Produksi Kopi, Kakao dan Karet Menurun, LSM Dorong Petani Praktikkan GAP

0
8
(Foto: gemahripah.co)

gemahripah.co – Tahun ini good agricultural practices (GAP), praktik-praktik pertanian yang baik, menjadi lebih mudah diakses. Hal tersebut dimungkinkan karena sejumlah LSM telah menciptakan pelatihan, penelitian, pendanaan, dan bahkan inisiatif untuk para petani kakao, kopi, dan karet.

Seperti dilansir oleh Jakarta Post, Indonesia adalah penghasil dan pengekspor karet terbesar kedua dan penghasil kopi dan kakao terbesar keempat dunia. Total nilai ekspor tiga komoditas itu sekitar US $ 1,88 miliar.

Tiga komoditas tersebut sebagian besar diproduksi oleh petani kecil. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), para petani ini masing-masing menghasilkan 84,4 persen, 95,9 persen, dan 97,6 persen produsen karet, kopi dan kakao.

Karena prevalensi petani kecil, menerapkan GAP di tingkat lokal sangat penting untuk meningkatkan produktivitas komoditas.

Petani kopi, misalnya, telah menerima pelatihan wanatani untuk mengembangkan teknik pertanian yang lebih baik dan menerapkan praktik bisnis yang lebih berkelanjutan.

Ketua dewan penasihat Specialty Coffee of Indonesia (SCAI) Delima Darmawan mengatakan, produktivitas perkebunan kopi Indonesia lebih rendah dibanding produsen utama lainnya,  seperti Brasil dan Vietnam. Karena perkebunan kopi di negara ini terus menggunakan metode pertanian tradisional.

“Sebagian besar petani tidak mendapat informasi tentang GAP. Mereka dulu takut pohon mereka tidak akan menghasilkan ceri kopi setelah dipangkas,” kata direktur eksekutif Sustainable Coffee Platform of Indonesia (SCOPI) Veronica Herlina.

Lebih lanjut Veronica menyampaikan, GAP lebih mahal dan lebih banyak mengkonsumsi energi tetapi petani mau belajar. Terutama dengan bimbingan yang baik dan pengenalan kepada pembeli biji kopi.

Menurut Asosiasi Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (GAEKI), kopi Indonesia menyumbang sekitar 7 persen dari produksi global. BPS memperkirakan sekitar 729.074 ton diproduksi di Indonesia tahun ini. Dari Januari hingga Oktober, Indonesia mengekspor 448.571 ton kopi, dengan nilai $ 1,2 miliar.

Dari data  International Coffee Organization, produksi Indonesia turun 5,6 persen pada Maret 2019, karena beberapa daerah penghasil utama seperti Lampung dan Bengkulu menderita kekeringan.

Penurunan produksi juga terlihat pada produksi kakao Indonesia. Menurut Organisasi Kakao Internasional (ICCO), produksi biji kakao Indonesia turun dari 410.000 ton pada 2013 menjadi sekitar 240.000 ton pada 2018. Tahun ini, produksi diharapkan tetap pada tingkat yang sama seperti tahun lalu.

Laporan itu juga mengungkapkan bahwa Indonesia, yang dulunya merupakan penghasil biji kakao terbesar ketiga, sekarang berada di tempat keempat, di belakang Pantai Gading (2 juta ton), Ghana (969.000 ton) dan Ekuador (290.000 ton).

Ketua Dewan Kakao Indonesia (Dekaindo) Dwiatmoko Setiono mengatakan, untuk membantu meningkatkan produktivitas Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia (Puslitkoka) telah melatih petani untuk memproduksi kakao dengan cara yang bertanggung jawab atas perubahan iklim.

“Puslitkoka memiliki pusat pelatihan di mana para petani datang untuk belajar tentang memproduksi bibit yang akan tumbuh dengan baik di daerah masing-masing dan iklim setempat,” ujarnya seperti dikutip dari The Jakarta Post, Kamis (27/12).

Negara ini masih merupakan pengekspor produk sampingan kakao terbesar ketiga seperti bubuk kakao dan mentega kakao, dengan 365.583 ton diekspor, senilai $ 1,2 miliar pada tahun 2018.

Sedangkan untuk komoditas karet, terjadi penurunan ekspor karet dan produk karet sebesar 6,35 persen, dari $ 5,6 juta menjadi $ 5,9 juta, pada periode yang sama tahun lalu.  Nilai tersebut dihitung pada Januari hingga November 2019.

Wabah bercak daun Leptosphaeria (Pestalotiopsis spp) telah melanda banyak perkebunan karet dan menurunkan produktivitasnya. Direktur Jenderal Perkebunan Departemen Pertanian, Kasdi Subagyono mengatakan penyakit tanaman itu telah mempengaruhi setidaknya 382.000 hektar perkebunan karet di Indonesia.

Penyakit tersebut menyebabkan produksi karet nasional turun dari 3,76 juta ton tahun lalu menjadi sekitar 3,19 juta ton tahun ini.

Menurut Widyantoko Sumarlin, eksekutif senior di Asosiasi Produsen Karet Indonesia (Gapkindo), dibutuhkan layanan penyuluhan pertanian tambahan. Hal ini untuk membantu petani meningkatkan hasil perkebunan mereka melalui GAP.

Yayasan IDH Indonesia telah bekerja sama dengan perusahaan untuk melatih produsen karet, di antara komoditas lainnya, untuk mengadopsi GAP.

Melalui Yayasan IDH, dana “Andgreen” yang berbasis di Belanda menginvestasikan $ 23,5 juta di PT Royal Lestari Utama (RLU), dengan pendekatan 50:50 pada produksi dan perlindungan. Dana tersebut akan membiayai pengembangan tiga konsesi karet berkelanjutan di Jambi dan Kalimantan Timur.

“Proyek-proyek tersebut dapat meningkatkan produktivitas petani, yang akan mendukung rantai pasokan. Kerjasama dengan petani juga akan meningkatkan rasa saling percaya mereka dan secara bersamaan mengurangi risiko konflik sosial, ”kata ketua yayasan Indonesia, Fitrian Ardiansyah.

Yayasan IDH telah menyediakan 30 persen dari pembiayaan sementara perusahaan swasta berkontribusi 70 persen. Peran perusahaan swasta adalah penting sebagai pengambil keputusan untuk memastikan bahwa petani memiliki saluran untuk pembeli.

Peneliti Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Keuangan (Indef) Rusli Abdullah mengatakan, inisiatif pelatihan dari sektor swasta dapat secara signifikan membantu upaya pemerintah untuk meningkatkan GAP di kalangan petani.

“Sebagian besar petani di Indonesia belum menerapkan pertanian berkelanjutan. Petugas dapat menuntut praktik pertanian yang baik dan persyaratan pertanian berkelanjutan sehingga petani akan patuh,” katanya. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here