I Wayan Rata, memilih menjadi Petani setelah berkeliling dunia

0
70

gemahripah.co – Siang itu udara dingin dataran tinggi Bedugul menusuk tulang, meskipun Saya sudah mengenakan jaket tebal. Karena sudah berjanji sebelumnya untuk bertemu, Saya langkahkan kaki menuju ke rumah I Wayan Rata.

Pria yang akrab disapa Rata ini menyambut kami dengan hangat. Di pelataran rumahnya terdapat berbagai macam tanaman dalam pot. “Saya suka bereksperimen dan tertarik pada hal hal baru,” ungkapnya saat Saya menanyakan deretan tanaman yang berjajar rapi itu.

Ketertarikan Rata pada sesuatu yang baru itu tercermin dari berbagai profesi yang pernah dicobanya. Pria ini pernah menggeluti dunia perbankan sejak sejak tahun 1989. Pada tahun 2006, Rata bekerja sebagai anak buah kapal pesiar.  “Saya sudah mengunjungi berbagai negara di benua Eropa dan Australia pada saat menjadi pekerja kapal pesiar,” tuturnya.

Setelah lelah berkeliling dunia, Rata rindu untuk menetap di kampung halaman.  Melihat potensi  hortikultura di tanah kelahirannya, Rata  mencoba untuk bertani. Menjadi petani diakuinya memberikan ketenangan dan kebebasan yang selama ini diidamkan. Ia menanam selada, kentang dan jeruk di tepi Danau Beratan, Bedugul, Bali.

Pria yang mulai menjadi petani sejak tahun 2011 ini awalnya hanya menggunakan pupuk anorganik. Pengalamannya bekerja di berbagai bidang menjadinya petani yang berfikiran terbuka. Ia lalu mempelajari tentang pertanian organik dan menerapkannya.

“Tanah menjadi lebih gembur dan hasil panen menjadi lebih baik setelah saya konsisten memakai pupuk anorganik dan pupuk organik” ungkapnya. Rata mengaku masih menjadikan Petroganik sebagai pupuk organik pilihan utamanya.

Setelah berkenalan dengan pupuk organik, pria beranak dua ini mulai mencoba mengaplikasikan pupuk hayati. Berdasarkan pengalamannya, pupuk hayati menjadikan lahan lebih cepat untuk ditanami kembali dan hasil panen menjadi lebih baik.  Pupuk hayati tersebut diaplikasikan dengan kombinasi pupuk organik.

“Untuk pupuk hayati, Saya menggunakan Petro Biofertil. Pupuk hayati ini mengandung mikroba yang dapat mengikat unsur Nitrogen dan melarutkan unsur Fosfat dalam tanah. Hal ini menjadikan Petro Biofertil mampu meningkatkan efektivitas pemupukan secara menyeluruh,” ungkapnya.

Terhitung sudah sejak 3 tahun ini Rata mengaplikasikan Petro Biofertil. Karena puas dengan hasilnya, dia merekomendasikan pupuk hayati tersebut kepada keluarga dan rekan-rekan petani di sekitarnya. “Saya dan rekan-rekan  menghabiskan hingga 6 ton Petro Biofertil per semester,” paparnya.

Keberhasilan bertani dengan mengaplikasikan pupuk hayati dan pupuk organik, semakin memantapkan mimpinya untuk menggalakkan pertanian organic di lingkungannya. Menurut Rata, dengan pertanian organik, kondisi tanah bisa terjaga kesuburannya. “Tanah yang subur merupakan warisan yang kami persembahkan untuk generasi penerus,” tegasnya.

foto oleh Dennis Rochel di Unsplash.com

Matahari mulai bergeser ke sisi Barat. Lelaki kaya pengalaman itu mengajak kami berkeliling untuk melihat kebun yang dibanggakannya. Sesampai di kebun jeruknya yang lumayan luas itu, Saya ditawari  untuk mencoba jeruk yang ditanamnya. Jeruk hasil kebunnya benar-benar manis.  Dari kejauhan, terlihat kabut menyelimuti Pura Ulun Danu Beratan. Kami melanjutkan diskusi sambil menikmati pemandangan salah satu obyek wisata Bali yang sangat terkenal itu.

Baca juga di Pura Keren di Bali yang ada di Uang Rp 50 Ribu

Repoter: Fajar Primazona / Editor: Made Wirya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here