Arab Saudi Memiliki Cukup Bijih Uranium untuk Bahan Bakar Nuklir

0
10
Ilustrasi daerah yang mengandung bahan radio aktif di Idaho, AS. (Foto: Dan Meyers @dmey503)

gemahripah.co – Dalam sebuah dokumen rahasia, terungkap bahwa Arab Saudi memiliki cukup cadangan bijih uranium yang dapat ditambang untuk membuka jalan bagi produksi bahan bakar nuklir dalam negeri.

Seperti dilansir The Guardian, ahli geologi dari Tiongkok berperan dalam penemuan kandungan uranium tersebut.

Para ahli itu membantu Riyadh untuk memetakan cadangan uranium, dengan kecepatan sangat tinggi sebagai bagian dari perjanjian kerja sama energi nuklir dua negara itu.

Terungkapnya penemuan tersebut, akan meningkatkan kekhawatiran tentang minat Riyadh dalam program senjata atom.

Para ahli geologi bekerja sepanjang tahun di bawah sengatan sinar matahari musim panas. Tujuannya untuk mengidentifikasi cadangan yang dapat menghasilkan lebih dari 90.000 ton uranium. Jumlah itu berasal dari tiga endapan utama di tengah dan barat laut negara tersebut.

Arab Saudi berambisi untuk mengekstraksi uranium di dalam negeri. Seorang pejabat senior menggambarkannya pada tahun 2017 sebagai langkah menuju “swasembada” dalam memproduksi bahan bakar nuklir untuk program energi.

Hasil survei tahun 2019 menunjukkan bahwa cadangan tersebut berpotensi menyediakan Arab Saudi bahan bakar untuk reaktor yang ingin dibangunnya, dan surplusnya untuk diekspor.

The Guardian tidak dapat secara independen memverifikasi keaslian laporan tersebut, yang disusun oleh Beijing Research Institute of Uranium Geology (BRIUG) dan China National Nuclear Corporation (CNNC), bekerja sama dengan Saudi Geological Survey.

“Jumlah sebenarnya mungkin akan melebihi apa yang dibutuhkan pembangkit listrik, atau beberapa pembangkit listrik,” kata Prof. Kip Jeffrey, dari University of Exeter.

Para ahli menyampaikan, jika Arab Saudi mampu menambang uranium yang cukup di dalam negeri, hal itu dapat memberi dorongan untuk membuat program senjatanya sendiri.

Ambisi Kerajaan Arab Saudi yang berkaitan dengan nuklir, telah menjadi  perhatian di kalangan Kongres AS dan sekutunya. Terutama sejak Putra Mahkota Mohammed bin Salman menyatakan pada tahun 2018, bahwa jika saingan regional Iran mengembangkan bom nuklir, pihaknya akan mengimbanginya secepat mungkin.

“Kami sedang mengobrol dengan mereka. Mereka tertarik untuk mengembangkan energi nuklir, untuk tujuan damai tentunya, ”kata kepala IAEA Rafael Grossi di Arab Saudi, pada Senin (14/9/2020), ketika ditanya tentang verifikasi.

Analis dari James Martin Center for Nonproliferation Studies (CNS) mengatakan tidak ada tanda dalam gambar satelit, bahwa penambangan telah dimulai di daerah yang diidentifikasi sebagai yang paling menjanjikan oleh ilmuwan China dan Saudi.

“Merupakabn hal penting untuk memantau situs-situs tersebut, karena  akan memberi kami indikasi yang jelas bahwa Arab Saudi bergerak maju dengan penambangan uranium,” kata Ian Stewart, kepala kantor CNS Washington.

Laporan pers AS baru-baru ini, mengutip pejabat AS, mengklaim bahwa Saudi telah membangun pabrik untuk memproses bijih uranium menjadi “kue kuning” yang lebih halus.

Langkah selanjutnya dalam siklus panjang yang diperlukan untuk membuat bahan bakar untuk reaktor atau untuk senjata nuklir. Tapi Stewart mengatakan di sana sejauh ini tidak ada bukti dalam citra satelit dari fasilitas semacam itu.

“Mengingat lokasi calon pabrik cukup jauh dari lokasi dugaan pabrik uranium, kami terpaksa mempertanyakan laporan tentang keberadaan pabrik itu,” kata Stewart.

Stewart menganggap tidak mungkin sebuah pabrik akan dibangun tanpa sumber bijih domestik. Dan pihaknya harus berasumsi bahwa satu-satunya sumber bijih adalah yang diidentifikasi dalam dokumen-dokumen ini.

“Jika pemerintah memiliki bukti, mereka perlu memberikan detail lebih lanjut agar kami menyimpulkan bahwa laporan tersebut akurat,” tegasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here