Mengaplikasikan Petrogladiator untuk Menekan Biaya dan Waktu Budidaya Ikan di Tambak

0
58

gemahripah.co – Kesibukannya sebagai guru SMK di Kecamatan Karanggeneng, Lamongan, tidak memungkinkan Mataji untuk membudidayakan ikan di tambak dengan teknik intensif maupun semi intensif. Belum lagi dia harus mengelola UD Sinar Gemilang, kios pertanian yang terletak di Desa Sungailebak, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan.

Karena untuk mengelola tambak intensif maupun semi intensif, tidak bisa dikerjakan sambil lalu. Apalagi bapak dua anak ini baru selesai mengajar pukul 2 sore. Waktu yang tersisa selain digunakan untuk mengunjungi kiosnya, juga untuk aktivitas lain di rumah.

Mataji pun memutar otak agar bisa mengelola tambak seluas 2 hektar miliknya, dengan cara efektif dan efisien. Selain sebagai tambak, lahan tersebut juga difungsikan untuk menanam padi sekali dalam setahun. Pola pengelolaanya adalah ikan-ikan-padi. Berbagai macam ikan yang dibudidayakan di tambaknya, mulai dari bandeng, udang vaname, mujair, tombro, hingga putihan.

“Biaya paling besar dalam membudidayakan ikan di tambak adalah dari pakan buatan pabrik, sekitar 60 persen biaya produksi. Selain memakan biaya besar, proses pemberian pakan juga menyita waktu. Karena tidak bisa sepenuhnya berada di tambak, Saya memanfaatkan pakan alami,” ungkapnya.

Pakan alami tersebut didapat dengan cara mengomposkan jerami sisa padi di tambaknya. Pada proses dekomposisi sisa jerami tersebut, Mataji menggunakan Petrogladiator cair. Petrogladiator merupakan dekomposer  yang produksi PT Petrokimia Gresik. Dekomposer ini memang dikenal efektif dalam mendekomposisi limbah organik.

“Biasanya Saya memanen padi, pada saat menjelang musim hujan. Begitu jerami sisa panen sudah menjadi kompos dan tambak terisi air hujan, Saya masukkan bibit ikan atau udang vaname,” ujar suami dari Siti Halimatus Zahroh ini.

Menurut Mataji, pakan alami yang berasal dari kompos itu akan bisa bertahan hingga pemanenan,  dengan tanpa memberi pakan tambahan. Dengan pakan alami tersebut, ungkapnya,   hasil panen di tambaknya  tidak kalah dibandingkan dengan tambak lain yang menggunakan pakan buatan pabrik.

“Pertumbuhan udang justru malah lebih cepat. Sehingga waktu panen bisa dilakukan lebih awal, dua hingga tiga minggu dibandingkan dengan tambak milik tetangga,” tegasnya.

Mataji, guru, petambak, dan petani dari Desa Sungailebak, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan (foto: Made Wirya)

Mataji mengaku biaya produksi dengan memanfaatkan pakan alami hasil proses dekomposisi Petrogladiator lebih murah. Hasilnya panen pun diakuinya juga lebih bagus, baik dari sisi kualtas maupun kuantitas.

“Dari awal, Saya tidak memerlukan tenaga untuk membersihkan jerami sisa panen maupun rumput. Jika sebelumnya rumput menjadi beban biaya karena membutuhkan tenaga untuk pembersihan, setelah mengaplikasikan Petrogladiator, Saya sudah tidak lagi mengeluarkan biaya tersebut,”paparnya.

Alumnus Sastra Inggris dari salah satu perguruan tinggi  di Surabaya itu menyampaikan, sudah tiga tahun ini dia mengaplikasikan Petrogladiator. Langkah inovatif yang diambilnya tersebut diakuninya memang berangkat dari keterbatasan waktu yang dimilikinya. Tapi yang lebih penting lagi adalah untuk menekan biaya produksi  seminimal mungkin.

“Di daerah sini tenaga kerja untuk pekerjaan di tambak terbilang mahal. Untuk pekerjaan selama 6 jam, Saya harus mengelarkan biaya sebesar Rp 100 ribu per orang. Jika harus membersihkan sisa jerami dan rumput di tambak seluas 2 hektar, akan butuh waktu dan tenaga yang lumayan banyak,” tegasnya.

Tapi dengan Petrogladiator yang harganya terjangkau itu, sambung mataji, semua bisa diatasi. Dia mengaku tidak lagi mengeluarkan biaya untuk tenaga kerja, dan tidak membeli pakan buatan yang harganya terbilang  mahal.

Untuk proses dekomposisi, jelasnya, dalam satu hektar hanya dibutuhkan 1,5 liter Petrogladiator cair. Tidak hanya dalam proses dekomposisi saja, Petrogladiator juga diaplikasikan oleh Mataji saat udangnya sedang tidak sehat. Indikasinya terlhat dari banyaknya udang yang berenang dipermukaan air.

“Begitu udang itu mulai terlihat gelisah dan mulai  banyak yang berenang di permukaan, Saya segera memberikan Petrogladiator. Paling besoknya ikan sudah lerem (tenang) kembali, dengan demikian anngka kematian udang bisa ditekan seminim mungkin,” paparnya.

Mataji mengungkapkan, Petrogladiator  diaplikasikan pada semua ikan dan  yang dibudidayakannya. Keberhasilan Petrogladiator dalam menekan biaya produksi dan waktu, menarik minat pembudidaya ikan di desanya.

“Setelah berjalan dua tahun, mulai ada beberapa kawan yang mengikuti jejak Saya. Baru pada tahun ke tiga, tepatnya bulan Desember 2018 hingga Januari 2019 sudah banyak petambak di Desa Sungailebak yang mengaplikasikan Petrogladiator,” ujarnya.

Mataji mengakui, memang tidak semua petambak meninggalkan pakan buatan pabrik setelah mereka mengapkiasikan Petrogladiator. Beberapa di antaranya masih memberikan tambahan pakan buatan tersebut, utamanya saat membudidayakan udang vaname. Tapi tambahan pakan tersebut tidak sebanyak sebelumnya.

“Mereka sepakat bahwa dengan Petrogladiator, biaya produksi tambak bisa seminim mungkin, dengan hasil panen yang lebih meningkat, baik dari sisi kualitas maupun kuantitas,” pungkasnya. (Made Wirya)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here