Kebakaran Hutan Hebat yang Dipicu oleh Perubahan Iklim dapat Menghancurkan Hutan di Seluruh Dunia

0
5
Kebakaran hutan di Portland, Oregon, Amerika Serikat, tahun  2018 (Foto: Karsten Winegeart @karsten116)

gemahripah.co – Kebakaran hutan di antara pinus Ponderosa dan cemara Douglas di Amerika Serikat sisi Barat, telah lama menjadi bagian dari siklus pembaruan alam, seperti halnya pergantian musim.

Seperti dilansir Reuters, perubahan iklim membuat wilayah tersebut lebih gersang, kebakaran hutan semakin sering terjadi dan semakin ganas. Para ilmuwan khawatir kobaran api  bisa melenyapkan sebagian hutan selamanya.

“Ketika Anda mendapatkan area yang luas ini terbakar, tidak ada pohon yang bertahan untuk ditanam kembali di area tersebut. Hal ini menyebabkan peralihan dari hutan ke tipe vegetasi lain, kebanyakan semak belukar dan padang rumput,” kata Jon Keeley, seorang ilmuwan peneliti dari U.S. Geological Survey.

Perubahan iklim yang memicu kebakaran hutan, telah menjadi perhatian banyak kalangan di seluruh dunia. Tahun ini, rekor kebakaran juga terjadi di Australia, Argentina, dan Arktik Siberia. Menurut beberapa ilmuwan, kebakaran di wilayah tersebut juga diperburuk oleh kondisi panas akibat perubahan iklim.

“Apa yang kami lihat pada kebakaran (hutan) di California dan tempat lain di seluruh dunia, menunjukkan bahwa  api benar-benar responsif terhadap perubahan iklim,” kata Jennifer Balch, ahli ekologi kebakaran di University of Colorado Boulder.

Apakah hutan tersebut dapat bertahan dari skenario kebakaran hutan yang lebih intens, akan bergantung pada dua masalah utama: seberapa sering api datang, dan seberapa panas mereka terbakar.

Kebakaran Hutan Memusnahkan Anakan Pohon Sebelum Tumbuh Dewasa

Kebakaran hebat tahun ini di Amerika Serikat melanda hampir 5 juta hektar hutan pada hari Minggu 20/9/2020). Saat ini, petugas pemadam kebakaran melihat peningkatan kasus kebakaran besar yang menelan hutan dari bawah ke atas melalui kanopi.

“Kebakaran bukanlah hal yang tidak wajar, tetapi jenis perilaku dan waktu, tempat, serta kondisinya yang sangat tidak biasa,” kata Timothy Ingalsbee, yang mengepalai Persatuan Pemadam Kebakaran untuk Keselamatan, Etika, dan Ekologi, sebuah organisasi yang berbasis di Oregon.

Jika kebakaran terlalu sering melanda hutan, akan memusnahkan anakan pohon yang belum sempat tumbuh dewasa. Panasnya api bisa mengubah area yang luas menjadi hamparan lahan tandus dan mematikan benih yang dibutuhkan untuk pertumbuhan baru. Perubahan iklim dapat memicu kondisi untuk kedua skenario tersebut.

Dalam laporan para peneliti di American Geophysical Union tahun lalu, di California terjadi kenaikan suhu rata-rata sebesar 1,4 derajat Celsius pada musim panas, sejak tahun 1970-an. Hal ini bertepatan dengan peningkatan lima kali lipat areal yang terbakar setiap tahun.

“Di beberapa daerah yang lebih panas dan kering, iklim telah bergeser ke titik di mana tidak lagi kondisi yang cocok untuk regenerasi pohon. Di daerah itu, begitu terjadi  kebakaran, pohon tidak akan tumbuh kembali,” kata Kimberley Davis, seorang ahli ekologi di Universitas Montana.

Menurut hasil penelitian Davis dan rekannya di Environmental Research Letters, selama 30 tahun ke depan di wilayah Pegunungan Rocky, perubahan iklim dan kebakaran hutan dapat menyusutkan kawasan pinus Ponderosa sebesar 16%, dan areal cemara Douglas sebesar 10%.

Di Australia Sistem Telah Hancur

Serangkaian kebakaran yang tidak biasa sering terjadi di Pegunungan Alpen tenggara Australia sejak 2003. Hal ini menyebabkan sistem hutan di sana runtuh, kata David Bowman, seorang ilmuwan kebakaran di Universitas Tasmania.

“Saat kami melakukan proyek penelitian, kebakaran lain terjadi, sehingga sistem menjadi rusak. Itu berubah dari kondisi hutan menjadi tidak berhutan. Jika tidak ada hutan, maka tidak ada pohon,” kata Bowman.

Siklus Umpan Balik di Arctik

Yang lebih mengkhawatirkan, kata para ilmuwan, adalah peningkatan nyata dalam kebakaran hutan di Kutub Utara Siberia, yang dapat mencairkan lapisan es dan melepaskan metana yang menghangatkan iklim.

Thomas Smith, ahli geografi di London School of Economics mengungkapkan, pengamatan satelit selama dua dekade terakhir menunjukkan seringnya terjadi kebakaran di hutan boreal Siberia. Peningkatan itu menjadi bukti telah terjadi perubahan pola kebakaran.

“Sangat sulit bagi ekosistem untuk beradaptasi dengan laju perubahan itu. Ini akan menjadi bencana dalam hal hilangnya karbon saat Anda berpindah dari hutan ke non-hutan. Dan itu adalah bagian dari siklus umpan balik positif ini,” jelasnya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here