Dari Korban PHK Menjadi Pengusaha Sarung Tenun Sukses

0
35
Sutomo dan sarung tenun yang diproduksinya. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Suara musik dangdut terdengar cukup keras dari lantai 2 tempat usaha tenun sarung milik Sutomo (51). Industri rumahan itu  terletak di Dusun Jambu, Desa Semampir, Kecamatan Cerme, Gresik.

Belasan pekerja terlihat sibuk dengan aktivitas masing-masing, sambil menikmati suara biduan perempuan yang berasal dari pemutar musik digital tersebut.

Satu orang menggulung benang, yang lain mencelup gulungan benang ke bak pewarna kemudian menjemurnya. Sementara yang lain ada yang merancang motif,  sebagian lagi menenun dengan menggunakan alat tenun tradisional.

Dusun Jambu memang dikenal sebagai sentra kerajinan tenun sarung sejak puluhan tahun yang lalu. Letaknya sekitar 15 kilometer dari Kota Gresik, jika ditempuh dengan kendaraan bermotor hanya butuh waktu lebih-kurang 30 menit.

Sarung tenun dari Dusun Jambu memang dikenal memiliki kualitas yang bagus. Sehingga tidak heran banyak perusahaan sarung tenun besar di Gresik memiliki beberapa mitra produksi di dusun tersebut. Salah satunya adalah UD Utomo Joyo, milik Sutomo.

“Saya memulai usaha sejak akhir tahun 2002, setelah  di-PHK dari salah satu pabrik pengolahan kayu di Gresik. Tadinya saya berdagang beras, tapi ternyata hasilnya tidak seberapa. Kemudian saya mencoba peruntungan dengan membuat usaha sarung tenun,” ujar suami dari Satunah itu.

Dengan modal dari pesangon PHK, Sutomo membeli 10 alat tenun bukan mesin (ATBM) bekas, dan bahan-bahan untuk produksi seperti benang dan pewarna. Produksi awal sebanyak 1 kodi (20 lembar) dijual ke pedagang sarung yang tinggal di Kelurahan Hendrosari, Kecamatan Menganti, Gresik.

Proses pembuatan motif. (Foto: gemahripah.co)

“Tahun 2006 hingga 2010 permintaan terus naik, sehingga saya meningkatkan produksi. Dari 5 kodi, 7 kodi, 10 kodi, 30 kodi,  hingga pernah mencapai 40 kodi per minggu. Pedagang yang menampung juga semakin banyak, hingga sampai ke Surabaya,” jelas bapak 2 anak itu.

Karena kualitas sarung tenun yang diproduksinya bagus, Sutomo dipercaya menjadi mitra produksi beberapa pabrik sarung di Gresik.

Untuk menjaga kualitas, dia  memulainya dari proses pewarnaan. Sebab proses ini sangat mentukan bagus tidaknya sarung tenun. Sehingga untuk tahap ini Sutomo lebih banyak mengerjakannya sendiri.

“Proses pencelupan, adalah tahapan yang paling penting. Jika hasil pencelupan bagus hasilnya juga akan bagus, sedangkan proses lainnya hanya menunjang saja,” terangnya.

Ketika pencelupan bagus, lanjut Sutomo, warnanya juga akan terlihat cerah dan tahan lama, tidak mudah pudar.

Untuk motif, tergantung pesanan konsumen atau bisa juga dari hasil kreasinya sendiri. Ide untuk membuat motif dia dapatkan dari berbagai sumber, salah satunya terinspirasi dari motif sarung yang diproduksi oleh perusahaan-perusahaan besar di Gresik.

“Untuk pasar Timur Tengah, biasanya motif berganti setiap 10 hingga 15 kodi. Tapi untuk pasar lokal, biasanya motif tidak banyak berubah. Kadang juga tergantung dari pabrik sarung yang memesan,” jelasnya.

Proses penenunan menggunakan ATBM. (Foto: gemahripah,co)

Menurut Sutomo, kelebihan sarung yang diproduksinya adalah warnanya lebih cerah dan tidak mudah pudar. Selain itu kainnya lebih halus. “Itu kata orang-orang lho. Ya Alhamdulillah jika mereka mengatakan demikian,” katanya merendah.

Setiap usaha selalu ada persaingan. Dalam menghadapi persaingan, Sutomo menekankan pada kulaitas produksi. “Jika saya menjaga kualitas, maka konsumen akan tahu sendiri, mana yang produksinya bagus dan kurang bagus,” ujarnya.

Berkat upayanya dalam menjaga kualitas, saat ini Sutomo dipercaya menjadi mitra produksi dari 4 perusahaan sarung besar di Gresik. Untuk melayani pesanan dari perusahaan-sarung tersebut, dia mempekerjakan sekitar 270 tenaga penenun.

“Jumlah penenun tersebut jika saya mendapatkan pesanan 40 kodi per minggu. Penenunan sebagian besar dikerjakan di rumah-masing-masing. Yang dikerjakan di sini melibatkan 25 orang, termasuk tenaga kerja lainnya,” jelasnya.

Puncak permintaan sarung tenun adalah Ruah, sebulan sebelum Ramadhan. Saat itu banyak sekali permintaan dari parusahaan sarung maupun toko-toko yang menjual sarung. Tapi ketika melewati Hari Raya Idul Fitri, permintaan merosot.

Kondisi itu harus diantisipasi oleh Sutomo dengan menjaga persediaan benang tenun, sebagai bahan utama pembuatan sarung tenun. Masalahnya adalah hal ini terkait dengan permodalan. Apalagi ketika harga benang naik, tapi dia tidak punya banyak stok dan modal menipis.

Berbagai motif sarung tenun yang sudah jadi. (Foto: gemahripah.co)

Untuk tambahan modal, Sutomo mendapatkan dari beberapa sumber. Salah satunya adalah dari program kemitraan CSR Petrokimia Gresik, yang dimulai sejak tahun 2017. Dia tertarik ikut program kemitraan CSR Petrokimia Gresik, karena angsurannya jauh lebih ringan.

“Kelebihannya lagi, awal dapat dana pinjaman tidak wajib langsung mengangsur, tapi bisa diangsur pada bulan ke enam. Hingga saat ini saya sudah pinjam sebanyak 3 kali, semuanya saya belikan benang,” katanya.

Sutomo mengaku bersyukur bisa menjadi mitra binaan CSR Petrokimia Gresik, selain mendapat pinjaman modal dengan angsuran sangat ringan, dia juga beberapa kali diikutkan beberapa pameran, baik di Gresik maupun di Jakarta. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here