Butuh Beberapa Dekade untuk Membersihkan Tumpahan Minyak di Mediterania Timur

0
9
Gumpalan ter terlihat di atas pasir di Ashdod, Israel selatan. Sekitar 1.000 ton ter telah tersapu di sepanjang pantai Israel. (Foto: Amir Cohen / Reuters)

gemahripah.co – Sepintas tidak terlihat tanda-tanda tumpahan minyak di pantai Mediterania. Payung kayu masih berdiri di atas pasir, sementara beberapa pelari berjalan di sepanjang garis air, menikmati matahari musim dingin.

“Pantainya terlihat oke, tapi tumpahan minyak telah mencemari. Butuh puluhan tahun untuk membersihkannya,” kata seorang relawan.

Di depan relawan itu, beberapa tas kanvas besar berisi sampah yang mengotori pantai, seperti tali, dan botol plastik. Semuanya tertutup ter tebal.

Relawan lain di pantai ini di kota Ashdod, Israel, berjalan  susah payah dengan sepatu bot karetnya, sarung tangan hitam dan baju pelindung putih, menyisir pasir dengan garu taman.

Seperti dilansir The Guardian, Israel kewalahan akibat bencana tumpahan minyak yang meninggalkan butiran hitam di hampir seluruh garis pantainya, sepanjang 195 km.

Pasir berminyak yang banyak ditemukan di pantai di Lebanon selatan, telah memicu kekhawatiran akan kerusakan lingkungan yang lebih luas.

Sekitar 1.000 ton ter hanyut dibawa gelombang tinggi dari badai besar yang melanda minggu lalu. Para pencinta lingkungan telah memperingatkan dampak dari bencana tersebut. Sementara beberapa pengunjung pantai menemukan bayi penyu dan ikan yang terbalut ter.

Setelah beberapa relawan  dirawat di rumah sakit, kemungkinan karena menghirup asap beracun, para pejabat pemerintah memperingatkan agar relawan dibekali dengan peralatan pelindung yang memadai.

Kepala Otoritas Taman dan Alam Israel, Shaul Goldstein, menyebutnya sebagai bencana lingkungan terburuk dalam satu dekade. Penjaga taman telah bergabung dengan tentara untuk menangani dampak tersebut.

Di pantai Ashdod pada hari Minggu, menteri perlindungan lingkungan negara itu, Gila Gamliel, mengumumkan pembersihan akan menelan biaya puluhan juta shekel (jutaan pound).

Dia menyampaikan bahwa negara itu sedang mempertimbangkan untuk menggugat perusahaan asuransi kapal yang bertanggung jawab atas pencemaran tersebut.

Israel belum mengumumkan dugaan sumber tumpahan. Penyelidik menggunakan citra satelit dan model gelombang untuk mempersempit pencarian, dengan beberapa kemungkinan kapal pelakunya sedang diperiksa.

“Kewajiban moral kami kepada publik adalah menemukan mereka yang bertanggung jawab atas bencana tersebut,” kata Gamliel.

Penyelidik berharap mereka menemukan petunjuk melalui paus sirip sepanjang 17 meter. Dari hasil otopsi, ditemukan ada cairan berbasis minyak di paru-parunya.

Meskipun belum pasti terkait, analisis tentang kapan paus mati dapat membantu menunjukkan kerangka waktu terjadinya tumpahan minyak.

Bisa jadi negara tersebut sudah memiliki gagasan yang baik tentang siapa yang bertanggung jawab tetapi menunda mengumumkannya, mungkin karena kepekaan diplomatik atau perusahaan.

Seorang hakim Israel mengeluarkan perintah bungkam atas informasi yang berkaitan dengan penyelidikan pada hari Senin (22/2/2021), termasuk rincian yang mungkin mengidentifikasi tersangka.

Kerusakan yang sebenarnya terhadap satwa liar dan ekosistem belum dapat dipastikan, karena ter di laut masih dapat tersapu.

Di Lebanon, utara Israel, Perdana Menteri Sementara, Hassan Diab, mengatakan pada hari Senin (21/2/2021) bahwa tumpahan minyak telah mencapai pantai selatan negaranya.

Endapan berwarna hitam lengket terlihat di pantai-pantai di cagar alam dekat kota Tirus, tempat penangkaran satwa laut yang terancam punah dan penyu hijau bersarang.

Di selatan Israel, di Gaza, seorang pejabat mengatakan pantainya bersih, yang mereka kaitkan dengan arus yang mengarah ke utara secara kebetulan.

Pemerintah Israel berharap pada akhir Maret, pantai  dalam keadaan aman dan bisa dibuka kembali untuk umum.

Di Ashdod, toko Gorilla Surf and Skate baru saja dibuka pada hari Minggu (20/2/2021) untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu. Setelah negara itu secara bertahap mulai mengakhiri  karantina wilayah, akibat pandemi virus corona selama beberapa minggu.

“Meskipun laut lebih tenang pada musim dingin, banyak peselancar lebih memilih ombak besar yang ditimbulkan oleh badai lepas pantai,” kata pemilik toko, Kobi Shahar.

Pria berusia 51 tahun itu telah berselancar di lepas pantai Ashdod selama dua dekade dan mengatakan pada saat itu dia tidak dapat mengingat bencana serupa.

Beberapa kementerian  telah mendesak masyarakat agar mengindari mandi di pantai, olah raga dan rekreasi sampai pemberitahuan lebih lanjut. Sebab paparan ter dapat membahayakan kesehatan masyarakat.

Tetapi Shahar mengatakan beberapa peselancar dari generasinya tetap bermain ombak pada akhir pekan ini, meskipun ada peringatan.

“Saat saya masih kecil, dulu ada banyak minyak di laut. Kami sudah terbiasa,” ujarnya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here