CV Rinda Jaya, Dibangun dari Nol Hingga  Menjadi Rekanan Instansi Pemerintah

0
60
Hendroh Saputro memastikan mebel yang dikirim ke konsumen dalam kondisi bagus. (Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Hendroh Saputro (36) memastikan sekali lagi seperangkat meja kursi tamu setengah jadi, yang diletakkan di depan  showroom CV Rinda Jaya yang dikelolanya. Showroom mebel itu terletak di Kompleks Ruko Grand Kartini, Gresik.

Tiga atau tujuh hari lagi, mebel dari kayu jati itu sudah harus dikirim ke Jl. Enggano, Perumahan GKB, Gresik. Semakin cepat dikerjakan dan dikirim, konsumen akan puas. Herndroh tidak ingin mengecewakan konsumennya.

“Jika cuaca bagus, tidak mendung dan hujan, proses finishing butuh waktu paling lama 3 hari. Tapi jika cuaca tidak mendukung, bisa sampai 7 hari. Karena pemelituran butuh panas yang ideal agar hasilnya bagus,” ujarnya.

Usaha yang dikelola oleh suami dari Citra Faradyan tersebut dibangun dari nol oleh orang tuanya. Ibunya, Fatemiati (56), adalah sosok dibalik suksesnya usaha mebel tersebut. Sedangkan bapaknya, almarhum Sutrisno, membantu dalam pendanaan.

“Orang tua saya merintis usaha ini sejak tahun 1991. Semula hanya menerima pesanan dari konsumen rumahan, baik berupa tempat tidur, meja-kursi tamu, maupun lemari pakaian. Kami pesan mebel jadi dari Bojonegoro,” jelas bapak 1 anak ini.

Awalnya mereka menjual secara kredit hingga 10 kali angsuran. Hal ini dilakukan agar penjualannya bisa meningkat. Tapi ternyata hasilnya tidak sesuai dengan rencana. Memang penjualan meningkat tapi dengan banyaknya kredit macet, cash flow usaha mebel tersebut terganggu.

“Dengan pengalaman tersebut, pada tahun 2000 orang tua saya mengubah strategi usahanya. Mereka tidak lagi menjual secara kredit, tapi tunai dengan merambah ke beberapa instansi pemerintah,” papar Hendroh.

Hendroh Saputro dan Fatemiati bahu-membahu dalam membesarkan usaha mebel CV Rinda Jaya. (Foto: gemahripah.co)

Hal ini diamini oleh Fatemiati. Menurutnya, dengan melebarkan pasar di luar konsumen rumahan, ternyata usaha meningkat signifikan. Instansi pertama yang menjadi konsumennya adalah SMP Negeri 1 Gresik.

“Begitu kami dapat order dari SMP 1, kami berusaha semaksimal mungkin mengerjakan mebelnya dengan sebaik-baiknya. Agar konsumen puas, tidak kecewa, dan akan order lagi. Atau paling tidak bercerita kepada pengurus sekolah lainnya,” paparnya.

Ternyata prediksi Fatemiati tidak meleset. Setelah konsumen pertamanya puas, pesanan dari berbagai instansi terus mengalir. Tidak hanya dari sekolah negeri, tapi juga beberapa sekolah dan kampus swasta, juga bank plat merah di Gresik.

“Kami mendapat pesanan kursi tunggu untuk seluruh unit BRI di Gresik. Tidak hanya instansi yang ada di Gresik saja, Kami juga dapat order dari rumah sakit swasta di Benowo, Surabaya,” ujarnya.

Seperti usaha lainnya, CV Rinda Jaya juga membutuhkan tambahan modal ketika usahanya terus berkembang. Tambahan modal pertama mereka dapatkan dari hutang di Bank BRI pada tahun 2004.

“Setelah itu kami dapat tambahan modal lagi dari Petrokimia Gresik, melalui program kemitraan CSR. Saya mendapat informasinya dari ibu-ibu yang tergabung dalam Paguyuban UKM (Usaha kecil dan Menengah) Gresik,” jelasnya.

Fatemiati mengaku tertarik dengan program kemitraan CSR Petrokimia Gresik, karena angsurannya sangat ringan. Maka pada waktu yang ditentukan, rombongan ibu-ibu dari Paguyuban UKM Gresik tersebut mengajukan proposal.

Pertama kali Fatemiati mendapat pinjaman Rp25 juta, diangsur selama 2 tahun. Karena dia berusaha untuk tidak menunggak angsuran, pengajuan berikutnya segera disetujui sebesar Rp35 juta. Setelah lunas dia mendapat kesempatan yang ketiga kalinya sebesar  Rp45 juta.

“Angsurannya sangat ringan. Itu pun selama 6 bulan pertama tidak diwajibkan mengangsur sama sekali. Ini tentu saja sangat mebantu kami sebagai pengusaha kecil dan menengah. Semua teman kami sangat terbantu dengan program ini,” ujarnya.

Fatemiati mengakui bahwa dengan menjadi mitra binaan CSR Petrokimia Gresik dia dan kawan-kawannya sesama pengusaha kecil dan menengah di Gresik memetik banyak manfaat.

Selain pinjaman untuk modak usaha dengan angsuran yang sangat ringan, mereka juga mendapatkan bimbingan untuk menunjang usaha mereka.

“Saya beberapa kali diikutkan berbagai macam pelatihan oleh CSR Petrokimia Gresik. Pernah ikut pelatihan strategi pemasaran di Malang selama 4 hari. Semua biaya ditanggung oleh Petrokimia Gresik,” terangnya.

Tidak hanya itu, jelas Fatemiati, oleh Petrokimia Gresik dia dan kawan-kawannya sesama pengusaha UKM juga pernah diikutkan pelatihan pengelolaan keuangan di Bandung. Juga beberapa kali pelatihan di Gresik, salah satunya adalah pelatihan pelayanan pada pelanggan.

“Semua pelatihan itu sangat bermanfaat untuk menunjang usaha kami. Saya dan Hendroh mencoba untuk mengimplementasikannya. Dan ternyata ada hasilnya,” ujarnya.

Fatemiati berharap, apa yang dilakukan Petrokimia Gresik melalui berbagai program CSR-nya ini agar berkesinambungan. Karena sangat bermanfaat bagi perkembangan pengusaha UKM, khususnya di Gresik.

“Jujur saja, Petrokimia Gresik banyak membantu usaha saya dan teman-teman pengusaha UKM lainnya di Gresik,” pungkasnya. (Arief Satriyo Wibowo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here