Kaptan Kebomas Terbukti Dorong Peningkatkan Panen Jagung di Lahan Darmaji

0
89

gemahripah.co – Semula Darmaji (61) tidak mengerti, kenapa hasil panen berbagai komoditas di lahannya terus menurun dari tahun ke tahun. Padahal dia sudah mengolah lahan dengan cara seperti yang dilakukannya pada tahun-tahun sebelumnya. Petani yang tingal di Desa Sidomukti, Kecamatan Brondong, Lamongan, itu juga sudah memberi pupuk, baik tungggal maupun majemuk.

Suatu ketika Mobil Uji Tanah (MUT) milik PT Petrokimia Gresik sedang berkeliling untuk memberikan uji tanah gratis di desanya. Salah satu penyuluh dari dinas pertanian menyarankannya untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Ternyata kandungan pH tanah di lahan milik kakek dua cucu ini terhitung tinggi.

“Oleh petugas yang menguji, Saya disarankan untuk memberikan kapur pertanian di lahan. Tujuannya adalah untuk menurunkan keasaman tanah, sehingga menjadi normal,” ujarnya.

Darmaji pun mengikuti saran dari petugas tersebut. Dua hari kemudian, kebetulan dia bersiap akan menanam jagung. Sebelum menanam benih, petani gaek itu menebarkan kapur pertanian di atas permukaan tanah dengan dosis 2.500 kilogram untuk tanah seluas satu hektar.

“Saya mengunakan Kaptan (kapur pertanian) Kebomas, yang saya beli dari salah satu kios pertanian di Tuban. Dua minggu kemudian baru saya tanam benih jagung, dengan cara ditugal,” jelasnya.

Ternyata upayanya mulai memperlihatkan hasil, pertumbuhan tanaman jagungnya menjadi lebih baik. Apalagi, dia juga mengaplikasikan Petroganik dan PHONSKA Plus dengan takaran yang tepat. Saat pemanenan, hasilnya meningkat signifikan.

“Hasil panen meningkat, padahal baru sekali menaburkan (Kaptan Kebomas). Saya tidak menyangka, jika penurunan hasil panen ternyata karena tanahnya. Saya sempat berpikir karena kesialan, atau benihnya yang jelek. Padahal pupuknya juga sudah berkualitas, dengan takaran yang sesuai,” akunya.

Apa yang dialami oleh Darmaji, juga terjadi pada beberapa petani lainnya di Indonesia. Menurunnya hasil panen, salah satu sebabnya adalah kondisi tanah yang tidak ideal. Meskipun sudah mengaplikasikan benih dan pupuk berkualtas, jika masalah tanah masih belum diselesaikan, maka perolehan panen tidak bisa dioptimalkan, bankan bisa menurun.

Menurut Dr. Ai Dariah, peneliti senior dari  Balit Tanah Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian (seperti dikutip dari laman Litbang Pertanian), lahan di Indonesia yang mengalami degradasi memang semakin meningkat dari tahun ke tahun.  Baik dari segi luasan maupun tingkat degradasinya.

Dari hasil Penelitian Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanah Dan Agroklimat (Puslitbangtanak) di 11 provinsi di Indonesia pada tahun 1997, terdapat 10,94 juta hektar lahan kritis. Berdasarkan data tersebut, diperkirakan  lahan kritis di seluruh wilayah Indonesia saat ini akan lebih luas lagi.

Oleh karena itu diperlukan suatu usaha untuk mempercepat laju pemulihan lahan-lahan tersebut. Bahan pembenah tanah merupakan salah satu alternatif pemulihan lahan-lahan terdegradasi.

Bahan pembenah tanah, kata Dr. Ai Dariah, bisa berasal dari bahan organik maupun non-organik. Blotong, sari kering limbah (SKL), Bahan organik dengan C/N ratio = 7-12, merupakan pembenah tanah organik. Sedangkan pembenah tanah non-organik beberapa di antaranya  adalah zeolit, fosfat alam, dan kapur pertanian. (Fajar Primazona)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here