“Nizar Craft” Mengubah Koran Bekas Menjadi Sepeda Motor, Mobil, Rumah Kuno dan Kapal Induk Australia

0
80
Achmad Amaluddin sedang menggulung kertas untuk dibentuk menjadi berbagai karya. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Di rumah Achmad Amaluddin (61) berbagai karya dengan bentuk dan ukuran beragam menumpuk pada beberapa sudut, mulai dari garasi hingga ruang tamu.

Di garasi rumah yang terletak di Jl. Kammarudin HH/27, Perumahan Bukit Randuagung, Gresik tersebut, berderet damar kurung, miniatur rumah kuno, miniatur kapal phinisi dan diorama.

Di ruang tamu lebih banyak lagi ragamnya, mulai dari asbak, rumah telepon umum, hingga miniatur sepeda onthel, sepeda motor, hingga mobil dan kapal induk.

Berbagai  karya kerajinan itu begitu indah dan mirip dengan bentuk aslinya. Setiap sudut dan potongannya dibuat dengan cermat, rapi  dan detail.

Beberapa karya seperti miniatur sepeda motor, mobil, rumah era kolonial dan kapal induk dimasukkan ke dalam kotak mika transparan. Hampir semuanya dibuat dari gulungan koran bekas.

“Karya yang saya buat lebih banyak menggunakan koran bekas. Memang saya sengaja memanfaatkan bahan dari koran bekas, karena saya ingin membuat sesuatu yang berbeda dari orang lain,” kata Amaluddin.

Bermula pada tahun 2016, saat mantan pegawai BUMN itu memutuskan membuat toko untuk mengisi masa pensiunnya. Tapi saat itu suami dari Erma Suryani tersebut tidak tahu akan berjualan apa.

Ketika dia melihat istri dan anak perempuannya membuat beberapa tas rajut, terpikir di benaknya untuk menjual kerajinan tersebut di toko yang baru dibangun. Dia memberi nama tokonya “Nizar Craft”, diambil dari nama anak lelaki bungsunya.

“Dari awal saya ingin membuka usaha yang tidak banyak saingannya. Jika hanya menjual tas rajut, rasanya sudah banyak orang yang melakukan,” ujarnya.

Maka Amaluddin mulai mencari inspirasi dengan melihat-lihat Youtube. Suatu ketika dia menemukan tayangan tentang tips membuat karya dari gulungan koran bekas.

Bapak 3 anak dan kakek 2 cucu itu optimis  bisa membuat karya seperti yang dilihatnya di Youtube. Setelah belajar lebih kurang selama 3 bulan, dia mulai bisa menguasai teknik menggulung koran dan membentuknya menjadi karya berbagai bentuk.

“Kebetulan anak saya yang pertama punya hobi mengkoleksi action figure, yang membutuhkan latar belakang untuk kepentingan pemotretan. Saya pun diminta untuk membuat  diorama dengan miniatur Menara Eiffel,” paparnya.

Setelah foto action figure dengan diorama tersebut diunggah di media sosial oleh anak pertamanya, ada beberapa orang di komunitas hobi tersebut yang memesan. Beberapa di antaranya memesan robot Transformer, dan gedung-gedung yang terkesan rusak karena terkena rentetan tembakan Robocop.

“Untuk membuat karya itu, saya mengkombinasikan kertas koran bekas dengan styrofoam, agar lebih indah dan tampak seperti aslinya. Setelah itu pesanan terus mengalir. Saya juga pernah membuat miniature hutan dengan bahan kombinasi gypsum,” ungkapnya.

Kapal induk Ausralia, salah satu karya Achmad Amaluddin yang dipesan oleh kapten kapalnya. (Foto: gemahripah.co)

Awal tahun 2018, karya Amaluddin mulai dikenal masyarakat Jawa Timur. Bermula dari keikutsertaannya pada acara yang diadakan oleh komunitas ekonomi kreatif.  Dia diminta untuk membuat miniatur rumah kuno di Kampung Kemasan, salah satu cagar budaya Gresik.

Karya dari gulungan koran itu dijadikan objek lomba fotografi tingkat Provinsi Jawa Timur. Acara yang diadakan oleh komunitas ekonomi kreatif tersebut diliput oleh media. Karena karya Amaluddin dianggap unik,  beberapa media cetak dan elektronik meliputnya secara khusus.

“Sejak saat itu permintaan mulai meningkat. Konsumennya pun dari berbagai daerah, bahkan hingga luar Jawa Timur. Bentuknya juga semakin beragam dan rumit. Ada yang minta dibuatkan klenteng dan kapal phinisi,” jelasnya.

“Yang paling banyak dipesan konsumen adalah rumah telepon, sepeda onthel, sepeda motor, perahu phinisi, dan Menara Eiffel. Harganya mulai dari Rp150 ribu hingga jutaan Rupiah,” bebernya.

Berbagai karya Achmad Amaluddin dibuat dari gulungan koran bekas. (Foto: gemahripah.co)

Seiring dengan banyaknya pesanan, Amaluddin mulai berpikir untuk menambah modal usaha. Dia kemudian mengajukan proposal ke Petrokimia Gresik melalui program kemitraan, pada tahun 2018. Karena performanya bagus, dia mengajukan lagi hingga tahun berikutnya.

“Selain mendapatkan pinjaman uang untuk modal usaha, saya juga difasilitasi oleh Petrokimia Gresik untuk mengikuti beberapa pameran, baik di Gresik maupun Jakarta. Setelah ikut pameran di Jakarta, saya mendapat pesanan dari Australia dan Amerika,” ungkapnya.

Amaluddin menyampaikan, pesanan dari Australia berupa miniatur kapal induk, yang dipesan oleh kapten kapalnya. Karyanya saat itu dihargai mahal, Rp7 juta, karena pembuatannya yang rumit dan butuh waktu lama.

“Saya merasakan betapa Petrokimia Gresik sangat peduli dengan pengusaha kecil seperti saya ini,” pungkasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here