Sansevieria Asal Cilacap Tembus Pasar Amerika Serikat

0
38
Ilustrasi sansevieria. (Foto: Adrian Swancar @a_d_s_w)

gemahripah.co – Karantina Pertanian Cilacap mencatat adanya peningkatan komoditas ekspor tanaman hias, khususnya sansevieria, selama masa pandemi covid-19.

Menurut Kepala Karantina Pertanian Cilacap Dwi Astuti Yuniasih, dalam keterangan tertulis, Senin (1/3/2021), berdasarkan  sistem perkarantinaan IQFAST di wilayah kerjanya, sepanjang tahun 2020 tercatat hanya satu negara tujuan ekspor sansevieria yaitu Singapura.

Jumlah sanseivieria (disebut juga dengan lidah mertua) yang diekspor ke negara tersebut, tambahnya, sebanyak 230 batang dan nilai ekonomi Rp4,5 juta, dalam 3 kali pengiriman saja.

“Sedangkan mengawali tahun 2021 ini tercatat adanya penambahan negara tujuan, yakni Amerika Serikat dengan total pengiriman 139 batang, dengan nilai ekonomi Rp5 juta,” ungkapnya .

Lebih lanjut Dwi menyampaikan, ekspor sansevieria ini merupakan yang pertama kali ke Amerika Serikat. Ini artinya ada penambahan negara tujuan baru untuk ekspor komoditas pertanian Indonesia.

“Sebanyak 44 batang lidah mertua dilakukan sertifikasi ekspor tujuan Amerika Serikat. Persyaratan lengkap dan setelah diperiksa, lidah mertua ini bebas dari organisme pengganggu tumbuhan. Salah satunya bebas dari nematoda, sehingga diterbitkan KT-10 atau Phytosanitary Certificate (PC),” jelasnya.

Dwi menambahkan, Singapura adalah negara pertama yang mendatangkan lidah mertua asal Cilacap. Hingga kini sebanyak 250 batang lidah mertua dengan berbagai jenis telah berhasil menghiasi alam Singapura.

Sementara itu, Dani Setiawan,  eksportir lidah mertua, mengaku bersyukur bisa menembus pasar Benua Amerika.

“Tanaman ini memiliki daya pikat tersendiri di hati para penggemarnya, baik dalam negeri maupun mancanegara. Lidah mertua dijadikan tanaman hias karena bentuk daunnya yang unik, cantik, serta memiliki bermacam-macam jenis dengan bentuk daun yang berbeda-beda,” jelasnya.

Selain itu, lanjut Dani, tanaman ini tergolong tanaman yang mudah beradaptasi dengan lingkungan dan dipercaya dapat menyerap polusi udara.

Dwi terus berupaya untuk mendukung peningkatan ekspor komoditas pertanian. Tak hanya komoditas sumber pangan, tetapi juga komoditas – komoditas pertanian lainnya.

Selain fokus terhadap tugas dan fungsi perkarantinaan, Dwi juga telah mengambil langkah operasional, yaitu pendampingan berupa bimbingan teknis pemenuhan persyaratan ekspor masing – masing negara tujuan.

“Selain itu juga informasi yang dapat diakses melalui klinik agro ekspor di kantor layanan induk serta terus melakukan sinergisitas dengan seluruh entitas,” paparnya.

Secara terpisah, Kepala Badan Karantina Pertanian Ali Jamil mengapresiasi para pembudidaya tanaman hias, terlebih dengan adanya penambahan negara tujuan.

“Kami mengapresiasi dengan meluasnya minat ekspor tanaman hias di mancanegara, dan kami akan terus dorong untuk peningkatannya,” ujarnya.

Berdasarkan data sertifikasi ekspor secara nasional, ungkap Jamil, menunjukkan peningkatan ekspor selama dua tahun terakhir. Tercatat pada 2020 ekspor sansevieria meningkat 14% dibanding tahun sebelumnya, 2019 atau meningkat sekitar 5.518 batang.

“Sedangkan awal tahun ini, Januari hingga Februari 2021 telah disertifikasi sebanyak 17.839 batang atau setara dengan nilai Rp 157,2 juta,” pungkasnya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here