Cara Mudah Budidaya Temulawak

0
523
Tanaman temulawak. (etsy.com)

gemahripah.co – Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tanaman rempah berbatang semu yang bisa mencapai tinggi batang lebih dari 1 m tetapi kurang dari 2 m. Tanaman ini banyak dibudidayakan di Indonesia, seperti halnya tanaman rempah yang lain, seperti kencur, jahe, lengkuas, dan kapulaga.

Baca juga: Panduan Praktis Budidaya Kapulaga

Bagi Anda yang ingin membudidayakan tanaman rempah yang banyak manfaatnya untuk kesehatan itu,  ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Berdasarkan buku “Budidaya Tanaman Obat Keluarga (Toga)” yang diterbitkan oleh BPTP Lampunh tahun 2012, sebelum melakukan budidaya temulawak Anda harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut.

Syarat Tumbuh

  • Suhu udara yang baik antara 19-30oC
  • Curah hujan tahunan antara 1.000-4.000 mm/tahun.
  • Jenis tanah berkapur, berpasir, agak berpasir, maupun tanah-tanah berat yang berliat serta berdrainase baik.
  • Ketinggian lahan yang optimum adalah 750 m/dpl. Jika ditanam pada ketinggian 240 m/dpl, kandungan pati di dalam rimpangnya bisa maksimal.
  • Perbanyakan tanaman dilakukan dengan menggunakan rimpang, baik rimpang induk (rimpang utama) maupun rimpang anakan (rimpang cabang).
  • Kebutuhan rimpang induk adalah 1.500-2.000 kg/ha, dan rimpang cabang sebanyak 500-700 kg/ha.

Menyiapkan Bibit

Rimpang yang akan digunakan untuk bibit diambil dari tanaman tua yang sehat, berumur 10 -12 bulan. Tahapan dalam menyiapkan bibit adalah sebagai berikut:

  • Pertama tanaman induk dibongkar, lalu bersihkan akar dan tanah yang menempel pada rimpang.
  • Pisahkan rimpang induk dari rimpang anak.
  • Rimpang induk dibelah menjadi empat bagian yang mengandung 2-3 mata tunas dan dijemur selama 3-4 jam, selama 4-6 hari berturut-turut.
  • Setelah itu rimpang bisa langsung ditanam.
  • Rimpang yang telah bertunas segera dipotong-potong menjadi potongan yang memiliki 2-3 mata tunas yang siap ditanam.
  • Bibit yang berasal dari rimpang induk lebih baik daripada rimpang anakan.

Pengolahan Tanah

  • Pengolahan tanah dilakukan pada 30 hari sebelum tanam.
  • Pertama-tama bersihkan dari tanaman-tanaman lain dan gulma yang dapat mengganggu pertumbuhan.
  • Kemudian cangkul merata sedalam 30 cm, sampai tanah menjadi gembur.
  • Sebelum menanam, masukkan pupuk organik ke dalam lubang tanam, sebanyak 1-2 kg.
  • Dosis pupuk organik untuk luasan satu hektar adalah 20-25 ton, untuk 20.000-25.000 tanaman.

Penanaman

  • Penanaman dilakukan secara monokultur dan sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan, kecuali pada daerah yang memiliki pengairan sepanjang waktu.
  • Fase awal pertumbuhan adalah saat dimana tanaman memerlukan banyak air.
  • Lubang tanam dibuat di atas bedengan/petakan dengan ukuran lubang 30 x 30 cm, dengan kedalaman 60 cm. Jarak antara lubang adalah 60 x 60 cm.
  • Masukkan satu bibit ke dalam lubang tanam dengan posisi mata tunas menghadap ke atas. Setelah itu bibit ditimbun dengan tanah sedalam 10 cm.
  • Lakukan penanaman pada awal musim hujan jika ingin dipanen saat musim kemarau.

Pemeliharaan Tanaman

  1. Penyulaman

Tanaman yang rusak atau mati diganti dengan bibit cadangan yang sehat.

