Syahrul Yasin Limpo, dari Lurah Karabasse Menjadi Menteri Pertanian RI

0
43
(foto: @SYasinLimpo)

gemahripah.co – Karir Syahrul Yasin Limpo sebagai pemimpin dimulai saat dia menjadi lurah di Karabasse, Kecamatan Bontonompo, Kabupaten Gowa. Di bawah kepemimpinannya, Karabasse memperoleh predikat sebagai kelurahan terbaik di Sulawesi Selatan (Sulsel). Dari lurah, Syahrul dipromosikan menjadi Camat Bontonompo pada tahun 1984.

“Saat menjadi camat, saya adalah satu-satunya camat yang mendampingi Presiden RI, Soeharto saat mengunjungi Sulawesi Selatan,” ungkap Syahrul seperti dikutip dari SUARA.com.

Karir lelaki yang lahir di Makassar pada 16 Maret 1955 itu terus melesat,  pada tahun 1991 menjadi Sekretaris Daerah Kabupaten Gowa. Setahun kemudian Syahrul dilantik menjadi Bupati Gowa periode 1994-2002. Kemudian terpilih sebagai Wakil Gubernur Sulsel 2003-2008 dan Gubernur Sulsel 2007-2018.

Prestasinya di bidang pertanian memang moncer sejak menjadi Gubernur Sulsel, sehingga diganjar  beberapa penghargaan. Salah satunya adalah penghargaan Bintang Maha Putera Utama dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Penghargaan tersebut diberikan lepada  suami dari Ayunsri Harahap itu, karena  dinilai mampu memenuhi pangan untuk 17 provinsi.

Bapak tiga anak itu juga mendapat Adhykarya Pangan Nusantara sebanyak 3 kali, pada tahun 2011, 2013 dan 2014.

Saat ini Syahrul menjadi Menteri Pertanian di Kabinet Indonesia Maju, setelah dilantik oleh Presiden Jokowi pada 23 Oktober 2019 di Istana Merdeka. Langkah pertama yang diambil Syahrul setelah menjadi menteri adalah menyelesaikan data pertanian dalam 100 hari kerjanya. Data yang dimaksudkan adalah data produksi, data luas panen dan data komoditas.

Menurut Syahrul, data tersebut penting karena menyangkut kondisi pertanian Indonesia saat ini. Apalagi ketahanan suatu negara ditentukan oleh ketahanan pangan. Jika ketahanan pangan baik, ujarnya, maka negara tersebut keamanannya terjamin.

“Pertama, akan ada satu data yang akurat, sehingga semua orang akan menjadikan itu sebagai acuan awal dan akhir. 100 hari harus selesai lah,” ujarnya seperti dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (24/10).

Ketahanan negara yang kuat, lanjutnya Syahrul seperti dikutip dari sumber yang sama,  hanya ada kalau punya ketahanan pangan yang kuat. Pertanian harus mampu mengentaskan kemiskinan daerah-daerah agar tidak terjadi ketimpangan.

“Kebutuhan pangan kita, pangan yang terjangkau. Kemandirian (swasembada pangan) akan kami pacu ke depan. Kalau tidak mendesak, impor akan kami hindari,” pungkasnya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here