Aku Tidak Menangis, Sebab Aku Sudah Kenyang dengan Penderitaan

0
33
(Foto: Cristian Newman @cristian_newman)

Oleh: Djatmiko Prijambodo *)

Berbahagialah orang-orang  yang dibesarkan dalam keluarga yang serba berkecukupan. Mereka tumbuh dengan tanpa beban sejarah yang terus dipikul sepanjang hidupnya. Bersyukurlah mereka yang hidup di tengah  keluarga berada, tidak mengalami getirnya kehidupan kaum papa. Kemiskinan, apapun definisinya, sungguh menyakitkan dan tidak indah untuk dikenangkan.

Ini kisah tentang Jliteng, sahabat masa kecilku yang lahir dan tumbuh dari keluarga miskin. Masa kecilnya yang getir menempanya menjadi manusia yang tahan banting. Kini Jliteng bisa hidup mapan dan mampu menyejahterakan keluarganya. Ini sepenggal kisah hidupnya, yang diceritakan ke padaku, pada sebuah sore yang kering.

Aku, Jliteng, anak yang dibesarkan dalam keluarga miskin. Kami tinggal di perkampungan yang mayoritas penduduknya miskin di Surabaya Timur. Itu pun bukan rumah sendiri, milik pamanku yang bekerja sebagai pegawai negeri. Kami diperbolehkan tinggal dengan gratis, tanpa dipungut biaya sewa.

Bapakku seorang pesuruh sekolah dengan gaji yang sangat kecil. Sedangkan ibuku menjadi pekerja serabutan, membantu tetangga mencuci pakaian, menyetrika, dan membersihkan rumah milik satu-satunya orang kaya di kampungku.

Semua penghasilan orang tuaku dalam sebulan, kadang tidak cukup. Untuk menjaga agar periuk nasi tetap tegak,  pada malam hari bapakku terpaksa menjual Nalo (Nationale Leterij), kupon judi semacam Togel.

Pada awal tahun 70’an, pemerintah memang melegalkan judi yang dikelola oleh Departemen Sosial. Uang yang terkumpul dari perjudian legal itu dipergunakan untuk berbagai kegiatan sosial, seperti bantuan ke panti asuhan dan korban bencana alam.

Ketika persediaan beras habis sedangkan uang sudah menipis, tidak jarang Ibu menyuruhku menggadaikan barang-barang miliknya.  Entah piring, gelas, kebaya, atau kain jarit. Sebab Ibuku tak mau anak-anaknya kelaparan.

Orang-orang memanggilku Jliteng, harfiah berarti hitam. Kulitku memang hitam. Aku dulu juga dekil dan kurus. Bukan, itu hanya julukan, bukan namaku yang sebenarnya. Sesuai surat kenal lahir, aku diberi nama Tatag Mulyawan oleh bapakku. Dia berharap kelak anaknya akan menjadi lelaki yang berani menghadapi kerasnya kehidupan.

Masa kecilku tidak seperti kebanyakan anak-anak lainnya yang begitu mudah mendapatkan sarana bermain. Orangtuaku tidak mampu membelikan kelereng, gambar umbul, dan layang-layang. Jika musim layangan tiba, aku hanya mampu menjadi pemburu layang-layang yang putus dan terbawa angin. Dengan modal ranting bambu yang memiliki banyak cabang di ujungnya.

Aku hobi bermain bola sejak kecil dengan kawan-kawan sebaya. Kami biasa bermain bola plastik di lapangan kecil dekat rumahku. Ketika musim Galatama, aku yang saat itu sudah memasuki usia SMP, selalu menonton di Stadion Gelora 10 Nopember Tambaksari Surabaya. Aku berangkat dengan beberapa kawan menuju stadion legendaris itu, dengan berjalan kaki melewati jalan kampung.

Lebih-lebih ketika Niac Mitra bertanding, Aku tidak pernah melewatkan permainan kesebelasan idolaku itu. Nama-nama Djoko Malis, Syamsul Arifin,Yessy Mustamu, Hanafing dan Fandi Ahmad, masih melekat dalam ingatanku.

