Getuk Lindri, Salah Satu yang Masih Bertahan di Tengah Serbuan Makanan Impor

0
88
Getuk lindri. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Ada banyak makanan khas Nusantara yang dilupakan seiring dengan membanjirnya aneka makanan dari luar, baik dari Dunia Barat maupun Jazirah Arab, Jepang dan Korea. Tapi ada beberapa di antaranya yang masih bertahan dan diminati oleh masyarakat, salah satunya adalah getuk.

Makanan yang terbuat dari singkong ini punya beberapa ‘varian’, tergantung di mana getuk dibuat. Ada yang pada proses pembuatannya, singkong rebus yang dicampur gula merah dilembutkan begitu saja kemudian dicetak. Ada pula yang dilembutkan dengan gilingan berpori bulat di ujungnya, sehingga hasil akhirnya serupa mie, kemudian dipotong-potong.

Getuk yang dilembutkan dengan gilingan tersebut dinamakan getuk lindri. Penamaan lindri berasal dari nama gilingannya. Konon getuk lindri pertamakali dibuat di Dusun Karet, Desa Bulurejo, Kecamatan Mertoyudan, Magelang, oleh Mbah Ali Mohtar.

Ada versi yang mengatakan bahwa getuk lindri dibuat pada masa kolonialisme Belanda, di mana penduduk masih sulit untuk mendapatkan beras. Untuk pemenuhan karbohidrat, mereka menggantinya dengan singkong. Selain ditanak dan langsung dimakan, pada masa itu singkong juga diolah menjadi aneka kue.

Magelang sudah sejak lama dikenal sebagai kota getuk. Jika berkunjung di kota itu tidak lengkap rasanya jika tidak membeli oleh-oleh getuk lindri. Jika musim liburan, pusat oleh-oleh khas Magelang di Jl. Jend. Sudirman, Jl. Tentara Pelajar dan Jl. Ikhlas banyak mobil pengunjung berjejer. Salah satu yang mereka beli, bisa dipastikan adalah getuk lindri.

Di Megelang setiap tahun  diadakan Gerebek Getuk untuk merayakan hari jadi kota tersebut. Dalam Gerebeg Getuk ditampilkan dua jenis gunungan, gunungan lanang (lelaki) setinggi 3,5 meter dan gunungan wadon (perempuan) dengan tinggi 2,5 meter. Gunungan lanang berbentul lancip di bagian atas, sedangkan gunungan wadon yang melambangkan perempuan, berbentuk bulat.

Pada ritual tersebut ribuan potong getuk aneka warna disusun membentuk gunungan cantik.  Setelah diarak gunungan getuk diperebutkan oleh masyarakat yang mengikuti prosesi tersebut.

Menurut Gepeng Nugroho seperti dikutip dari Kompas (17/4/2017), tradisi ini merupakan catatan singkat bagaimana Kota Magelang berdiri sejak ribuan tahun yang lalu. Selain gunungan getuk, prosesi juga dimeriahkan dengan kirab gunungan palawija.

“Secara historis, kirab gunungan palawija ini merupakan simbol persembahan atau upeti rakyat kepada pemimpin,” ujar salah satu pengagas gerebek getuk itu. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here