Wawasan Bisnis Hana Nur Rosyidah Semakin Luas Setelah Mengikuti Berbagai Pelatihan dan Pameran

0
33
Hana Nur Rosyidah sedang menata busana muslim untuk anak, sebelum dikirim ke pemesan. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Setelah lulus dari Politeknik Universitas Brawijaya tahun 1998, Hana Nur Rosyidah (46) bekerja di perusahaan developer lahan industri. Tapi kontraknya tidak diperpanjang, karena perusahaan tempat dia bekerja terkena dampak krisis moneter.

“Saya putuskan untuk menikah pada tahun itu juga. Untuk sementara kami hidup dari pekerjaan suami yang berprofesi sebagai penjahit rumahan. Sambil memikirkan usaha  ke depannya,” ujar perempuan yang akrab dipanggil Hana itu.

Saat itu di Gresik  masih belum banyak pedagang yang menjual gamis dengan ukuran besar. Sedangkan dia melihat cukup banyak Muslimah yang mencarinya. Peluang itu ditangkap oleh Istri dari Mochammad Yasin tersebut. Maka dia mulai merancang untuk membuatnya.

Hana segera memulai dengan membuat desain, dan hasilnya diserahkan pada suaminya untuk dijadikan gamis jumbo. Setelah jadi beberapa potong, gamis itu dititipkan ke ibunya yang membuka toko pakaian di Pasar Gresik.

Upaya ibu 2 anak itu tidak hanya berhenti sampai di situ. Dia mulai mengumpulkan modal untuk menyewa stan di pasar yang sama. Dengan modal yang tidak seberapa, Hana mendapatkan stan sempit dengan letak yang kurang strategis. Dia pun menjual berbagai macam busana muslimah.

“Meskipun sepi, saya tetap telaten untuk mengelolanya. Sebab saya yakin jika usaha dikelola dengan sungguh-sungguh akan membuahkan hasil,” kisahnya.

Mochammad Yasin, suami Hana Nur Rosyidah sedang menjahit jas almamater pesanan salah satu kampus di Gresik. (Foto: gemahripah.co)

Belum genap 6 bulan, Pasar Gresik terbakar hebat. Hampir semua stan di pasar yang terletak di Jl. Samanhudi itu ludes dilalap api, termasuk stan yang disewa Hana.

“Oleh Pemkab Gresik, semua pedagang dipindahkan ke stan darurat di sepanjang Jl. Samanhudi. Semua pedagang mendapat jatah stan dengan ukuran sama, termasuk saya. Saya diuntungkan, stan yang saya dapatkan lebih luas dari sebelumnya. Kebakaran itu ternyata membawa hikmah,” katanya.

Di stan darurat usaha Hana ternyata malah tambah maju. Pembelinya semakin banyak, sehingga omzetnya meningkat hingga 20 kali lipat dari sebelumnya.

“Waktu itu sedang musim kerudung instan. Dengan modal Rp25 ribu, saya jual kerudung tersebut dengan harga Rp75 ribu hingga Rp90 ribu. Pembeli suka karena desainnya cantik, beda dari yang lain,” ucapnya.

Kerudung dengan desain cantik itu bordirannya dikerjakan  oleh kolega yang tinggal di Kecamatan Dukun, Gresik. Dia bertemu tanpa sengaja,  ketika koleganya tersebut membeli busana muslim di stannya.

Mereka akhirnya sepakat untu menjalin kerjasama. Kolega dan 4 orang kawannya  diberi order untuk membordir kerudung yang  dibuat oleh suaminya. Semenjak itu usaha Hana meningkat pesat.

“Tapi setelah dua tahun menempati stan darurat, dan harus kembali menempati Pasar Gresik yang selesai dibangun pada tahun 2003, usaha saya mengalami penurunan. Lokasi stan tidak strategis,” ujarnya.

Saat itu Hana harus memilih antara meneruskan usaha atau berhenti agar kehamilannya tidak bermasalah. Sebab beberapa kali dia mengalami pendarahan. Akhirnya dia memutuskan untuk menghentikan usahanya dan lebih fokus untuk menjaga kehamilannya.

Beberapa produk yang diproduksi oleh Hana Nur Rosyidah dengan merk Diassalam. (Foto: gemahripah.co)

“Selama 6 tahun  menikah saya belum dikaruniai anak. Ketika bisa hamil, tentu saja saya harus menjaganya agar tidak bermasalah. Setelah anak saya lahir tahun 2004 dan hamil lagi pada tahun  2006, saya mencoba merintis usaha konveksi lagi dengan merk Diassalam,” paparnya.

Hana mulai dari nol lagi. Dia menitipkan pakaian yang dibuat suaminya, ke ibu dan beberapa kawannya. Hana juga kembali bekerja membantu ibunya mengelola toko di Pasar Gresik.

“Kami membuat berbagai pakaian yang diinginkan pasar, tidak sebatas hanya busana muslim. Kami pernah mendapat order dengan nilai yang lumayan besar dari salah satu kampus di Gresik. Mereka memesan 35 potong jas almamater,” jelasnya.

Usaha konveksinya pun semakin berkembang. Dari semula mempekerjakakan 5 tukang bordir manual menjadi 20 tukang, dan 5 penjahit yang bekerja di rumahnya.  Untuk menambah modal, Hana mencoba mengajukan proposal ke Petrokimia Gresik melalui program kemitraan CSR.

“Pinjaman modal dari Petrokimia Gresik sangat membantu usaha saya. Angsurannya ringan, dan ketika ada keterlambatan dalam membayar angsuran, karena usaha lagi sepi, mereka bisa memahami. Di samping itu, saya juga sering diikutkan berbagai pelatihan dan pameran,” ujarnya.

Oleh Petrokimia Gresik, Hana pernah diikutkan pameran di Surabaya, Yogjakarta, Jakarta, hingga Malaysia. Tujuannya, selain mengenalkan produk kepada pasar yang lebih luas, juga untuk menambah wawasannya dalam berbisnis.

“Dengan ikut pameran, saya jadi tahu pakaian yang lagi in itu yang seperti apa. Kenapa desain pakaian yang tampaknya biasa  kok harganya bisa mahal. Selain itu, dengan ikut pameran saya mendapat jaringan pertemanan yang lebih luas,” katanya.

Ketika pameran di Yogjakarta, Hana  berkenalan dengan seorang pengusaha butik dari kota tersebut. Dari kenalan barunya itu, dia mendapat order untuk membuat busana anak.

“Padahal baru ketemu sekali, tapi pengusaha dari Yogjakarta itu begitu percaya pada saya. Ya karena saya berangkat pameran dengan nama besar Petrokimia Gresik. Saat saya pulang, pengusaha itu memberi saya 50 roll kain untuk bahannya,” jelasnya.

Hana berharap, Petrokimia Gresik tetap konsisten membina pengusaha kecil seperti dirinya. Sebab sejak menjadi mitra binaan  CSR pabrik pupuk terbesar di Indonesia itu, dia mendapatkan banyak manfaat. (Arief Satriyo Wibowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here