Wikanto Merelakan Karyawannya yang Sudah Mahir untuk Membuka Bengkel  Sendiri

0
41
Meskipun memiliki beberapa karyawan, Wikanto tidak segan untuk terjun langsung di bengkelnya. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Di bengkel berukuran 5 x 4 meter itu ada  4 sepeda motor yang sedang direparasi oleh 4 mekanik. Mulai dari reparasi berat hingga ringan, seperti penggantian kampas rem dan servis rutin. Beberapa sepeda motor lainnya sedang mengantri giliran untuk ditangani.

Meskipun letaknya di area pemukiman, Bengkel “To Jaya Motor” relatif ramai. Konsumennya terutama berasal dari  beberapa kompleks perumahan seputaran Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas, Gresik.

Menurut Wikanto (52), pemilik bengkel sepeda motor itu, dia juga punya konsumen setia yang berasal dari luar daerah tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah konsumen lama saat dia bergabung di komunitas sepeda  motor di Gresik.

“Saya mulai membuka bengkel sejak tahun 1998. Sebelumnya saya kerja sebagai mekanik di bengkel sepeda motor milik orang, selama 7 tahun. Dari awal saya bermimpi ingin memiliki usaha sendiri. Membuka bengkel kecil-kecilan di rumah, sehingga punya lebih banyak waktu untuk keluarga,” ujar alumnus SMK Negeri I Blitar jurusan mesin otomotif tersebut.

Wikanto mengakui jika gagasan membuat usaha bengkel itu didukung oleh beberapa anggota PMCC (komunitas sepeda motor Petrokimia Gresik), yang dikenalnya sejak awal tahun ’90-an. Karena mereka sudah tahu reputasinya saat masih menjadi mekanik di tempat dia bekerja sebelumnya.

Awalnya konsumen di bengkel Wikanto kebanyakan dari anggota PMCC. Bengkel pertamanya memanfaatkan  teras rumah kontrakan, yang letaknya tidak jauh dari rumah yang ditempatinya saat ini.

“Saya buka bengkel dengan modal pas-pasan. Uang hasil menabung selama kerja, saya belikan peralatan standar perbengkelan. Saat itu jumlah konsumen per hari hanya 2 hingga 4 sepeda motor. Tapi tetap saya telateni,” katanya.

Ketekunannnya membawa hasil, dari hasil usahanya selama 2 tahun, dia mampu membeli tanah seluas 120 meter persegi. Di tanah tesebut, suami dari Surtini itu  membuat bengkel ala kadarnya dengan luas 4 x 5 meter, pada tahun 2000.

Di tempat yang baru ini bengkel Wikanto semakin ramai. Dari semula paling banyak 4 sepeda motor perhari, meningkat menjadi 10 hingga 15 sepeda motor per hari.

Dia pun mengembangkan usahanya dengan menambah berbagai peralatan mutakhir dan membuka toko onderdil sepeda motor di sebelah bengkelnya. Kemudian dilanjutkan dengan membangun rumah tinggal di lokasi yang sama.

Seiring dengan berkembangnya usaha, jumah karyawannya juga meningkat, dari 1 orang hingga pernah mencapai 7 orang. Latar belakang pendidikan  karyawannya tidak semuanya memiliki pendidikan formal otomotif.

Wikanto (kiri) tidak pelit berbagi ilmu pada semua karyawannya. (gemahripah.co)

Jika ada yang tidak memiliki dasar-dasar otomotif, Wikanto yang mengajari mereka dari awal hingga mahir.  Butuh waktu antara 1 hingga 1,5 tahun untuk bisa menjadikan mereka mahir.

“Setelah mereka mahir dan ingin mendirikan bengkel sendiri, saya tidak akan mencegahnya. Sebab mereka juga berhak untuk mandiri dan mendapatkan kehidupan yang lebih baik,” jelasnya.

Terhitung sudah ada 3 karyawan bengkelnya yang sudah mahir, kemudian mengundurkan diri untuk membuka bengkel sendiri. Merek keluar secara baik-baik dan saat ini ketiganya menjadi pengusaha bengkel yang berhasil.

“Saya tidak pelit ilmu pada karyawan. Saya membagikan ilmu yang saya punya pada mereka, sehingga mereka menjadi mekanik yang andal, syukur-syukur bisa mendirikan bengkel sendiri. Saya yakin, jika kita memberikan kemudahan pada orang lain, Insha Allah saya akan diberi kemudahan juga oleh Allah,” tegasnya.

Lantas, apakah mudah mencari pengganti mereka? Ternyata tidak  mudah, karena bapak 3 anak ini ingin mendapatkan karyawan sesuai kriteria yang diinginkan.

Untuk merekrut karyawan baru, Wikanto mengetes mereka dengan cara diminta untuk membersikan bengkel. Jika hasilnya memuaskan, mereka bisa melakukan tugasnya dengan baik, dia akan menerimanya. Sepertinya cukup aneh, bukannya malah mengetes kecakapan mereka dalam hal otomotif.

“Yak karena kerja di bengkel itu membutuhkan fisik dan pikiran yang prima, saya butuh orang yang benar-benar ingin bekerja dengan sungguh-sungguh. Saya tidak merekrut karyawan berdasar ijazah dan kecakapan saja,” paparnya.

Untuk menambah modal usaha, Wikanto mendapat pinjaman dari Petrokimia Gresik. Dia mengaku bahwa pinjaman melalui program kemitraan CSR Petrokimia Gresik ini, banyak membantu dalam mengembangkan  usahanya.

Dalam mengembangkan usaha To Jaya Motor, peran Petrokimia Gresik tidak bisa diabaikan. (Foto: gemahripah.co)

“Sudah angsurannya ringan, pengusaha kecil seperti saya ini pun banyak mendapat kemudahan dari Petrokimia Gresik. Pada pinjaman pertama, saya tidak wajib mengangsur hingga 6 bulan. Ini tentu saja sangat membantu dalam menjalankan usaha saya,” akunya.

Yang tidak kalah pentingnya, menurut Wikanto, adalah program pelatihan yang diadakan oleh Petrokimia Gresik. Lelaki kelahiran Blitar itu mengaku sudah beberapa kali mengikuti pelatihan dengan  berbagai materi.

Wkanto menyampaikan, materi pelatihannya macam-macam, misalnya bagaimana cara menghadapi pelanggan, meningkatkan pelayanan, mengelola keuangan, dan banyak lagi.

“Semua biaya yang timbul juga ditanggung Petrokimia Gresik. Tidak hanya itu, semua peserta mendapat uang harian. Saya mengucapkan terima kasih pada Petrokimia Gresik,” ujarnya bersemangat.  (Arief Satriyo Wibowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here