Kunci Sukses Industri Tas “Titato”: Mengikuti Tren, Menjaga Kualitas dan Ketepatan Waktu Kirim ke Konsumen

0
37
Sugeng Margoto memulai usaha industri tas rumahan dengan modal awal Rp1 juta, dari hasil menjual sepeda motor bebek miliknya.  (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Jika bukan karena konflik dengan pemilik usaha industri tas tempatnya bekerja dulu, Sugeng Margoto (52) belum tentu memiliki usaha seperti sekarang. Sebab suami dari Lailatul Farida itu tidak pernah punya mimpi untuk membuat usaha industri tas rumahan.

Tahun 1998 Sugeng mulai merintis usaha industri tas dengan mengusung merk “Titato”. Berbekal pengalaman bekerja sebagai tenaga pemasaran di industri tas, dan uang sebesar Rp1 juta hasil penjualan sepeda motor bebek miliknya.

“Sebenarnya saya sempat bekerja sebagai sopir pada  perusahaan swasta di Gresik. Tapi saya tidak tahan karena gajinya minim. Nilainya hanya seperempat dari gaji yang saya terima di tempat kerja sebelumnya. Padahal saat itu saya sudah menikah dan punya anak,” ujarnya.

Modal awal Rp1 juta itu dibelikan bahan untuk dibuat tas anak-anak sebanyak 120 biji.  Setelah desain yang dibuatnya jadi,  diserahkan kepada tukang jahit. Saat itu bapak satu anak dan kakek satu cucu tersebut bekerjasama dengan 1 tukang jahit lepas, dengan sistem borongan.

Setelah semuanya selesai, tas anak-anak hasil produksi pertamanya segera dipasarkan  ke Pasar Turi Surabaya. Dia mandatangi seluruh stan-stan yang menjual tas, untuk menawarkan tas yang diproduksinya.

Sugeng memang sudah mengenal sebagian besar pedagang tas di Pasar Turi, sejak dia menjadi tenaga pemasar di tempat kerja saja dulu. Karena kualitasnya relatif bagus, desainnya menarik dan harganya bersaing, seluruhnya laku dan dibayar tunai.

“Selain itu momennya juga tepat, karena akan memasuki tahun ajaran baru,” jelas penggemar sepeda motor jadul itu.

Selain kualitasnya relatif bagus, harga tas Titato bersaing di pasaran. (Foto: gemahripah.co)

Menginjak tahun 2003, omzetnya mulai bergerak naik  sejak dia kenal pedagang tas dari Ujung Pandang. Konsumen barunya itu langsung memesan 4.800 buah, jumlah yang sangat banyak.

“Tadinya pedagang itu kulak tas yang saya produksi dari beberapa toko tas di Pasar Turi. Dia mengaku melacak nomor telepon saya dari penjual bahan tas, dengan menunjukkan merk “Titato”. Setelah itu dia menelepon saya, dan langsung memesan,” akunya.

Begitu menyatakan kesanggupan untuk menerima order tersebut, Sugeng berpikir tentang bagaimana dia akan mendapatkan tambahan modal. Untuk membuat pesanan tas dalam jumlah yang tidak sedikit, tentu membutuhkan modal yang sangat besar.

“Tapi Allah memberi jalan. Ketika saya datang ke toko bahan tas langganan, pemiliknya mempersilakan mengambil bahan dengan cara dibayar belakangan,” jelasnya.

Biasanya, lanjut Sugeng, pemilik toko bahan tas itu tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Jangankan kurang jutaan rupiah,  pembayaran kurang Rp200 ribu saja tidak boleh.

Beberapa jenis tas diproduksi pada waktu yang tepat, kapan harus membuat tas travelling dan kapan memproduksi tas sekolah. (Foto: gemahripah.co)

“Pemilik toko bahan  tas tahu jika saya mendapatkan order dalam jumlah besar dari pedagang tas dari Ujung Pandang. Sehingga mereka percaya dan bersedia saya bayar belakangan,” katanya.

Tahun 2008 usahanya semakin berkembang pesat, karena ada tambahan konsumen dari Banjarmasin, Bali, Jember dan Malang.

Sugeng terus berusaha mengikuti tren agar desain tasnya tidak ketinggalan jaman. Dia juga membuat jadwal, kapan harus membuat tas travelling, kapan memproduksi tas sekolah.

“Saat menjelang liburan, saya menggenjot produksi tas travelling. Ketika tiba tahun ajaran baru, gentian tas sekolah yang dipacu produksinya. Dari sisi kualitas terus kami jaga, dan yang tidak kalah pentingnya alah ketepatan waktu pengiriman ke konsumen, untuk meminimalkan komplain,” terangnya.

Untuk tambahan modal usaha, pada tahun 2000 Sugeng mendapatkan kucuran dana dari program kemitraan CSR Petrokimia Gresik. Karena reputasinya bagus, dia tidak menemui kendala berarti ketika mengajukan pinjaman lagi.

“Pada pinjaman kedua, saya gunakan untuk membeli tanah di Jl. Akim Kayat VII B, Gresik, yang saya jadikan sebagai workshop. Dengan adanya tempat kerja baru ini, Alhamdulillah produksi tas semakin lancar dan penjualan terus meningkat,” paparnya.

Sugeng mengaku bahwa pinjaman modal dari CSR Petrokimia Gresik sangat membantu dalam mengembangkan usahanya. Selain persyaratannya tidak rumit, angsurannya sangat ringan, dan mendapatkan kelonggaran untuk tidak wajib mengangsur selama 6 bulan pada pinjaman pertama.

“Wah! Jika ditanya apakah pinjaman modal dari Petrokimia ini membantu usaha saya, ya tentu saja. Bahkan saya katakan sangat membantu! Karena saya sebagai pengusaha kecil diberikan banyak kemudahan oleh pihak CSR Petrokimia,” akunya.

Tidak hanya kemudahan berupa pinjaman modal usaha, lanjut Sugeng, Petrokimia Gresik juga memberikan sarana pelatihan untuk menunjang usahanya.

“Saya mengikuti beberapa pelatihan, jika tidak salah selama 5 kali. Ada pelatihan manajemen perusahaan, terus ada juga pelatihan pengemasan, pemasaran, dan kepuasan pelanggan. Semua ilmu itu sangat bermanfaat bagi usaha saya,” pungkasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here