Atasi Krisis Pangan, Penduduk Lebanon Bertani di Halaman dan Balkon Rumah

0
8
Yasmina Zahar, yang menanam zaitun, sayuran, buah dan bunga di halaman rumahnya. (Foto: The Guardian)

gemahripah.co – Di lembah Baanoub di Lebanon selatan, setengah jam perjalanan dari pantai, Yasmina Zahar berdiri di antara pohon zaitun dengan batang yang besar dan kokoh. Pohon-pohon zaitun yang  ditanam  pada zaman Romawi itu dulunya dirawat oleh para rahib. Kini dirawat oleh Zahar dan suaminya, Jean-Pierre. Mereka juga menanam sayur, buah, dan bunga di halaman rumah.

“Sungguh indah melihat hasil pertanian yang kita budidayakan, memegangnya dan kemudian mengkonsumsinya,” kata Zahar.

Seperti dilansir The Guardian, Zahar dan suaminya sudah 10 tahun ini melakukan budidaya beberapa komoditas pertanian . Mereka mulai memahami apa yang dibutuhkan tanaman dan kapan harus membuat rencana untuk tahun depan.

Jean-Pierre adalah arsitek dan mantan produser TV. Dia adalah salah satu dari sekian banyak kaum muda Lebanon yang menekuni dunia pertanian. Hal ini merupakan gelombang baru di negara tersebut.

Sebagai bagian dari Bulan Sabit Subur kuno, Lebanon merupakan daerah subur. Penduduknya menanam berbagai komoditas pertanian , mulai dari buah ara dan ceri hingga gandum.

Jauh sebelum pandemi Covid-19 dan ledakan dahsyat di Beirut pada 4 Agustus 2020 lalu, Lebanon sudah mengalami krisis ekonomi. Mata uangnya sekarang telah kehilangan lebih dari 60% nilainya dan daya beli telah menyusut.

Harga bahan pangan di Lebanon meningkat sebanyak 367% pada tahun lalu. Baru-baru ini sumber dari PBB mengatakan bahwa saat ini lebih dari setengah populasi Lebanon terjebak dalam kemiskinan, dua kali lipat dari angka tahun lalu sebesar 28%.

Pada bulan April 2020, Menteri Sosial dan Pariwisata Ramzi Musharrafieh mengatakan, 75% penduduk membutuhkan bantuan.

Save the Children, sebuah LSM di bidang perlindungan anak, baru-baru ini menyampaikan bahwa setengah juta anak di Beirut tidak mendapatkan makanan yang cukup. Banyak orang berpendapat,  dalam menghadapi situasi seperti itu, bertani adalah solusinya.

“Akhir-akhirn ini saya melihat banyak orang melakukan budidaya di balkon dan di halaman belakang rumah mereka. Hal ini merupakan kabar gembira, dan situasi seperti ini yang saya harapkan,” kata Corinne Jabbour, seorang desainer permakultur.

Gayung bersambut, kegairahan masyarakat Lebanon tersebut didukung oleh insan pertanian. Bank pangan menawarkan bibit, relawan mengajar pertanian  secara berkelanjutan, dan kelompok media sosial berbagi saran. Di seluruh Lebanon, pemerintah kota membagikan benih dan mendorong masyarakat untuk menanam di lahan tidur.

“Mereka memberi kami bibit, bahkan mengajak pakar pertanian untuk mengajari kami cara menanam. Ibu saya terkejut betapa cepatnya selada tumbuh dengan subur, ”kata Ghadir Hamadi, penduduk Lebanon selatan.

Hamadi menghabiskan masa karantina wilayah saat pandemi di rumah keluarganya di pedesaan. Tetapi hampir 90% populasi Lebanon tinggal di kota, tanpa akses ke tanah atau kebun. Di Burj el Barajneh, kamp pengungsi Palestina di Beirut yang terletak di antara area terpadat di kota, mulai banyak orang menanam sayuran di atap.

Di bagian lain Beirut yang dikelilingi  gedung-gedung tinggi, Souad Abdallah berjalan-jalan di antara tanaman di atap rumahnya. Dia menanam  tomat dan bunga yang bisa dimakan. Di salah satu sudut, Hadi Deaibess Dahna Abou Rahme dan Abdallah dari kelompok pertanian Kon, membangun bedeng kayu untuk ditanami.

“Kami mengikuti filosofi permakultur dan memperhatikan lingkungan sekitar. Kami menggunakan tanah kompos dan menanam apa yang bisa ditanam di kota,” ujar Abdallah.

Kelompok itu beruntung, lahan pertanian mereka tidak rusak dalam ledakan dahsyat di Beirut

Menurut Rami Zurayk, seorang profesor manajemen ekosistem di American University of Beirut, memanfaatkan tanah untuk bertani memiliki efek positif pada kesejahteraan masyarakat.

“Masyarakat akhirnya menyadari bahwa lahan di sekitar rumah mereka adalah aset penting. Orang bisa memiliki uang yang banyak di bank, tapi ketika krisis pangan, maka uang itu tidak ada artinya,” tegasnya.

Lebanon tidak sendirian dalam menghadapi krisis pangan, banyak negara di dunia yang mengalami hal serupa akibat Pandemi  Covid-19.

Lebanon mengimpor 60–80% kalori yang dikonsumsi penduduknya (dibandingkan dengan 50% Inggris) dan hanya swasembada buah. Gandum, bahan makanan pokok, diimpor dari beberapa negara termasuk Rusia dan Ukraina. Lebanon adalah salah satu negara dengan populasi terpadat di dunia dan tidak memiliki lahan pertanian yang memadai. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here