Dia yang Datang Dini Hari untuk Menanak Nasi

0
63
(foto: gemahripah.co)

Suara adzan subuh terdengar dari surau yang berjarak beberapa puluh meter dari rumahku. Aku bangun, menggeliat dan mengucek mata. Telingaku menangkap suara air dijerang di dapur,  sesaat kemudian aroma nasi masuk ke kamar. Nasi dengan aroma pandan itu mengingatkanku pada Marni, mendiang istriku yang meninggal 2 tahun lalu. Kuakui perempuan yang sudah memberi dua anak itu memang pandai memasak.

Di tangan Marni, apapun bisa dimasak dengan lezat. Tempe  dan tahu, dipadukan dengan buah manisa yang diiris memanjang, menjadi sayur lodeh yang nikmat. Dengan bahan yang sama, ditambah  sedikit taburan teri, menjadi sayur oseng yang memanjakan syaraf pengecap di lidah.

Bahan dasar menu masakan yang disajikan Marni hanya seputar tahu, tempe, dan berbagai tanaman sayur yang kami tanam sendiri. Maklum kami bukan keluarga petani kaya, dan harus menguliahkan 2 anak di Surabaya.  Penghasilan kami hanya  dari penjualan pohon kelapa yang tumbuh di pekarangan belakang, dan sawah dengan luas tidak sampai dua hektar.

Aku bergegas bangun, menuju kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Ketika melewati pintu yang menghubungkan kamar tengah dan dapur, Aku melihat lampu dapur menyala. Mungkin semalam Aku lupa mematikan. Karena bergegas akan sholat subuh, Aku segera berwudhu dan masuk kamar.

Usai sholat, Aku kembali ke dapur. Ada yang aneh dengan kondisi dapur pagi itu. Bakul dengan nasi yang masih mengepul di atas meja dapur itu menarik perhatianku. Siapa yang memasaknya? Saat mendekat ke meja kayu jati kuno peninggalan orangtuaku, Aku melihat di dekat bakul nasi ada mangkuk yang ditutup tudung dari anyaman bambu. Saat Kubuka, isinya sayur lodeh tahu, tempe, dan manisa. Mirip sayur lodeh buatan Marni. Kupegang bibir mangkuk itu, masih hangat.

Aku tertegun. Siapa yang memasaknya? Aku menuju pintu dapur yang mengarah ke pekarangan belakang. Masih tergembok seperti kemarin malam, saat Aku menguncinya. Siapa gerangan yang masak? Bukankah Samirah, perempuan tua yang biasa membantu memasak dan bersih-bersih rumah, baru datang setelah pukul 5 pagi?

Tidak berapa lama Samirah datang. “Bapak masak sendiri?” “Iya Yu Rah, kebetulan Aku bangun kepagian dan kepingin masak.” Aku berbohong agar tidak membuat Samirah takut. Perempuan gemuk itu segera mengambil sapu. “Besok lagi biar Samirah saja yang masak, Pak. Itu sudah tugas Saya.” “Iya Yu.” Setelah Samirah menyapu lantai dan halaman depan, Aku  menuju ke sawah.

Sebagai duda yang hidup sendiri, sebenarnya Aku terbiasa melakukan pekerjaan domestik. Sebelum anak-anak kuliah di Surabaya, kami berbagi tugas. Ibunya masak dan nyapu,  anak bungsu ngepel lantai, si sulung nyuci dan setrika. Sejak dua anakku tidak lagi tinggal di rumah, praktis semua pekerjaan rumah  Aku dan Marni yang melakukan.

Setelah Marni meninggal, Aku yang mengambil alih semua pekerjaan itu. Toh tidak berat juga, mungkin yang merepotkan saat menyapu halaman depan dan belakang, yang memang cukup luas. Untuk meringankan beban dalam mengurus rumah, setahun belakangan ini anak-anakku meminta bantuan Samirah.

Pagi itu waktunya melakukan aplikasi Petro Cas. Pardi dan Ngatiman, yang biasa membantuku kerja di lahan sudah lebih dulu menuju ke sawah yang terletak di pinggir jalan poros desa. Nasi dan sayur yang ada di dapur, yang entah dimasak oleh siapa itu, kubawa serta.

“Nasinya pulen dan harum. Sayur lodehnya juga enak banget, Pak,” kata Pardi sambil makan dengan lahap. “Betul, Pak. Boleh nambah lagi to?” Sahut Ngatiman. Lelaki kekar itu langsung memindahkan sisa nasi di bakul ke piringnya. Sekitar pukul sepuluh pagi, kami pulang.

