Lebih dari  10% Penduduk Dunia Terjebak dalam Kemiskinan Ekstrem, Apa Penyebabnya?

0
25
(Foto: V Srinivasan @timesofwander)

gemahripah.co – Lebih dari 10% populasi dunia hidup dalam kemiskinan ekstrem. Mereka rata-rata bertahan hidup hanya dengan $ 1,90 (sekitar Rp27.500,-) per hari. Sementara banyak yang berpendapat bahwa kita tidak akan pernah bisa benar-benar menyingkirkan kemiskinan.

Menurut Kristin Myers dari United Nations Office for the Coordination of Humanitarian Affairs (OCHA), memang tidak ada solusi jitu, tetapi jika ingin menghilangkan kemiskinan ekstrem, kita harus terlebih dahulu memahami penyebabnya.

Myers mengungkapkan ada 7 penyebab terjadinya kemiskinan ekstrem, yaitu akses air bersih dan makanan bergizi yang tidak memadai, minimnya akses ke pekerjaan, konflik, buruknya pendidikan, perubahan iklim, minimnya infrastruktur dan  terbatasnya kemampuan pemerintah.

  1. Akses air bersih dan makanan bergizi yang tidak memadai

Saat ini, lebih dari 2 miliar orang tidak memiliki akses ke air bersih. Jika sumber air bersih tersedia, tapi lokasinya sangat jauh, utamanya di pedesaan yang tandus. Ini berarti masyarakatnya menghabiskan waktu berjam-jam menempuh perjalanan jarak jauh untuk mengambil air. Sehingga mereka kehilangan banyak waktu berharga yang seharusnya digunakan untuk bekerja, atau mendapatkan pendidikan  yang bisa menunjang masa depan mereka.

  1. Sedikit atau tidak ada akses ke mata pencaharian atau pekerjaan

Berkurangnya akses ke lahan produktif (seringkali karena konflik, kelebihan penduduk, atau perubahan iklim), dan eksploitasi berlebihan sumber daya seperti ikan atau mineral semakin menambah tekanan pada banyak mata pencaharian tradisional.

Di Republik Demokratik Kongo (DRC) misalnya, sebagian besar penduduk tinggal di komunitas pedesaan di mana sumber daya alam telah dijarah selama berabad-abad oleh kolonialisme. Saat ini lebih dari separuh penduduk negara tersebut hidup dalam kemiskinan ekstrem.

  1. Konflik

Konflik dapat menyebabkan kemiskinan dalam beberapa cara. Dalam skala besar, kekerasan berkepanjangan yang kita lihat di tempat-tempat seperti Suriah menghancurkan infrastruktur, dan menyebabkan orang melarikan diri, memaksa keluarga untuk menjual atau meninggalkan semua aset mereka.

Di Suriah, sekitar 70% dari seluruh populasi saat ini hidup di bawah garis kemiskinan. Perempuan sering menanggung beban konflik, di mana selama masa konflik, menjadi sangat umum para perempuan merangkap menjadi kepala keluarga.

Karena perempuan sering mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan bergaji baik dan biasanya tidak diberi wewenang mengambil keputusan, keluarga mereka sangat rentan terjebak kemiskinan.

  1. Pendidikan yang buruk

Masyarakat yang tidak mendapatkan pendidikan yang memadai, umumnya akan terjebak dalam kemiskinan ekstrem. Banyak keluarga tidak menyekolahkan anak-anak, karena tenaga anak-anak mereka dibutuhkan untuk membantu mencari nafkah. Selain itu juga banyak masyarakat yang berpendapat bahwa mereka tidak melihat manfaat dalam mendidik anak perempuan.

UNESCO memperkirakan 171 juta orang dapat diangkat dari kemiskinan ekstrem jika mereka memiliki keterampilan membaca. Dengan lebih banyak masyarakat yang terdidik, kemiskinan di dunia dapat dikurangi setengahnya.

  1. Perubahan iklim

Bank Dunia memperkirakan bahwa perubahan iklim memiliki kekuatan untuk mendorong lebih dari 100 juta orang ke dalam kemiskinan selama sepuluh tahun ke depan. Saat ini, peristiwa iklim seperti kekeringan, banjir, dan badai hebat  berdampak pada masyarakat yang sudah hidup dalam kemiskinan.

Hal itu terjadi karena banyak populasi termiskin di dunia bergantung pada pertanian atau berburu dan mengumpulkan untuk makan dan mencari nafkah. Mereka sering hanya memiliki cukup makanan dan aset untuk bertahan hingga musim berikutnya, dan tidak cukup cadangan untuk kembali jika panen buruk.

  1. Kurangnya infrastruktur

Kurangnya infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan sumur hingga listrik untuk penerangan, telepon seluler, dan internet, dapat mengisolasi masyarakat yang tinggal di daerah pedesaan. Hidup “di luar jaringan” berarti ketidakmampuan untuk pergi ke sekolah, bekerja, atau pasar untuk membeli dan menjual barang. Isolasi membatasi peluang, dan tanpa peluang, banyak yang merasa kesulitan untuk bisa keluar dari kemiskinan ekstrem.

  1. Terbatasnya kapasitas pemerintah

Banyak orang yang tinggal di Amerika Serikat akrab dengan program kesejahteraan sosial yang dapat diakses orang jika mereka membutuhkan bantuan kesehatan atau makanan. Tetapi tidak setiap pemerintah dapat memberikan jenis bantuan ini kepada warganya. Tanpa jaring pengaman tersebut, mereka akan terjebak dalam kemiskinan ekstrem.

Pemerintah yang tidak efektif juga berkontribusi pada beberapa penyebab kemiskinan ekstrem. Karena mereka tidak dapat menyediakan infrastruktur yang diperlukan atau memastikan keselamatan dan keamanan warga negara mereka jika terjadi konflik. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here