Setelah tiba di stadion, bukan loket penjualan karcis yang kami tuju, tetapi bergerombol di dekat gerbang utama bersama ratusan anak sebaya lainnya. Aku dan anak-anak sebayaku itu tidak mampu membeli karcis.  Kami berharap pintu gerbang utama segera dibuka, seperempat jam sebelum pertandingan usai. Saat itu lah kesempatan kami untuk berebut masuk, kemudian menyebar ke tribun.

Tapi jika lawan mainnya kesebelasan favorit seperti Arseto, Jayakarta dan Warna Agung, bisa dipastikan pintu gerbang utama tidak dibuka. Maka kami segera mendorongnya beramai-ramai agar pintunya jebol.

Meskipun miskin, aku bukanlah anak yang bodoh. Selepas SMP aku diterima di SMA negeri dan sekolah kejuruan (SMK) negeri. Dua-duanya adalah sekolah negeri favorit di Surabaya. Saat itu memang tes masuknya tidak bersamaan.

Sebenarnya aku ingin mengambil SMA saja. Sebab itu SMA favorit, yang tidak sembarang siswa SMP bisa diterima. Tapi orang tuaku ingin aku segera bekerja, karena tidak memiliki biaya untuk meneruskan jenjang hingga kuliah.

Akhinya aku terpaksa masuk ke SMK, dengan harapan bisa lebih mudah mencari kerja setelah lulus, agar bisa membiaya sekolah 3 adikku.

Keputusanku masuk SMK disesali oleh kawan-kawanku, utamanya kawan perempuan. Mereka mendatangi rumahku, betanya kenapa melepas SMA negeri favorit. Setelah kujelaskan duduk permasalahannya, akhirnya kawan-kawanku bisa mengerti

Pada akhir tahun kedua di SMK, hatiku tertambat pada gadis jelita yang menjadi tetangga baru di kampungku. Ketika aku menyatakan cinta kepadanya,  cintaku berbalas. Kami pun pacaran dengan sembunyi-sembunyi. Sebagai anak dari keluarga miskin, mana mungkin aku diterima keluarganya.

Kami lebih sering berkomunikasi melalui surat, itu pun lewat salah satu kawan kami yang menjadi perantaranya. Dalam salah satu surat, dia mengajakku menonton Gita Cinta dari SMA, film remaja yang dibintangi Rano Karno dan Yessy Gusman.

Bagaimana mungkin aku memenuhi permintaannya! Uang dari mana untuk membeli karcis bioskop yang tidak murah itu!? Segera saya balas suratnya. Saya memohon maaf karena tidak bisa memenuhi permintaannya, karena tidak punya uang.

Balasan suratnya mengejutkan. Dia berjanji akan menaggung semua biayanya. Maka kami pun berangkat ke gedung bioskop dengan sembunyi-sembunyi.  Saat itu aku berjanji, kelak jika sudah bekerja, akan kubalas semua kebaikannya itu.

Setelah lulus SMK, aku diterima di sebuah perusahaan multinasional, dengan gaji yang besar. Kabar gembira segera kusampaikan kepada kedua orang tuaku. Ibu dan bapakku menangis bahagia. Tidak menyangka anak yang dibesarkan dalam keterbatasan itu bisa menjadi pekerja perusahaan bonafide.

Kabar gembira itu juga kusampaikan kepada kekasihku, lewat surat tentu saja. Dia menyambutnya dengan antusias, rasa bahagianya tidak disampaikan hanya melalui kata-kata, tapi juga dengan harum kertas suratnya.

Seperti halnya kehidupan, kebahagiaan juga tidak abadi. Keluarga kekasihku pindah ke luar kota. Hal itu menjadi awal terputusnya kisah cintaku. Kami pun putus. Kabar menyedihkan itu disampaikan olehnya melalui surat. Tidak ada lagi kata-kata romantis dan wangi bunga di kertas suratnya.

Mungkin dia sudah mendapat kekasih baru yang kaya dan punya masa depan yang lebih cerah, dibanding Jlitheng yang berasal dari kasta paria ini. Aku tidak menangis. Sebab dari lahir aku sudah kenyang dengan segala penderitaan. (***)

*) penulis tinggal di Gresik, waktu luangnya banyak dihabiskan untuk berkebun di halaman rumah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here