Daripada Membakar Limbah Pertanian, mereka Lebih Memilih Mengaplikasikan Petro Gladiator

0
118
(foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Residu pertanian umumnya dianggap sebagai limbah pertanian yang diproduksi dalam jumlah besar setiap tahun di ladang pertanian pada beberapa daerah. Dalam banyak kasus, limbah pertanian tersebut dibakar di lahan.

Meskipun cara ini  sangat murah karena tidak membutuhkan banyak tenaga kerja, tetapi memiliki dampak negatif yang besar pada agroekosistem.  Karena cara tersebut akan membentuk kabut asap, sehingga menyebabkan polusi udara.

Tidak hanya buruk bagi agroekosistem, membakar limbah pertanian bisa mengganggu struktur fisik, kimia, dan biologi tanah, termasuk populasi mikroba dan bentuk kehidupan mikroflora dan mikrofauna.

Idealnya limbah pertanian dimanfaatkan untuk membantu memperbaiki kondisi tanah, produktivitas tanaman, dan kelestarian lingkungan. Tentu saja limbah pertanian tersebut tidak bisa langsung diaplikasikan, tapi dibutuhkan proses dekomposisi atau pengomposan.

Baca juga : Mengubah Sampah menjadi berkah dengan Petro Gladiator

Pada proses dekomposisi, bisa berlangsung dengan bantuan mikroorganisme yang terdapat di dalam tanah, atau dengan bantuan dekomposer yang banyak dijual di toko pertanian. Dengan mengunakan dekomposer kemasan, proses pengomposan menjadi lebih cepat dan mudah.

Salah satu petani yang sudah mengaplikasikan dekomposer kemasan adalah Muhammad Nuh (57), kakek 3 cucu yang tinggal di Desa Made, Kecamatan Lamongan, Kabupaten Lamongan.

Petani yang memiliki sawah seluas 3 hektar itu, mengaku sebelumnya selalu membakar sisa jerami setelah padi tuntas dipanen. Alasannya, karena pada masa tanam berikutnya dia tidak membutuhkan waktu dan biaya yang banyak untuk mengenyahkan limbah pertanian di lahannya.

“Awalnya dibakar, sebab jika damen (jerami) tidak dibakar, akan kerepotan saat mengolah lahan. Belakangan Saya tahu ernyata hal tersebut bukan tindakan yang bijaksana. Selain mencemari lingkungan, limbah itu ternyata bermanfaat untuk kesuburan tanah, setelah menjadi kompos,” akunya.

Atas saran petugas penuyuluh pertanian, dia mencoba untuk mencari dekomposer di kios langganannya. Oleh pemilik kios, Nuh diberi dua pilihan merk yang salah satunya adalah Petro Gladiator.

“Saya membaca di kemasannya, ternyata Petro Gladiator diproduksi oleh Petrokimia Gresik. Saya langsung menentukan pilihan pada merk tersebut. Karena selama ini hampir semua pupuk yang Saya gunakan  dibuat oleh pabrik itu, seperti Petroganik, PHONSKA Plus, dan Petro Biofertil,” ujarnya.

Untuk aplikasinya, jelas Nuh, cukup mudah. Dengan membaca brosur yang diberikan oleh kios saat membeli dekomposer tersebut, dia langsung bisa mempraktekkan.

“Untuk sawah seluas 1 hektar cukup dengan 4 liter Petro Gladiator cair yang dicampur dengan air, dengan takaran 1 banding 100. Kemudian Saya semprotkan secara merata dengan hand sprayer, kemudian digilas dengan traktor. Selama 7 hari berikutnya, sawah tidak boleh diberi air. Dalam tempo 2 minggu, jerami tersebut sudah jadi kompos,” paparnya.

Jika Nuh mengaplikasikan Petro Gladiator untuk lahan sawah, Ahmad Pambudi (42), petani dari Desa Poncokusumo, Kecamatan Poncokusumo, Batu, mengaplikasikan pada  lahan kentang. Bapak dua anak tersebut menyampaikan, aplikasi Petro Gladiator untuk limbah kentang juga cukup mudah.

Baca juga : Membuat kompos dari Kulit Biji Kopi dan Kotoran Kambing

“Saya menggunakan takaran 3 liter Petrogladiator yang dicampur dengan 300 liter air, kemudian disemprotkan ke lahan bekas tanaman kentang. Penyemprotan dilakukan setelah mengaplikasikan pupuk organik. Setelah itu dibiarkan selama 10 hari. Paling lama 2 minggu sudah jadi kompos,” jelasnya. (Rahajeng Ayu)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here