami pada padi atau akar maupun batang kentang dan  tanaman hortikultura lainnya.

Dosis  yang direkomendasikan adalah 2 – 5 liter Petro Gladiator cair per hektar,  yang dilarutkan dalam air sebanyak 200 – 500 liter.  Larutan Petro Gladiator tersebut kemudian disiramkan secara merata dan dibiarkan selama  7 – 14 hari. Aplikasi  tersebut juga bisa dipraktekkan untuk mengkomposkan kotoran hewan secara insitu.

Kelebihan lain dari Petro Gladiator adalah kandungan jamur Tricodherma Sp.  Jamur saprofit tanah tersebut  bermanfaat untuk menanggulangi penyakit yang diakibatkan oleh patogen tular tanah, seperti penyakit busuk akar dan penyakit layu yang disebabkan oleh fusarium. (Neilla Nurilla)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here