Menikmati Kehangatan Teh dan Keindahan  “Kepahiang Mountain Valley” di Kabawetan

0
95
Kepahiang Mountain Valley merupakan destinasi wisata baru yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Kapahiang sejak tahun 2018. (Foto: Sukodim)

gemahripah.co – Sebagai staf penjualan perusahaan pupuk plat merah yang sering berpindah wilayah kerja, membuatku bisa menjelajahi beberapa daerah di Nusantara. Aku memiliki kesempatan bisa mengenal berbagai suku, adat istiadat, sosial, budaya, dan pesona alamnya.

Sore itu, aku baru saja pulang dari kunjungan ke kios di Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang. Matahari bergeser pelan mendekati cakrawala barat, tapi suasana masih terang.  Karena masih ada waktu, aku memutuskan untuk singgah sejenak ke “Kepahiang Mountain Valley” .

Kepahiang Mountain Valley merupakan destinasi wisata baru yang dikembangkan oleh Pemerintah Kabupaten Kapahiang  sejak tahun 2018. Kapahiang merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu. Selama ini aku hanya mendengar obyek wisata kebun teh tersebut dari cerita beberapa kawan. Karena saat itu kebetulan lewat, aku sempatkan untuk mampir.

Perkebunan teh di Kecamatan Kabawetan mulai dirintis sejak tahun 1914, pada era Hindia Belanda. Saat itu luasnya hanya 2.467 hektar, yang ditanami kopi dan teh. Seiring berjalannya waktu, kopi tidak bertahan, yang tersisa hanya tanaman teh. Penduduk sekitar perkebunan sebagian besar Suku Jawa. Karena saat itu Pemerintah Hindia Belanda mendatangkan tenaga kerja dari Jawa.

Saat ini total luas perkebunan teh di Kabawetan mencapai sekitar 900 hektar.  Dari Kota Bengkulu lokasinya tidak jauh, sekitar 65 km. Jika ditempuh dengan mobil, dibutuhkan waktu sekitar 2 jam.

Setelah memarkir mobil, kuayunkan kaki menyusuri  jalan setapak di antara rerimbunan tanaman teh. Hamparan tanaman teh itu serupa permadani hijau yang berlekuk mengikuti kontur tanah. Suasana demikian sepi, maklum bukan hari libur. Udaranya terasa menyegarkan saat masuk ke rongga paru-paru.

Di tengah hamparan permadani hijau itu terlihat tulisan “Kepahiang Mountain Valley”. Awalnya aku tergoda untuk langsung berfoto dengan latar belakang tulisan tersebut, tapi kuurungkan. Aku  harus mengeksplorasi keindahan obyek wisata ini terlebih dulu. Soal foto, nanti lah. Toh masih ada waktu.

Setelah menyusur beberapa puluh meter, aku menghentikan langkah kaki. Suasana demikian hening, hanya terdengar desau angin pancaroba. Waktu terasa berhenti. Ah! Aku merasakan sensasi yang luar biasa. Kelindan antara keheningan dan keindahan di kebun teh ini demikian kontemplatif.

Tetiba rintik hujan mulai berjatuhan. Aku mencoba menikmati tetes-demi tetes airnya. Bukankah hujan adalah irigasi langit? Bisa datang kapan saja tanpa diminta. Hujan adalah berkah bagi kehidupan, bagi petani, agar bisa menumbuhkan benih-benih yang ditanam. Tapi tentu saja harus dipupuk untuk menjaga kesuburannya.

Gerimis segera menjelma menjadi hujan deras. Aku mencari tempat berteduh. Setengah berlari aku menuju kedai yang terlihat dari kejauhan, melewati jalan setapak yang menjadi licin tersiram air hujan. Beberapa kali aku terpeleset dan hampir jatuh, tapi akhirnya sampai juga di depan kedai dengan nafas ngos-ngosan.

Penjualnya mempersilakan aku masuk dengan ramah. Karena udara semakin dingin, aku memesan  teh manis panas dan gorengan. Tidak lama kemudian teh panas dihidangkan. Aroma harum teh segera menguar di udara . Kuhirup teh panas itu untuk menghangatkan tubuh.

Segelas teh manis hangat dengan latar belakang hamparan tanaman teh di Kepahiang Mountain Valley. (Foto: Sukodim)

Perpaduan antara manis, harum, dan sedikit sepat itu terasa nikmat. Citarasa dan kesegarannya terasa berbeda dibandingkan dengan teh-teh yang pernah saya minum selama ini. Tubuhku menjadi lebih hangat.

Tidak hanya menghadirkan air agar tanaman teh tetap subur dan hijau, hujan juga menjadikan pucuk daun teh dalam gelas ini menjadi lebih nikmat. Ketika hujan mendinginkan udara sekitar kebun, teh panaslah yang menghangatkan tubuh.

Sambil menghirup teh hangat, aku melihat pemandangan di luar kedai.  Pucuk-pucuk tanaman teh itu bergoyang tertimpa air hujan. Entah ada berapa generasi yang pernah bekerja di perkebunan itu. Aku membayangkan bagaimana pahitnya nasib penduduk  pribumi  pada masa kolonialisme Belanda.

Sejarah teh tidak jauh beda dengan kopi,  memiliki masa kelam. Tanam paksa, kuli kontrak, dan keringat penduduk terjajah yang diperas untuk kejayaan Ratu Belanda.

Ketika hujan mulai reda, aku beringsut keluar kedai. Sebelum pulang, aku sempatkan mengambil beberapa foto. Aku ingin berkabar tentang keindahan “Kepahiang Mountain Valley”, yang meninggalkan jejak sejarah masa lalu itu. (Sukodim*)

*) Penulis adalah alumus Pertanian UB, saat ini menjadi staf penjualan Petrokimia Gresik untuk wilayah Bengkulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here