Arapaima, Ikan Terbesar di Lembah Sungai Amazon yang Terancam Punah`

0
18
Ikan arapaima yang ditangkap nelayan di lembah sungai Amazone. (Foto: © Sergio Ricardo de Oliveira)

gemahripah.co – Dengan panjang 3 meter dan berat lebih dari 180 kilogram, sulit membayangkan bahwa arapaima, ikan terbesar di lembah Sungai Amazon, terancam punah.

Sebuah survei yang dilakukan baru-baru ini terhadap komunitas nelayan di negara bagian Amazonas, Brasil, menemukan bahwa arapaima sudah punah di beberapa bagian di lembah Amazon. Di bagian lain Amazon, jumlahnya dengan cepat berkurang.

Namun, para peneliti juga mengungkap beberapa kabar baik, di wilayah di mana penangkapan arapaima diatur, spesies ini benar-benar berkembang. Hal ini memberi para peneliti harapan bahwa konservasi spesies masih dimungkinkan.

Seperti dilansir Live Science, arapaima (Arapaima gigas) adalah ikan air tawar terbesar di Amerika Selatan. Mereka memiliki kemampuan menghirup udara, karena paru-paru primitif yang dimiliki arapaima bersama dengan sistem insang yang memungkinkan mereka bernapas di bawah air.

Meskipun teknik pernapasan tambahan ini membantu arapaima bertahan hidup di habitat aslinya, menurut para peneliti justru kelebihan ini menjadi penyebab ikan tersebut  menjadi mudah ditangkap.

“Arapaima bertelur di tepi hutan dataran banjir dan muncul ke permukaan untuk bernafas setiap 5 hingga 15 menit. Sehingga mereka mudah ditemukan dan dipukul oleh nelayan,” kata Caroline Arantes, seorang mahasiswa doktoral dalam ilmu satwa liar dan perikanan di Texas A&M University di College Station, yang membantu melakukan penelitian.

Menurut Donald Stewart, profesor dari Universitas Negeri New York di Syracuse’s College of Environmental Science, dari lima spesies arapaima yang diketahui, tiga belum diamati di alam liar dalam beberapa dekade terakhir. “Kelima spesies mendominasi perikanan di Amazon hanya seabad lalu,” ujarnya.

Arapaima secara tradisional ditangkap oleh penduduk lokal secara liar, karena masih belum ada regulasi. Untuk mencari tahu bagaimana ketiadaan regulasi ini dapat mempengaruhi ikan raksasa, para peneliti mewawancarai nelayan lokal yang beroperasi di dataran banjir seluas 1.683 kilometer persegi di Brasil barat laut.

Menurut para peneliti, sebanyak  19 persen dari 81 komunitas penduduk lokal yang disurvei, arapaima ditemukan sudah punah. Di mana 57 persen di antaranya mendekati kepunahan, dan  17 persennya dieksploitasi berlebihan.

“Nelayan terus memanen arapaima terlepas dari kepadatan populasi yang rendah,” kata pemimpin studi Leandro Castello, asisten profesor perikanan di Sekolah Tinggi Sumber Daya Alam dan Lingkungan Virginia Tech, di Blacksburg.

Di komunitas di mana arapaima langka, nelayan setempat tidak lagi  berburu ikan dengan cara tradisional, seperti dengan tombak. Mereka menggunakan jaring untuk memanen ikan yang lebih kecil, termasuk arapaima yang masih muda. Sementara nelayan lokal menangkap arapaima yang lebih kecil juga dengan  jaring, hal ini menjadi penyebab semakin menipisnya populasi arapaima.

David McGrath, seorang peneliti di Earth Innovation Institute di San Francisco, menyampaikan, ada sisi terang dari kisah ikan yang menyedihkan ini. Di masyarakat yang telah menerapkan aturan penangkapan ikan, seperti memaksakan ukuran tangkapan minimum untuk arapaima dan membatasi penggunaan jaring insang, kepadatan arapaima  100 kali lebih tinggi dibandingkan dengan di tempat-tempat di mana tidak ada aturan seperti itu.

“Komunitas-komunitas ini mencegah kepunahan arapaima lebih lanjut,” kata McGrath.

Sayangnya, hanya 27 persen dari masyarakat yang disurvei memiliki aturan tersebut. Salah satu komunitas yang mengelola ikan ini, Ilha de São Miguel, melarang penggunaan jaring dalam dua dekade lalu. Saat ini di wilayah  tersebut memiliki kepadatan arapaima tertinggi. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here