Revolusi Sumber Makanan, Mengubah Bakteri Menjadi Tepung, Daging, Susu, Telor dan Minyak Goreng

0
14

gemahripah – Para ilmuwan di sebuah laboratorium komersial di pinggiran Helsinki, berhasil mengubah air menjadi makanan. Bakteri  yang diambil dari tanah dikembangbiakkan di laboratorium, menggunakan hidrogen yang diekstraksi dari air sebagai sumber energinya. Ketika buih disedot melalui jalinan pipa dan disemprotkan ke rol yang dipanaskan, berubah menjadi tepung.

Seperti dilansir oleh The Guardian (Kamis, 8/1), tepung ini belum diizinkan untuk dijual. Saat para ilmuwan yang bekerja di sebuah perusahaan bernama Solar Foods membuat kue dadar, rasanya seperti pancake.Tepung tersebut kemungkinan akan segera menjadi bahan baku berbagai olahan.

Menurut George Monbiot, pemerhati lingkungan dan kolumnis The Guardian, ketika bakteri dimodifikasi, mereka akan menciptakan protein spesifik. Protein tersebut dibutuhkan untuk daging, susu, dan telur yang tumbuh di laboratorium. Perubahan lainnya akan menghasilkan asam laurat, sebagai pengganti minyak kelapa sawit, dan asam lemak omega-3 rantai panjang.

Karbohidrat yang tersisa ketika protein dan lemak telah diekstraksi, ujarnya, dapat menggantikan semuanya dari tepung pasta hingga keripik kentang. Pabrik komersial pertama yang dibangun oleh Solar Foods akan beroperasi tahun depan.

“Kita berada di puncak transformasi ekonomi terbesar, dalam bentuk apa pun, selama 200 tahun. Sementara argumen tentang pola makan nabati versus daging, teknologi baru akan segera membuatnya tidak relevan. Tak lama kemudian, sebagian besar makanan kita tidak berasal dari hewan atau tumbuhan, tetapi dari kehidupan uniseluler,” ungkapnya.

PBB memperkirakan pada tahun 2050 kebutuhan pangan dunia membutuhkan ekspansi 20% penggunaan air untuk pertanian. Sementara penggunaan air sudah maksimal di banyak tempat: akuifer menghilang, sungai gagal mencapai laut. Gletser yang memasok setengah populasi Asia dengan cepat menurun. Pemanasan global yang tak terelakkan, kemungkinan akan mengurangi curah hujan musim kering di daerah-daerah kritis, mengubah dataran subur menjadi lahan tandus.

“Krisis tanah global mengancam dasar penghidupan kita, karena tanah yang subur kehilangan kesuburannya melalui erosi, pemadatan dan kontaminasi. Pasokan fosfat yang penting untuk pertanian, semakin menipis. Punahnya serangga mengancam kegagalan penyerbukan. Sulit untuk melihat bagaimana pertanian dapat memberi makan hingga tahun2050, apalagi sampai akhir abad ini,” papar Monbiot.

Penelitian oleh  RethinkX menunjukkan,  pada tahun 2035 protein dari fermentasi presisi 10 kali lebih murah daripada protein hewani. Ekonomi pangan baru tersebut hanya menggunakan lahan yang tidak luas, dengan kebutuhan air dan nutrisi yang sedikit. Hal ini diprediksi akan menjadi peluang terbesar untuk pemulihan lingkungan dalam sejarah manusia.

“Makanan tidak hanya lebih murah, tetapi juga lebih sehat. Daging masih akan menjadi daging, meskipun akan diproses di pabrik pengolah kolagen, bukan di tubuh hewan. Pati masih akan menjadi pati, lemak akan tetap menjadi lemak. Tetapi makanan cenderung lebih baik, lebih murah dan tidak terlalu merusak lingkungan,” jelasnya.

Sebuah makalah di Nature menunjukkan bahwa, per kilo makanan yang diproduksi pertanian ekstensif menyebabkan emisi gas rumah kaca yang lebih besar, kehilangan tanah, penggunaan air dan polusi nitrogen dan fosfat daripada pertanian intensif. Jika semua orang makan daging yang diberi makan padang rumput, kita akan membutuhkan beberapa planet baru untuk menghasilkannya.

Menurut Monbiot, produksi tanpa pertanian menjanjikan pasokan makanan yang jauh lebih stabil, dan dapat diandalkan yang dapat ditanam di mana saja. Bahkan di negara-negara tanpa tanah pertanian. Hal ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi krisis pangan dunia.

“Tetapi kendalanya adalah akan terjadi benturan antara kepentingan konsumen dan produsen. Jutaan orang, yang bekerja di pertanian dan pemrosesan makanan, pada akhirnya akan kehilangan pekerjaan mereka,” pungkasnya. (Made Wirya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here