Misteri Tikus di Lahan Jagung

0
191

gemahripah.co – Petani mana yang tidak kenal tikus, salah satu hama yang ditakuti oleh petani padi dan jagung. Selain tanaman serealia, binatang pengerat itu juga menyerang palawija, hortikultura, dan perkebunan.

Tikus menyerang akar dan batang padi, sehingga menyebabkan kematian. Sedangkan pada tanaman jagung, serangan tikus biasa terjadi saat fase pembentukan tongkol dan pengisian biji. Tongkol yang dimakan oleh tikus menjadi rusak dan mudah terinfeksi jamur.

Sebagai petugas lapangan yang bertugas mendampingi petani, Saya juga harus memahami pengetahuan tentang hama dan penyakit. Karena pertanyaan seputar hal tersebut, kerap kali ditanyakan oleh petani.

Saya sudah beberapa kali mendengar, bahwa tikus merupakan hama yang  misterius. Ada petani yang mengatakan tikus tidak sembarang menyerang sasarannya. Pada hamparan jagung yang luas, tidak semua petak diserang oleh mamalia bergigi tajam itu. Entah apa alasannya, petani tersebut tidak menjelaskan dengan rasional.

Siang itu Saya melakukan sosialisasi tentang penyakit bulai pada tanaman jagung, pada salah satu desa yang menjadi sentra tanaman pangan. Maklum, akhir-akhir ini serangan bulai sudah banyak menyerang desa-desa di kecamatan lain.

Setelah acara selesai, Saya sempatkan untuk melihat-lihat jagung seluas satu hektar hektar milik salah seorang kawan, yang pengelolaannya diserahkan pada Saya. Saya ingin memastikan perkembangan tanaman jagung yang saat itu berumur 70 hari, siapa tahu ada indikasi terserang bulai.

Lahan itu terletak di antara hamparan tanaman jagung yang cukup luas. Sepanjang mata memandang, yang terlihat hanya  tanaman jagung, dengan tongkol yang mulai terlihat menyembul.

Saya masih ingat, saat itu pukul lima sore. Matahari sudah bergeser ke sisi Barat,  sengatannya mulai berkurang. Saya berjalan menyusuri pematang, sambil sesekali memperhatikan helai demi helai daun jagung yang tumbuh subur itu.

Beberapa saat kemudian, terdengar suara mencicit. Saya segera mencari dari mana suara itu berasal. Setelah berjalan beberapa langkah, Saya melihat ribuan tikus kecil  keluar dari beberapa liang dengan berbaris, layaknya tentara yang sedang menuju medan perang.

Tikus-tikus itu menyeberangi pematang menuju ke salah satu petak, entah milik siapa. Beberapa tikus yang paling depan mulai naik menuju tongkol, diikuti oleh teman-teman di belakangnya. Batang-batang jagung berisi dua tongkol itu diserbu belasan binatang pengerat dengan rakus.

Pergerakan mereka cukup lincah, perpindahan dari batang ke batang dilakukan dengan melewati daun. Mereka seperti sedang bermain akrobat. Sepanjang hidup baru kali ini  Saya melihat ribuan tikus, dengan pergerakan yang tampak terorganisir seperti itu. Saya bergidik. Tapi Saya coba memberanikan diri untuk memotretnya dengan menggunakan telepon seluler.

Jika hal ini dibiarkan, maka dalam waktu yang tidak terlalu lama  jagung di lahan itu akan segera habis. Tapi anehnya, serangan tikus hanya pada lahan sepetak itu. Sedangkan lahan lainnya tidak disentuh sedikitpun.

Sebagai petugas lapangan yang sering bersentuhan dengan petani, Saya merasakan bagaimana sedihnya petani ketika lahannya diserang hama. Saya mencoba mengusirnya. Saya ambil gumpalan tanah keras, kemudian Saya lemparkan ke arah gerombolan  penjarah itu.

Begitu lemparan  mengenai sasaran, sontak ribuan tikus itu bergerak panik. Suara mendecit dan gesekan daun kerana polah tikus-tikus itu demikian mencekam. Membuat bulu kuduk berdiri dan keringat dingin menderas. Saya ketakutan. Setelah mematung beberapa detik, Saya bergegas meninggalkan lahan jagung tersebut.

Beberapa hari kemudian saat kembali mengunjungi lahan tersebut, Saya ketemu petani yang juga memiliki lahan di dekat lahan yang terserang tikus itu. Iseng Saya menanyakan siapa pemilik lahan jagung yang terletak dua petak dari lahannya.

“Memangnya kenapa, Pak?” Tanyanya. “Kemaren saya lihat ribuan tikus menyerang lahan itu. Melihat serangan yang masif, rasanya pemiliknya tidak akan panen,” jawab Saya.

Petani itu melangkan menuju lahan yang Saya maksud. Langkahnya Saya ikuti dari belakang. Sesampainya di lahan tersebut dia termangu. Pesta para tikus beberapa hari yang lalu itu hanya menyisakan klobot dan tongkol tanpa biji.

“Tikus-tikus itu kok tidak menyerang lahan lainnya ya, Pak?” Petani itu tidak segera menjawab. Dia bersidekap sambil matanya nanar mengawasi lahan jagung di depannya. Setelah beberapa saat diam dan menghela nafas, dia menghampiri Saya.

“Pemilik lahan ini dikenal jahat, sudah cukup lama menjadi rentenir dengan bunga tinggi mencekik,” jawabnya lirih. Ketika saya akan bertanya lebih lanjut, dia tidak menjawab, malah segera mengajak Saya untuk meninggalkan lahan tersebut. (Seperti diceritakan oleh Agus Yunarto)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here