Puluhan Ton Kapur Pertanian Kebomas Masuk NTT untuk Program Reboisasi

0
34
(foto: istimewa)

gemahripah.co – Jumat pagi, 29 November 2019.  Matahari terasa menyengat kulit, udara di Pantai Pede demikan gerah. Lima buruh angkut berjalan beriringan memanggul Kapur Pertanian (Kaptan) Kebomas kemasan 50 kilogram.

Mereka menuju ke kapal kayu yang berlabuh di perairan pantai yang terletak di Desa Labuhan Bajo, Kecamatan Komodo, Mangggarai Barat, NTT tersebut.  Ketika mendekat ke perahu, tubuh para kuli angkut terbenam di laut hingga sebatas dada. Sesekali tubuh mereka terhuyung terkena gelombang.

Jarak dari tumpukan kapur pertanian  yang diproduksi oleh Petrokimia Gresik (PG) itu menuju ke kapal kayu cukup jauh,  sekitar 25 meter. Tapi mereka bekerja dengan gesit, sehingga tidak lebih dari dua jam, aktivitas muat selesai. Perlahan perahu kayu bermotor bergerak perlahan menuju ke Pulau Papagaran.

Edy Sasmito (29), Staf Penjualan PG untuk wilayah Provinsi NTT, menunggu hingga perahu dengan muatan penuh itu hilang di balik cakrawala. Dia bergegas kembali ke kantornya, untuk mempersiapkan pengiriman tahap ke dua.

“Baru pertama kali ini Kaptan Kebomas masuk ke NTT. Pengiriman dari Gresik ke Labuhan Bajo sebanyak 22 ton, sedangkan sisanya sebanyak 22 ton akan dikirimkan kemudian. Jadi total yang masuk ke NTT sebanyak 44 ton,” ujarnya.

Edy mengungkapkan, ada 2 distributor yang mendatangkan kaptan tersebut, UD Harum Jaya dan CV Lancar Jaya. Keduanya berdomisili di Manggarai Barat.

“UD Harum Jaya berminat untuk menyalurkan Kaptan Kebomas, setelah kami menyosialisasikan produk tersebut. Karena menurut mereka, (Kaptan Kebomas) ternyata memiliki potensi yang bagus,” paparnya.

Lebih lanjut Edy menyampaikan, 22 ton Kaptan Kebomas yang dikirim dari Gresik untuk tahap pertama, sampai di Gudang Penyangga Labuhan Bajo pada 25 November 2019. Selain ke Pulau Papagaran, Kaptan Kebomas juga akan dikirim ke Pulau Rinca dan Kecamatan Sano Nggoang.

“Yang di Pulau Papagaran untuk reboisasi penanaman pohon  kedondong hutan, untuk lahan seluas 75 hektar. Di Pulau Rinca kegiatan menanam pohon Kayu Asam, Kayu Kesambi, Bidara, Sawu Kecik dan Sirsak untuk lahan 20 hektar. Sedangkan di Kecamatan Sano Nggoang, untuk tanaman Kemiri dan Mahoni untuk lahan 100 hektar,” jelasnya.

Edy mengungkapkan, kegiatan reboisasi tersebut merupakan program dari  Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi NTT.

Masuknya Kaptan Kebomas, jelasnya,  merupakan awal penetrasi pasar di wilayah NTT. Kehadiran produk tersebut menyusul produk pengembangan PG lainnya, yang sudah dulu masuk seperti Petrofish dan Petrobiofeed.

“Sebelumnya petani, kios dan distributor tidak ada yang mengaplikasikan dan menjual produk- pengembangan tersebut. Jadi kami harus mensosialisasikannya ke tingkat distributor dan kios. Alhamdulillah ternyata ada hasilnya,” ucapnya.

Selama ini, kata Edy, kendalanya adalah masalah  transportasi ke NTT, utamanya pada mahalnya ongkos kirim. Sebagai bentuk pelayanan kepada pelanggan, PG ikut membantu mencarikan perusahaan transportasi yang murah.

“Untuk pengiriman, kami berkoordinasi dengan Departemen P3 (salah satu unit kerja di PG yang mengurusi produk pengembangan),” katanya.

Menurut Manager Humas PG Muhammad Ihwan, masuknya Kaptan Kebomas merupakan langkah maju bagi PG  sebagai anggota holding Pupuk Indonesia dan produsen Solusi Agroindustri.

Sebagai pembenah tanah,  jelasnya, Kaptan Kebomas mampu memperbaiki sifat fisik dan biologi tanah. Sehingga tanah bisa kembali bugar.

“Keterlibatan produk PG dalam reboisasi di NTT merupakan komitmen PG pada lingkungan, demi mengembalikan daya sangga ekosistem. Dan hal ini menjadi bukti kehadiran PG di wilayah ujung selatan republik ini,” paparnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here