Foto Esai Wawan Sudarmaji: “Ada Banyak Peluh Menetes agar Pupuk Subsidi Sampai di Tangan Petani”

0
63

gemahripah.co – Rabu, 9 September 2020 di Teluk Bayur, Sumatera Barat. Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, hujan mengguyur dengan deras disertai gemuruh guntur di kejauhan. Sementara di beberapa daerah lain kerontang, kemarau memagut lahan.

Di sini, hujan memang tidak mengenal musim. Terserah apa maunya Gusti Allah. Tapi distribusi pupuk subsidi tidak boleh berhenti. Sebab menjelang musim tanam, pupuk harus datang tepat waktu di tangan petani.

Ketika curah hujan mulai berkurang keesokan harinya, saya lajukan mobil menuju Pelabuhan Teluk Bayur. Jalan masuk ke pelabuhan digenangi air setinggi mata kaki. Sementara ribuan ton pupuk subsidi masih bertahan di perut kapal, menunggu dibongkar dan didistribusi.

Hujan baru benar-benar reda ketika matahari mulai bergeser ke barat. Aktivitas bongkar muat harus segera dimulai. Harus! Sebab jika tidak, semua akan rugi. Pupuk tidak segera terdistribusi, biaya parkir kapal menjadi sangat tinggi.

Operator segera mengoperasikan crane. Empat tuas dimainkannya bergantian. Lengan besi segera bergerak dengan tujuan pasti, mengangkat dan menurunkan timbunan pupuk subsidi. Crane pilot menggerakkan jari dan lengan, memandu operator crane agar tidak salah arah. Maklum di dalam ruangan yang sempit itu, pandangannya serba terbatas.

Area! Area! Begitu teriaknya, sambil terus menggerakkan jari dan lengan. Gerakannya demikian indah, sesekali badannya meliuk ke kiri dan ke kanan. Tapi teriakan crane pilot itu tenggelam dalam raungan mesin.

Operator crane kembali melihat kode-kode yang dikirimkan, dan segera menekan pedal di kakinya. Sedetik kemudian, suara mesin kembali mengaum. Tumpukan pupuk itu pun bergerak ke bawah dengan perlahan. Sesekali berayun ritmis, mengikuti dorongan angin.

Di bawah, puluhan buruh angkut bergerak lincah memindahkan pupuk subsidi ke bak truk, menatanya dengan rapi. Mereka bekerja dari pukul delapan pagi hingga enam sore. Setelah penuh, truk-truk bergerak menuju ke gudang distribution center.

Beberapa buruh melakukan sapuan, sesaat sebelum mereka meninggalkan gelanggang. Harfiah, sapuan adalah melakukan pembersihan dengan sapu. Mereka membersihkan butiran pupuk yang tercecer.  Dermaga pun kembali bersih tak berdebu.

Setelah disimpan di gudang distribution center, ribuan ton pupuk PHONSKA dan ZA itu terus bergerak, menuju gudang penyangga, kios, dan bermuara di tangan petani. Demikian panjang rantai distribusi pupuk subsidi.

Coba dihitung, ada berapa orang yang terlibat. Ada berapa banyak peluh menetes agar pupuk datang pada waktu yang tepat. Sehingga tanaman di lahan mendapat asupan hara, agar ketahanan pangan tetap terjaga. (*)

*  Wawan Sudarmaji adalah fotografer spesialis makro yang karya-karyanya banyak mendapatkan apresiasi. Di tengah kesibukannya sebagai Kepala Distibution Center Petrokimia Gresik wilayah Sumatera Barat, dia masih sempat mengabadikan berbagai obyek menarik di pelabuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here