Beberapa Penyakit Gugur Daun yang Pernah Menyerang Tanaman Karet di Indonesia

0
187
(sumber foto: Kementerian BUMN)

gemahripah.co – Sejak 16 Juli 2019, lahan karet di Indonesia seluas 381,9 ribu hektar terserang penyakit gugur daun, yang disebabkan oleh cendawan Pestalotiopsis sp. Serangan penyakit tersebut berakibat pada menurunnya tingkat produksi karet, minimal 15 persen pada tahun ini.

Menurut Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono, dalam siaran pers Rabu (24/7), penyakit ini pertamakali ditemukan di Provinsi Sumatera Utara.  Kemudian menyebar ke Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Timur.

“Upaya pemerintah dalam membantu petani untuk mengendalikan penyakit tersebut meliputi dua hal. Yang pertama adalah pengendalian dengan menggunakan fungisida berbahan aktif heksakonazol atau propikonazol. Berikutnya dengan memberikan bantuan pupuk untuk meningkatkan ketahanan tanaman karet terhadap serangan penyakit tersebut,” tegas Kasdi.

Baca juga: Antisipasi Serangan Penyakit Gugur Daun Karet, Pemerintah Lakukan Langkah Antisipatif

Penyakit gugur daun pada karet tersebut bukan yang pertama terjadi di Indonesia. Penyakit sama yang pernah menyerang tanaman karet di Indonesia adalah  penyakit gugur daun Corynespora (PGDC). Penyakit yang disebabkan oleh cendawan  C. Cassiicola ini, pertama kali ditemukan pada tahun 1958 di India. Berikutnya menyerang Malaysia pada tahun 1960 dan Nigeria pada tahun 1966.

Penyakit yang menyerang tanaman karet pada segala tingkatan umur itu, mulai menyerang tanaman karet di  Indonesia dan menimbulkan kerusakan sejak tahun 1980. Dengan gugurnya daun secara terus-menerus sepanjang tahun, menyebabkan tanaman karet tidak dapat berproduksi, dan lambat laun mati.

Menurut Pawirosoemardjo (2004), seperti dikutip dari laman Puslitkaret, perkembangan penyakit gugur daun Corynespora dipengaruhi oleh cuaca, topografi, umur, kondisi tanaman, dan jenis klon. Kerusakan yang ditimbulkan berbeda antar klon karet, tergantung pada kondisi agroklimat.

Cendawan C. cassiicola menyerang daun karet yang masih muda atau berwarna kecokelatan. Gejala awal berupa bercak hitam terutama pada bagian urat atau tulang daun yang baru nampak setelah daun berwarna hijau muda atau tua.

Selanjutnya, bercak berkembang mengikuti tulang atau urat daun, dan meluas ke urat-urat daun kecil di sekitarnya, sehingga bercak akan tampak menyirip seperti tulang-tulang ikan.

Data dari laman  Balai Penelitian Getas, Salatiga, menyebutkan, penyakit gugur daun pada karet juga akibat serangan jamur Fusicoccum sp. Jamur tersebut menjadi pemicu  gugurnya daun  tua dan muda tanaman karet pada beberapa wilayah di Sumatera Selatan dan Sumatera Utara. Gejala diawali dengan bercak coklat pada daun muda maupun tua, dan tangkai daun.

Bercak dapat berkembang menjadi lebih lebar, selanjutnya daun menguning dan gugur sebelum waktunya. Setelah daun gugur, daun baru yang terbentuk akan berukuran lebih kecil dari ukuran normal, dan sebagian ranting mati sehingga kelihatan meranggas.

Dari laman yang sama disebutkan, pengendalian yang efektif untuk mengatasi serangan jamur tersebut adalah dengan fungisida berbahan aktif heksakonazol. Aplikasinya bisa dengan mengunakan power sprayerfogger maupun power duster. (SP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here