Teh Ungu, Pendatang Baru yang Mendapatkan Tempat di Hati Petani Kenya

0
68
Karanja Kinyanjui di lahan teh ungu miliknya. (foto: Daniel Sitole)

gemahripah.co – Bermula dari kunjungan Karanja Kinyanjui, petani teh ungu Kenya, ke Institut Penelitian Teh di Kangaita Pada tahun 2009. Di pusat penelitian teh itu dia mendapatkan informasi tentang varietas teh ungu, yang segera diperkenalkan di negaranya.

Saat itu Institut Peneltian Teh memiliki 20.000 bibit teh ungu, dan Kinyanjui membeli semua untuk ditanam di lahannya. Dia menjadi orang Kenya pertama yang menanam teh ungu.

“Saya mengambil risiko membeli dan menanam teh ungu. Tapi saya tidak tahu apakah pemerintah akan mengizinkan panennya. Jika diizinkan, bagaimana konsumen akan bereaksi terhadap varietas teh baru ini,” kisah Kinyanjui. Saat ini Kinyanjui memiliki 80.000 batang tanaman teh.

Banyak petani Kenya melihat bahwa teh ungu lebih menguntungkan daripada teh hijau, karena dengan membudidayakan teh ini, mereka berhasil melipatgandakan pendapatan. Meski menguntungkan, menurut Patrick Njihia, salah satu petani teh ungu, menanam teh tersebut juga memiliki beberapa tantangan.

“Secara nasional, pasarnya kecil karena orang Kenya terbiasa dengan teh hijau. Restoran dan toko tidak menjual teh ungu karena mereka tidak memiliki pasar untuk varietas baru ini. Petani juga tidak mendapat informasi tentang itu,” kata Njihia.

Biasanya teh ungu disajikan dengan tanpa gula dan susu, sehingga sedikit pahit. Minum teh ungu tanpa susu bisa menjadi salah satu alasan mengapa teh tersebut  tidak populer di Kenya. Karena kebanyakan dari mereka adalah peternak sapi perah dan terbiasa minum teh dengan susu.

Petani lain, Samuel Muigai, mengatakan pemerintah tidak membantu petani dalam memasarkan teh ungu. “Gatanga Industries adalah satu-satunya pengolah teh ungu di Kabupaten Muranga. Jika pabrik ditutup, kami khawatir itu akan menjadi bencana. Dan kami harus menjual produk ke pengolah teh hijau dengan harga rendah seperti biasanya,” jelasnya.

Teh ungu dari Gatanga Industries hadir dalam berbagai tingkat kualitas. Harga bervariasi sesuai dengan kelas, dengan kisaran antara $ 10 dan $ 100 per kilogram. Sebagai perbandingan, harga varietas teh hijau termurah di supermarket lokal hanya $ 1,50, sedangkan harga tertinggi  $ 4,50.

Institut Penelitian Teh mengakui kentungan dalam membudidayakan teh ungu, tiga atau empat kali lebih tinggi daripada teh hitam atau hijau.  Salah satu alasan mengapa harga teh ungu mahal, karena mengandung senyawa yang dikenal sebagai antosianin. Senyawa ini  diyakini dapat membantu mencegah kanker, mengobati penyakit jantung, menurunkan tekanan darah dan meningkatkan berat badan.

Gatanga Industries memiliki kapasitas produksi sekitar 5.000 kilogram teh basah setiap hari, dengan 150 pekerja di pertanian dan sekitar 10 karyawan di pabrik. Industri teh tersebut mempekerjakan dua ahli teh ungu Cina, yang berperan sebagai konsultan dalam proses produksi. Sebagian besar produk yang dihasilkan oleh Gatanga Industries diekspor ke Cina.

Kenya adalah produsen teh hijau terbesar ketiga di dunia, setelah Cina dan India. Harga teh hijau yang fluktuatif di pasar global,  membuat banyak petani Kenya beralih pada komoditas yang lebih menjanjikan, seperti teh ungu, kacang macadamia, dan alpukat.

“Ini (teh ungu) adalah usaha yang tidak akan saya tinggalkan. Keuntungannya bagus dan tantangan pasar akan stabil karena semakin banyak orang tahu tentang teh ungu dan manfaatnya,” ujar Kinyanjui.

Teh ungu yang secara ilmiah dikenal sebagai Camellia sinensis tersebut, masih satu keluarga dengan teh hijau. Sejak tahun 2011, pemerintah Kenya mengizinkan para petani untuk menanam, mengolah, dan memasarkan teh ungu. (Daniel Sitole – Modern Farmer)

Alih bahasa: Made Wirya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here