Setelah mandi sore, Aku membuka album foto keluarga. Aku terkenang masa ketika anak-anak masih kecil. Bardi berdiri berkacak pinggang di tengah, sedangkan Lukman yang baru berumur setahun digendong ibunya. Foto itu dibuat sekitar akhir tahun ‘80an. Foto yang lain, saat kami pergi ke Kebun Binatang Surabaya. Kami berfoto di dekat kandang harimau, anak-anak sudah mulai besar. Jika tidak salah, Bardi kelas 2 SMP dan adiknya kelas 5 SD.

Kupandangi foto Marni yang mengenakan kebaya saat usianya menginjak 20 tahun. Dia memang perempuan cantik. Pada akhir hidupnya menjelang umur 50 tahun, wajah Marni masih menyisakan kecantikan. Perempuan itu sudah menemani hidupku selama 28 tahun. Betah menjalani hidup dan membesarkan dua anak dalam kesederhanaan. Aku merindukannya.

Beberapa kawan sering menanyakan apakah Aku tidak ingin menikah lagi. Salah satunya adalah Anas, kawan sepermainan masa kecil yang pernah merantau ke Jakarta, dan kembali ke desa untuk berdagang hasil bumi.

“Kamu tidak menikah lagi?” Tanyanya pada suatu sore, saat dia mampir kerumahku. “Enggak, Aku lebih suka hidup sendiri. Tidak ada yang bisa menggantikan Marni di rumah ini.” “Jika memang itu pilihanmu, dan kamu bisa menikmati kesendirianmu.” “Saya menikmati kondisi seperti saat ini, Nas”.

Beberapa kali Bardi yang sekarang sudah memberiku dua cucu dan tinggal di Surabaya, mengajakku untuk tinggal bersama mereka. Tapi ajakannya kutolak, karena Aku tidak pernah kerasan tinggal di kota besar. Saya lahir dan tumbuh di desa, ingin meninggal dan dikuburkan di tanah kelahirannku ini.

Lukman yang baru menikah dan tinggal di Semarang pun juga pernah mengajak untuk tinggal di rumahnya. Tapi Aku juga menolaknya. “Jika Aku rindu anak-anak dan cucu-cucu, Aku yang akan mengunjungi kalian. Dan sebaliknya, jika kalian rindu, pulanglah ke desa muasal leluhurmu.” Anak dan menantuku pun akhirnya menyerah dan tidak pernah lagi mengajak untuk tinggal di rumah mereka.

Malam itu Aku menonton wayang di rumah Pak Wiyono yang sedang punya hajat menikahkan anaknya. Berkisah tentang Prabu Ekalaya yang tewas dengan  tragis, setelah ibu jari tangan kanannya yang mengenakan cincin sakti Mustika Ampal dipotong oleh Durna. Dewi Anggraini, istri Prabu Ekalaya melakukan bela pati, bunuh diri untuk menunjukkan kesetiaannya.

Kesetiaan Dewi Anggraini juga pernah diuji, saat digoda oleh Arjuna. Tapi perempuan cantik, lemah lembut, sabar dan jatmika itu tidak terdoga sedikitpun. Perempuan itu masih setia pada suaminya hingga akhir hayat.

Menjelang subuh Aku pulang dengan mengendarai sepeda kayuh. Udara dingin menusuk tulang. Jaket pemberian Bardi yang dibelinya di  Houston, tidak cukup menghangatkan tubuh tuaku. Setelah berganti celana pendek, Aku munuju kamar mandi untuk pipis. Beberapa meter menjelang pintu masuk menuju dapur, Aku mendengar suara seperti seseorang yang sedang memasak. Kulangkahkan kakiku dengan tergesa.

Kubuka selot pintu kupu tarung yang terbuat dari papan jati tebal itu. Suaranya berdecit.Ternyata lampu dapur menyala, dan aroma nasi pandan menguar memenuhi dapur. Aku melihat sekelebat sosok bergerak menuju pintu keluar.

“Siapa?!” Sosok itu tidak menoleh sedikitpun, kemudian menghilang menerabas pintu. Gembok pintu geser itu segera kuloloskan dan daun pintu kugerakkan ke kiri. Setelah berhasil terbuka, Aku melongok keluar. Tidak ada seorangpun, hanya kegelapan dan desir angin.

Udara dingin menerpa tubuhku yang hanya mengenakan kaos oblong tipis dan celana pendek. Aku segera masuk ke rumah. Kukubuka panci liwet untuk menanak nasi itu, ternyata nasinya sudah matang. Segera kuangkat panci itu dan jongkok di depan perapian. Aku tertegun beberapa menit. Siapa sosok yang memasak nasi ini? Aku penasaran.

Tapi setelah peristiwa menjelang subuh itu, sudah tidak ada lagi nasi dan sayur terhidang secara misterius. Keadaan seperti sedia kala. Setiap pagi sebelum pergi ke lahan, Samirah kembali memasak untukku dan buruh tani yang membantuku. (Seperti diceritakan oleh Adi Suryawan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here