Lahir dari Keluarga Kurang Mampu Tidak Surutkan Langkah Mawar Fitriyah Menggapai Cita-Cita

0
120
Meskipun bapaknya hanya penjual batu nisan, Mawar Fitriyah bertekat untuk menata masa depan yang lebih baik. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Empat tahun yang lalu Mawar Fitriyah (22) sempat bingung untuk menentukan langkah setelah lulus dari SMA. Bagaimana tidak, keinginannya untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi terhambat masalah biaya.

Fitriyah menyadari, bapaknya hanyalah pedagang batu nisan dengan penghasilan yang tidak seberapa. Untuk biaya hidup sehari-hari dan biaya sekolah dia dan empat saudaranya saja, bapaknya sudah kedodoran. Apalagi untuk biaya kuliahnya.

Tapi perempuan muda  dari Desa Sembayat, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik tidak patah semangat. Dia harus bisa kuliah, entah bagaimana caranya. Anak dari pasangan Mohammad Shokeh dan Muslihah itu pun nekat mengikuti Seleksi Nasional Masuk Perguruan tinggi Negeri (SNMPTN).

“Saat SNMPTN saya sudah ‘klik’ di akuntansi, tapi masih bingung memilih Unair atau UB. Akhirnya saya putuskan daftar ke Akuntansi Unair, sebagai pilihan pertama,” ujarnya.

Sambil menunggu pengumuman kelulusan, Fitriyah mendatangi kantor Bimbingan dan Konseling (BK) SMA-nya, untuk mencari informasi tentang beasiswa. Oleh salah satu guru BK, anak ke 2 dari 5 bersaudara itu diberitahu tentang Program BESTRO (Beasiswa Petrokimia Gresik).

“Saat itu saya baru tahu jika BESTRO memiliki beberapa persyaratan, salah satunya adalah hanya berlaku untuk mahasiswa jurusan tertentu. Pilihan pertama saya saat itu, Akuntansi Unair, termasuk salah satu jurusan yang bisa di-cover Bestro. Sedangkan pilihan kedua tidak masuk,” ungkapnya.

Fitriyah gamang,  jika diterima di pilihan kedua, maka dia tidak bisa mengikuti program BESTRO. Lantas bagaimana caranya bisa melanjutkan kuliah? Tapi nasib masih berpihak padanya, Fitriyah diterima di Akuntansi Unair.

“Untuk bisa mendapatkan BESTRO harus melalui beberapa tahapan. Sedangkan setelah diterima saya harus membayar UKT (uang kuliah tunggal), dan biaya hidup selama tinggal di Surabaya,”

Untuk membayar UKT sebesar Rp1 juta, bapaknya harus berhutang dulu kepada temannya. Sedangkan biaya hidup sehari-hari selama menjadi anak kos, bapaknya pinjam pada saudaranya.

“Tiap akhir minggu saya pulang naik angkot, saat balik ke tempat kos saya mendapat uang saku antara Rp200 hingga Rp300 ribu,” jelasnya.


Mawar Fitriyah mengakui Pogram BESTRO punya peran besar dalam menunjang biaya kuliahnya. (Foto: gemahripah.co)

Dua bulan setelah kuliah Fitriyah menerima pemberitahuan dari Petrokimia Gresik yang menyatakan dia diterima di Program BESTRO.

“Saya merasa sangat bersyukur, dalam kesulitan Allah memberi jalan melalui Program BESTRO. Saya bertekad untuk  tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Saya harus serius kuliah agar menghasilkan yang terbaik,” ujarnya.

Selama kuliah Fitriyah aktif di organisasi Kelompok Studi Pasar Modal. Di situ dia belajar tentang pasar modal, pernah mencoba juga trading saham.

“Pada semester 7 saya mendapat tawaran untuk magang di KONI (Komite Olah Raga Nasional Indonesia) Jatim, untuk membantu dosen dalam manajemen aset,” terangnya.

Di tengah kesibukannya di luar kampus, Fitriyah masih bisa mengatur waktu untuk menyelesaikan skripsi tepat waktu pada April 2020. Dia akhirnya berhasil lulus  cum laude dengan IPK 3,73.

“Saya diwisuda pada Juni 2020, dan 5 bulan kemudian saya bekerja di KONI Jatim sebagai staf pengadaan. Pada bulan Januari 2021 saya diterima di bank Jatim. Karena saya memilih untuk bekerja di Bank Jatim, maka saya resign dari KONI,” ungkapnya.

Fitrityah mengakui betapa besar peran BESTRO dalam menunjang biaya kuliahnya. Uang dari program Bina Lingkungan CSR Petrokimia Gresik itu tidak dinikmatinya sendiri. Sesekali dia membagi uang yang diterima setiap bulannya itu kepada sesama yang membutuhkan biaya.

Seperti halnya Fitriyah, ada banyak anak dari keluarga kurang mampu tapi memiliki potensi untuk maju, yang terbantu derngan adanya BESTRO. Tidak sedikit kisah sukses dari anak-anak muda yang mengikuti program beasiswa pendidikan itu.

Menurut Vice President CSR Petrokimia Gresik, Muhammad Ihwan, sejak dimulainya Program BESTRO tahun 2012, Petrokimia Gresik sudah memberikan beasiswa pendidikan untuk SMA dan S1 sebanyak 336 orang dengan nilai Rp19,4 milyar.

“BESTRO merupakan salah satu implementasi dari program CSR Petrokimia Gresik dalam mengembangkan pendidikan bagi masyarakat.  Beasiswa pendidikan ini diberikan kepada siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu yang  berasal dari Kabupaten Gresik,” pungkasnya. (Soraya Anggun)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here