  1. Penyiangan
  • Penyiangan gulma dilakukan pagi atau sore hari, untuk menghindari persaingan makanan dan air.
  • Penyiangan pertama dan kedua dilakukan pada dua dan empat bulan setelah tanam (bersamaan dengan pemupukan).
  • Penyiangan selanjutnya dapat dilakukan segera setelah gulma tumbuh.
  • Untuk mencegah kerusakan akar, lakukan penyiangan menggunakan cangkul secara hati-hati.
  1. Pembubunan
  • Pembubunan dilakukan untuk memberikan media tumbuh rimpang yang cukup baik, dengan cara menimbun kembali area perakaran dengan tanah yang jatuh terbawa air.
  • Pembubunan dilakukan secara rutin setelah dilakukan penyiangan.
  1. Pemupukan
  • Pemupukan dengan pupuk organik, menggunakan pupuk kompos organik atau pupuk kandang.
  • Pemberian pupuk kompos organik dilakukan pada awal pertanaman, yaitu saat pembuatan guludan.
  • Sebagai pupuk dasar gunakan 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur tanah olahan.
  • Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan jalan mengisi tiap-tiap lobang tanam pada awal pertanaman sebanyak 0.5 – 1 kg per tanaman.
  • Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2 – 3 bulan, 4 – 6 bulan, dan 8 – 10 bulan, dengan dosis 2 – 3 kg per tanaman.
  • Pemberian pupuk kompos biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan, bersamaan dengan kegiatan pembubunan.
  1. Pengairan dan Penyiraman

Dilakukan secara rutin pada pagi atau sore hari, ketika tanaman masih berada pada masa pertumbuhan awal.

  1. Hama dan penyakit,
  2. Hama yang sering menyerang antara lain: ulat jengkal (Chrysodeixis chalcites Esp.), ulat tanah (Agrotis ypsilon Hufn.) dan lalat rimpang (Mimegrala coerulenfrons Macquart).
  3. Penyakit:
  • Jamur Fusarium: menyerang akar rimpang dengan gejala daun menguning, layu, pucuk mengering, hingga tanaman mati.
  • Penyakit layu: ditandai dengan gejala kelayuan daun bagian bawah yang diawali menguningnya daun, pangkal batang basah dan rimpang yang dipotong mengeluarkan lendir seperti getah.
  1. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan dengan PHT (pengendalian hama terpadu):
  • Mengusahakan pertumbuhan tanaman yang sehat yaitu memilih bibit unggul yang sehat, bebas dari hama dan penyakit serta tahan terhadap serangan hama dari sejak awal pertanaman.
  • Memanfaatkan semaksimal mungkin musuh-musuh alami.
  • Menggunakan varietas-varietas unggul yang tahan terhadap serangan hama dan penyakit.
  • Menggunakan pengendalian fisik/mekanik yaitu dengan tenaga manusia.
  • Menggunakan teknik-teknik budidaya yang baik, misalnya budidaya tumpang sari dengan pemilihan tanaman yang saling menunjang, serta rotasi tanaman pada setiap masa tanamnya.
  • Penggunaan pestisida, insektisida, herbisida alami yang ramah lingkungan dan tidak menimbulkan residu toksik baik pada bahan tanaman yang dipanen maupun pada tanah.

Pemanenan

  • Temulawak siap dipanen saat berumur 9-10 bulan, dengan ciri-ciri: daun dan sebagian tanaman telah menguning dan mengering, memiliki rimpang besar dan berwarna kuning kecoklatan.
  • Cara Panen: tanah disekitar rumpun digali dan rumpun diangkat bersama akar dan rimpangnya. Panen dilakukan pada akhir masa pertumbuhan tanaman yaitu pada musim kemarau .
  • Hindari panen saat musim hujan , karena menyebabkan rusaknya rimpang dan turunnya kualitas.
  • Dalam kondisi ideal, produksinya bisa mencapai 10-20 ton/ha. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here