Pertanian Vertikal, Solusi untuk berbagai Permasalahan Pertanian di Jepang

0
30
Di Jepang, pertanian vertikal mulai berkembang ketika metode tradisional menghadapi ancaman ganda dari petani yang menua dan migrasi ke kota-kota. (Foto: AFP)

gemahripah.co – Siapa yang menyangka, di dalam bangunan yang terletak di kawaan industri dekat Kyoto itu tumbuh 30.000 tanaman selada siap panen. Budidaya tanaman horti itu hanya mengandalkan cahaya buatan dan nyaris tanpa campur tangan manusia.

Seperti dilansir oleh Japan Today, “pabrik sayur” yang menggunakan teknik pertanian vertikal terbaru ini, merupakan bagian dari tren di Jepang. Di mana pertanian tradisional menghadapi ancaman ganda, petani di desa yang semakin menua, dan migrasi penduduk usia produktif ke kota.

Usia rata-rata  petani di Jepang adalah 67 tahun, sementara sementara generasi penerus mereka lebih memilih kerja di kota. Hal ini memaksa negara untuk menjadi pelopor dalam apa yang disebut pertanian vertikal.

Spread adalah satu dari sedikit perusahaan pertanian vertikal yang menghasilkan keuntungan cepat, dengan memproduksi 11 juta selada setiap tahun dari pabrik terbarunya di Kyoto. Perusahaan itu memilki area steril yang luas, tempat sayuran ditumpuk di rak-rak setinggi beberapa meter.

Mesin memindahkan selada di sekitar pabrik ke area di mana cahaya, suhu, dan kelembaban ideal untuk tahap pertumbuhan. Proses ini bekerja tanpa tanah dan pestisida, dan hanya selusin manusia yang dipekerjakan untuk memanen selada.

Negara-negara lain yang telah menggunakan teknik pertanian vertikal adalah  Denmark dan Amerika Serikat. Krisis petani di Jepang memunculkkan tanda tanya, bagaimana negara dengan ekonomi terbesar ketiga di dunia itu akan memberi makan penduduknya.

“Mengingat kurangnya tenaga kerja dan penurunan produksi pertanian, saya merasa sistem baru diperlukan,” kata Shinji Inada, pemilik Spread, kepada AFP.

Menurut Inada,  keuntungannya jelas, pihaknya dapat memproduksi dalam jumlah besar dan pada tingkat yang stabil sepanjang tahun, tanpa terpengaruh oleh perubahan suhu.

“Manfaat lainnya adalah kami memiliki sedikit kerugian karena produk kami lebih awet,” ujar taipan sayur itu.

Pertanian berkelanjutan

Inada mengatakan perusahaan pada awalnya mengalami beberapa kesulitan dalam menjual selada. Tapi seiring berjalannya waktu, produknya semakin diminati karena menghasilkan kualitas dan harga yang konsisten, di mana pada umumnya harga sangat bervariasi tergantung musim.

Selada yang dihasilkan Spread ditemukan di rak-rak supermarket di Kyoto dan ibukota Tokyo. Inada memiliki visi ekspansi besar untuk memindahkan produksi lebih dekat ke tempat sayuran dikonsumsi.

Spread sedang membangun pabrik di Narita, dekat Tokyo. Dan perusahaan tersebut berencana akan berinvestasi di negara-negara yang iklimnya tidak mendukung untuk membudidayakan selada.

“Kami dapat dengan mudah mengekspor sistem produksi kami ke negara dengan iklim yang sangat panas atau sangat dingin untuk menanam selada,” kata Inada.

Tetapi apakah sistem ini ramah lingkungan? Inada mengatakan dia ragu-ragu sebelum meluncurkan konsep atas pertanyaan tersebut.

“Memang benar bahwa kami menggunakan lebih banyak energi dibandingkan dengan produksi menggunakan matahari, tetapi di sisi lain produktivitas kami lebih tinggi di atas area permukaan yang sama,” katanya.

Sistem ini memungkinkan perusahaan untuk menghasilkan delapan tanaman selada per tahun, terlepas dari musim. Penyebaran juga menggunakan air yang jauh lebih sedikit daripada metode pertanian tradisional.

“Saya percaya kami berkontribusi pada pertanian berkelanjutan bagi masyarakat kami,” klaim Inada.

Jepang telah memiliki sekitar 200 pabrik selada menggunakan cahaya buatan tetapi sebagian besar adalah skala kecil. Tapi menurut konsultan spesialis Innoplex, pabrik tersebut akan berlipat ganda jumlahnya pada tahun 2025. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here