Pemerintah Filipina Tetapkan Tanaman Bambu Sebagai Komoditas Bernilai Tinggi

0
15
William Dar (paling kanan) saat menghadiri pertemuan Dewan Pengembangan Industri Bambu Filipina (PBIDC). (Foto: Philippine Information Agency)

gemahripah.co – Pemerintah Filipina melalui Menteri Pertanian William Dar membuat kebijakan yang menyatakan bahwa tanaman bambu sebagai komoditas bernilai tinggi.

Dar menyampaikan perlunya mempertahankan dan menjaga kelestarian lingkungan, sementara pada saat yang sama juga meningkatkan kegiatan ekonomi.

Hal itu diucapkannya saat menghadiri  pertemuan Dewan Pengembangan Industri Bambu Filipina (PBIDC), 6 Februari, di Departemen Pertanian negara tersebut.

“Dengan ditetapkannya bambu sebagai tanaman bernilai tinggi, kami dapat melakukan berbagai intervensi yang meliputi penelitian dasar, pemrosesan dan penambahan nilai, serta  dukungan anggaran untuk melengkapi program dan proyek PBIDC,” kata Dar dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (8/2/2020).

Mulai tahun ini, lanjutnya, pihaknya akan mengadakan beberapa kegiatan untuk mendukung kemajuan industri bambu di Filipina.

Hadir dalam pertemuan tersebut, Sekretaris Perdagangan dan Industri dan ketua PBIDC Ramon Lopez, wakil ketua PBIDC dan wakil ketua DPR Ilocos Sur Representative DV Savellano.

Mereka mendiskusikan pedoman pengembangan area perkebunan bambu komersial, rancangan RUU tentang pengembangan industri bambu negara, dan perumusan kelompok kerja teknis untuk produksi dan pemasaran bambu.

Menurut Dar, strategi agri-industri Departemen Pertanian tidak hanya meningkatkan produktivitas pertanian saja, tapi juga pada pengembangan lebih banyak produk yang memiliki nilai tambah. Dengan demikian petani dan keluarga mereka diberikan lebih banyak peluang bisnis dan pekerjaan, sehingga akan meningkatkan penghasilan mereka.

“Kita perlu memanfaatkan kekuatan teknologi untuk menyebarkan bambu secara massal. Akan lebih baik jika PBIDC dapat melihat peluang dalam memberikan dukungan pendanaan untuk kultur jaringan bambu. Hal ini dimaksudkan untuk mengatasi kurangnya bibit yang dibutuhkan untuk meremajakan industri bambu,” paparnya.

Dar juga menyebutkan pentingnya mengundang lebih banyak investor Filipina dan asing untuk mendirikan fasilitas kultur jaringan, dan terlibat dalam produksi dan pemrosesan bambu.

“Jangan berkonsentrasi untuk melakukannya di dalam pemerintah saja. Jika ada peluang bisnis, dan kultur jaringan bisa menjadi satu peluang bisnis untuk bambu, maka mari kita kejar ini,” tegasnya.

Strategi ditempuh Pemerintah Filipina, ujarnya, adalah dengan mengajak sektor swasta yang  bermitra dengan komunitas dan kelompok tani. Sehingga diharapkan dapat meningkatkan peluang bisnis dan pendapatan untuk industri bambu Filipina. (GR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here