Simalakama Upaya Pemerintah Nigeria Kurangi Impor Pangan

0
28
(foto: AFP)

gemahripah.co – Presiden Nigeria Muhammadu Buhari telah memerintahkan Bank Sentral Nigeria untuk memblokir permintaan valuta asing dari importir makanan. Hal ini dilakukan sebagai  upaya dalam meningkatkan pertanian lokal di negara terpadat di Afrika itu.

Seperti dilansir oleh BBC, kebijakan untuk meningkatkan pangan lokal dilakukan oleh Pemerintah Nigeria sejak Buhari menjadi presiden  tahun 2015. Saat itu  dia melarang penggunaan valuta asing untuk mengimpor lusinan komoditas, termasuk beras, makanan pokok penduduk Nigeria.

Langkah yang ditempuh oleh Pemerintah Nigeria tersebut menjadikan produksi beras dalam negeri meningkat. Tapi juga sempat dikritik karena tidak mempertimbangkan rendahnya kapasitas petani lokal.

Selain itu, kebijakan tersebut juga bertepatan dengan kenaikan harga pangan, yang disalahkan atas ketidakamanan di beberapa daerah penghasil pangan utama.

Berapa pengeluaran Nigeria untuk mengimpor makanan?

Menurut data dari Biro Statistik Nasional Nigeria (NBS), jumlah uang yang telah dikeluarkan negara  untuk mengimpor makanan dan minuman meningkat dari 2015 hingga 2017, dan turun pada tahun 2018. Jika tren dari kuartal pertama tahun ini berlanjut, maka tagihan akan naik lagi.

NBS juga menyebutkan, pada 2015 Nigeria menghabiskan hampir $ 2,9 miliar (Rp4,1 triliun) dan pada 2017 yang naik menjadi $ 4,1 miliar (Rp5,8 triliun).

Dikutip dari harian Punch pada Desember tahun lalu, Gubernur Bank Central Nigeria, Godwin Emefiele, menyampaikan bahwa tagihan impor makanan tahunan adalah $ 1,9 miliar dan turun dari $ 7,9 miliar pada tahun 2015.

Tetapi pada September 2018, Menteri Pertanian Nigeria saat itu, Audu Ogbeh, mengatakan bahwa Nigeria menghabiskan $ 22 milyar (Rp31 triliun) untuk mengimpor makanan setiap tahun.

Makanan apa yang diimpor?

Nigeria memang menghasilkan komoditas makanan pokok seperti gula, tepung terigu, ikan, susu, minyak sawit, daging babi, daging sapi, dan unggas. Tapi hingga kini petani lokal belum mampu memenuhi permintaan 200 juta penduduk negara itu, maka jalan satu-satunya adalah impor. Dengan larangan valuta asing, petani Nigeria sekarang harus meningkatkan produksi.

Menurut data dari Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, produksi beras Nigeria telah meningkat dari rata-rata tahunan sebesar 7,1 juta ton antara 2013 dan 2017, menjadi 8,9 juta ton pada 2018.

Namun, ada juga laporan bahwa penyelundupan beras telah meningkat. Hal ini diketahui dengan adanya aktivitas pejabat bea cukai yang terus menyita sejumlah besar beras di perbatasan. Ini menunjukkan bahwa padi yang diproduksi oleh petani Nigeria masih belum cukup mencukupi.

Apakah membatasi impor makanan akan meningkatkan produksi lokal?

Banyak ahli percaya bahwa kebijakan membatasi impor makanan memang memiliki beberapa kelebihan, tetapi kebijakan tersebut tidak dapat dilakukan secara terpisah.

Ekonom pertanian Idris Ayinde berpendapat bahwa pembatasan impor pangan harus dilakukan secara bertahap. Karena Nigeria belum dapat memenuhi permintaan domestik untuk sebagian besar komoditas pangan. Sehingga kebijakan tersebut berisiko meningkatkan inflasi harga pangan lebih lanjut.

Misalnya pada November tahun lalu, pemerintah membelanjakan $ 165 juta untuk mensubsidi produksi beras. Tapi penduduk Nigeria masih terus membeli beras yang telah diselundupkan ke negara tersebut.

Upaya  meningkatkan produksi kelapa sawit lokal juga terkendala dengan masih adanya penyelundupan. Valuta asing untuk mengimpor minyak kelapa sawit juga dibatasi pada tahun 2015, tetapi produsen lokal belum dapat mengisi kesenjangan tersebut.

Pemerintah sekarang berharap bahwa investasi hingga $ 500 juta di industri ini dapat meningkatkan produksi kelapa sawit, dari 600 ribu ton menjadi 5 juta ton per tahun .

Selain menyisakan pertanyaan tentang kapasitas petani lokal, ada juga kekhawatiran bahwa kebijakan pemerintah mengancam independensi bank sentral. Mantan Wakil Gubernur Bank  Sentral Nigeria, Kingsley Moghalu, mengatakan bahwa arahan presiden bertentangan dengan hukum. Menurutnya, kebijakan ekonomi bank sentral tidak boleh dipaksakan oleh otoritas politik.

Bisakah harga naik?

Teori ekonomi menunjukkan bahwa mengurangi pasokan akan meningkatkan harga. Oleh karena itu ada kepercayaan umum bahwa jika pasokan domestik tidak dapat segera menggantikan apa yang pernah diimpor, Nigeria akan membayar lebih untuk makanan mereka.

Tahun 2015, ketika pembatasan valuta asing untuk beras diberlakukan, harga satu tas beras 50 kg naik dari $ 24 menjadi $ 82, pada awal 2017. Kemudian jatuh pada pertengahan 2017 menjadi $ 34. Tetapi pada bulan Juni tahun ini, harganya mencapai $ 49.

Mengapa Nigeria tidak menghasilkan lebih banyak makanan?

Sektor pertanian di negara itu telah bertahun-tahun diabaikan. Selama puluhan tahun Pemerintah Nigeria hanya mengandalkan minyak untuk menumpuk devisa.

Namun menyusul penurunan besar dalam harga minyak lima tahun lalu, negara ini telah memperbarui minatnya pada pertanian. Jika antusiasme ini dapat dikonversi menjadi investasi yang lebih besar, maka negara tersebut harus dapat menghasilkan lebih banyak makanan. (GR)

Alih bahasa: Made Wirya

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here