Foto Esai Wawan Sudarmaji: “Pagi di Pasar Gauang”

0
35

gemahripah.co – Hari masih pagi. Pasar Gaung, orang Padang menyebutnya dengan Pasar Gauang, terlihat ramai oleh pembeli dan pedagang yang sedang bertransaksi. Suasana demikian berlangsung sejak akhir tahun 70’an, saat pasar tradisional ini mulai berdiri.

Bermula dari perkampungan nelayan, yang berkembang menjadi pasar dan pelelangan ikan. Pasar yang terletak di Jl. Makassar, Kota Padang, itu baru buka pukul enam.  Karena letaknya di pesisir, ikan laut menjadi komoditas yang diandalkan.

Pedagang dan pembeli sedang bertransaksi di Pasar Gauang. (Foto: Wawan Sudarmaji)

Pagi itu jalanan basah oleh hujan semalam. Puluhan pembeli berkerubut memilih berbagai jenis ikan. Mereka tak peduli pada daki yang menempel di kaki. Hiu, gurita, cumi, kakap, kerapu, bandeng laut, tuna, hingga teri.

Sisiak yang paling banyak dicari orang,” ujar salah satu pedagang. Sisiak adalah ikan tuna dalam Bahasa Padang.

Ikan pari di pasar itu beragam ukuran. Dari yang  kecil hingga yang bentang sayapnya mencapai 1,5 meter.  “Bobot satu ekor ikan pari bisa mencapai 60 kilogram. Ikan hiu yang kami tangkap ada juga yang panjangnya 2 meter,” ujar salah satu nelayan yang menjadi pemasok ikan di pasar itu.

“Sisiak yang paling banyak dicari orang,” ujar salah satu pedagang. (Foto: Wawan Sudarmaji)

Tapi jika laut sedang tidak bersahabat, tinggi gelombang bisa mencapai 6 meter. Tidak banyak nelayan yang berani melaut. Jumlah ikan laut yang dijual di Pasar Gauang pun menyusut.

“Jika tidak banyak nelayan yang melaut. Pasokan ikan bisa berkurang hingga 70%,” ujar pedagang lelaki berkopyah.

Siapa yang bisa mengendalikan keganasan samudera, jika bukan Dia si pemilik semesta. Tapi bukankah itu isyarat alam? Ketika air laut pasang dan samudera bergolak, jumlah plankton pun meningkat. Maka ikan-ikan banyak memiliki persediaan makanan dan segera berkembang-biak.

Memilih ikan segar di Pasar Gauang. (Foto: Wawan Sudarmaji)

Alam meminta para nelayan bersabar, agar ikan-ikan di samudera kembali penuh. Sambil menunggu, mereka bisa memperbaiki piranti melautnya. Memperbaiki jaring, menambal parahu yang bocor, dan merawat mesin diesel pemutar baling-baling.

“Jika gelombang pasang dan nelayan tidak melaut, harga ikan menjadi mahal,” kata ibu-ibu berkerudung biru, pengunjung setia Pasar Gauang. Ya, bukankah demikian hukum pasar berlaku? (*)

 

*)  Wawan Sudarmaji adalah fotografer spesialis makro yang karya-karyanya banyak mendapatkan apresiasi.  

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here