Memasuki Musim Kemarau, Waspadai Hama dan Penyakit yang Sering Menyerang Jagung

0
48
(Foto: Vijayasarathy Chinnaiah)

gemahripah.co – Memasuki musim kemarau, di mana ketersediaan air mulai berkurang, banyak petani yang menanam jagung, setelah selesai panen padi. Sebab jagung tidak membutuhkan banyak air,  seperti halnya padi.

Bagi petani yang menanam jagung, harus mewaspadai beberapa hama dan penyakit yang sering menyatroni jagung saat musim kemarau. Hama tanaman jagung tersebut di antaranya adalah penggerek batang, penggerek tongkol,  Farm Army Worm (FAW), dan ulat tanah.

Sedangkan penyakit jagung yang sering menyerang di antaranya adalah bulai. Meskipun serangannya relatif lebih rendah dibanding saat musim penghujan, tapi penyakit ini bisa sewaktu-waktu muncul pada situasi yang kondusif.

Menurut Direktur Pemasaran Petrosida Gresik, Joko Margono, penggerek batang  disebabkan oleh larva O. Furnacali, yang bisa membuat kerusakan di setiap bagian tanaman jagung. Petrosida Gresik adalah anak usaha Petrokimia Gresik, yang memproduksi bahan aktif kimia untuk pertanian dan perkebunan.

“Hama ini merusak dengan cara membentuk lubang kecil pada daun, lubang gorokan di batang, bunga jantan, atau pangkal tongkol. Hal tersebut menjadikan batang mudah patah,” ujarnya.

Sedangkan penggerek tongkol, terang Joko, disebabkan oleh imago betina yang meletakkan telur pada silk (rambut) jagung. Di mana setelah menetas, larva akan menginvasi tongkol jagung, kemudian memakan biji yang sedang mengalami perkembangan. Sehingga akan menurunkan kualitas mupun kuantitas tongkol jagung.

“Pengendalian penggerek batang dan penggerek tongkol dilakukan sejak tanaman jagung berumur 20 hingga 80 hari setelah tanam (HST). Dengan mengaplikasikan insektisida EMAZO 75 EC dengan dosis 1 ml dicampur 1 liter air, dengan interval  penyemprotan 7-10 hari setelah aplikasi (HSA),” jelasnya.

Selain itu, papar Joko, hama penting yang sangat ditakuti petani jagung saat ini adalah spodoptera frugiperda, yang juga dikenal dengan  FAW. Cara mengendalikannya sama persis dengan cara mengendalikan penggerek tongkol.

“Hama  lainnya adalah ulat tanah, yang menyerang tanaman jagung muda saat malam hari. Sedangkan siang harinya, ulat ini bersembunyi di dalam tanah. Ulat tanah menyerang batang tanaman jagung muda dengan cara memotongnya, sehingga tanaman jagung menjadi mati,” katanya.

Untuk mengendalikan ulat tanah, pihaknya memproduksi beberapa insektisida, seperti  SIDAZINON 10 GR, dengan dosis 10 kg per hektar, SIDAFUR 3GR  dengan dosis 20 kg per hektar, atau FIPROS 0,4 GR  dengan dosis 10 kg per hektar. Aplikasinya dapat dilakukan saat tanaman jagung berumur antara  2 hingga 8 HST.

Joko mengungkapkan, selain hama yang harus diwaspadai petani jagung adalah penyakit bulai. Pengendalian penyakit ini bisa dilakukan sejak awal. Pemilihan benih jagung yang unggul akan berpengaruh terhadap daya tumbuh tanaman dan hasil panen.

“Untuk mengendalikan penyakit bulai, benih dicampur terlebih dahulu dengan fungisida SHULE 60 WP. Dosisnya 2 gram per kilogram benih, sebelum ditanam,” pungkasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here