Michael Levitt: Penyebaran Virus Corona Akan Terhenti

1
30
Michael Levitt. (Foto: Reuters)

gemahripah.co – Michael Levitt, ahli biofisika Amerika-Inggris-Israel yang mengajar biologi struktural di Universitas Stanford dan menghabiskan banyak waktunya di Tel Aviv, tiba-tiba menjadi populer di Cina.  Setelah menghitung angka-angkanya, statistik membawanya kepada kesimpulan bahwa penyebaran virus akan segera terhenti.

Seperti dilansir Calcalist, pesan-pesan menenangkan yang dikirim Levitt kepada teman-temannya di Cina diterjemahkan ke dalam bahasa Cina dan diteruskan dari orang ke orang. Perkiraannya ternyata benar: jumlah kasus baru yang dilaporkan setiap hari mulai turun pada 7 Februari. Seminggu kemudian, angka kematian mulai turun juga.

Peraih Nobel untuk bidang kimia pada tahun 2013 itu sama sekali tidak bermaksud menjadi nabi yang meramalkan akhir dari wabah. Hal itu terjadi secara tidak sengaja. Istrinya Shoshan Brosh adalah seorang peneliti seni Cina dan kurator untuk fotografer lokal, yang menjadikan pasangan ini membagi waktu mereka antara AS, Israel, dan China. Ketika pandemi meletus, Brosh menulis kepada teman-teman di Cina untuk mendukung mereka.

“Ketika mereka menggambarkan betapa rumitnya situasi mereka, saya memutuskan untuk melihat lebih dalam pada angka-angka dengan harapan mencapai beberapa kesimpulan,” jelas Levitt.

Dia juga menyampaikan,  infeksi virus di provinsi Hubei meningkat 30% setiap hari, statistik yang menakutkan. “Saya bukan ahli influenza tetapi saya bisa menganalisis angka dan itu adalah pertumbuhan eksponensial. Pada tingkat ini, seluruh dunia seharusnya sudah terinfeksi dalam 90 hari,” katanya.

Namun kemudian tren berubah. Ketika Levitt mulai menganalisis data pada 1 Februari, Hubei memiliki 1.800 kasus baru setiap hari dan dalam enam hari jumlah ini mencapai 4.700. Dan kemudian pada 7 Februari, jumlah infeksi baru mulai menurun secara linear dan tidak berhenti.

Seminggu kemudian, hal yang sama terjadi dengan jumlah kematian. Perubahan dramatis pada kurva ini menandai titik tengah dan memungkinkan prediksi yang lebih baik tentang kapan pandemi akan berakhir.

“Berdasarkan itu, saya menyimpulkan bahwa situasi di seluruh Cina akan membaik dalam dua minggu. Dan, memang, sekarang ada sangat sedikit kasus infeksi baru,” ujarnya.

Levitt membandingkan situasinya dengan bunga bank, jika pada hari pertama seseorang menerima tingkat bunga 30% dari tabungan mereka, hari berikutnya 29%, dan seterusnya. “Anda mengerti bahwa pada akhirnya, Anda tidak akan mendapat banyak uang,” paparnya.

Pesan-pesan yang diterjemahkan teman-temannya ke dalam bahasa Cina, mengejutkan masyarakat  Cina. Mereka ingin memastikan agar Levitt menulis informasi yang lebih detail berkaitan dengan wabah tersebut. “Itulah awal bagaimana saya perlu melanjutkan.”Saya bisa mengatakan, ya, itulah yang saya katakan,” katanya.

Angka-angka baru dilaporkan setiap hari oleh berbagai entitas, seperti Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Levitt mulai mengirimkan laporan berkala kepada teman-teman Cina-nya, dan popularitasnya menjadikan Levitt diundang wawancara di televisi Cina, sepert CGTN yang setara dengan CNN. Levit menyampaikan, berdasarkan berkurangnya jumlah kasus infeksi dan kematian, virus itu mungkin akan hilang dari Cina pada akhir Maret.

Awalnya, kata Levitt, setiap pasien virus korona di Cina rata-rata menginfeksi 2,2 orang per hari,  pertumbuhan eksponensial yang dapat menyebabkan bencana. Tapi kemudian mulai menurun, dan jumlah infeksi harian baru sekarang mendekati nol.

Dia membandingkannya dengan suku bunga lagi. “Bahkan jika suku bunga terus turun, Anda masih menghasilkan uang. Jumlah yang Anda investasikan tidak berkurang, itu hanya tumbuh lebih lambat. Ketika membahas penyakit, itu sangat menakutkan orang karena mereka terus mendengar tentang kasus baru setiap hari. Tetapi fakta bahwa ketika tingkat infeksi melambat, maka akhir pandemi sudah dekat,” jelasnya.

Alasan lain melambatnya laju infeksi berkaitan dengan pedoman jarak fisik. Saat ini, ujar Levitt, orang-orang tidak memeluk setiap orang yang mereka temui di jalan. Dan mereka akan menghindari pertemuan langsung dengan seseorang yang menderita flu.

“Semakin Anda patuh pada aturan yang ditetapkan, Anda akan terhindar dari infeksi. Dalam kondisi seperti ini, hanya akan terjadi infeksi 1,5 orang setiap tiga hari, dan jumlahnya akan terus turun,” ujarnya.

Levitt menyampaikan, Cina berada di bawah karantina total, orang-orang hanya meninggalkan rumah untuk berbelanja kebutuhan pokok, dan menghindari kontak dengan orang lain. Di Wuhan, yang memiliki jumlah kasus infeksi tertinggi di provinsi Hubei, semua orang memiliki peluang terinfeksi, tetapi hanya 3% yang tertular.

“Bahkan di Diamond Princess  (kapal pesiar yang dilanda virus), tingkat infeksi tidak mencapai 20%,” katanya. Berdasarkan statistik ini, Levitt menyimpulkan bahwa banyak orang secara alami kebal terhadap virus.

Ledakan kasus Covid-19 di Italia memang mengkhawatirkan,  tetapi Levitt memperkirakan itu adalah hasil dari persentase orang lanjut usia yang lebih tinggi daripada di Cina, Prancis, atau Spanyol.

“Lebih jauh, budaya Italia sangat hangat, dan orang Italia memiliki kehidupan sosial yang sangat kaya. Karena alasan ini, penting untuk membuat orang terpisah dan mencegah orang sakit melakukan kontak dengan orang sehat,” tegasnya.

Menurut Levitt, Cina melakukan pekerjaan besar dan berhasil mendapatkan kendali penuh atas virus. “Saat ini, yang paling saya khawatirkan adalah Amerika Serikat. Mereka harus mengisolasi sebanyak mungkin orang. Jika tidak, itu dapat berakhir dalam situasi di mana 20.000 orang yang terinfeksi akan masuk di rumah sakit terdekat pada saat yang sama, dan sistem perawatan kesehatan akan runtuh,” tegasnya.

Kementerian Kesehatan Israel, lanjut Levitt,  menangani pandemi dengan cara yang benar dan positif. “Semakin parah tindakan defensif yang diambil, semakin mereka akan butuh waktu untuk mempersiapkan perawatan yang dibutuhkan dan mengembangkan vaksin,” katanya.

Levitt mengatakan bahwa di  Cina jumlah infeksi baru akan segera mencapai nol, dan Korea Selatan telah melewati titik tengah dan sudah dapat melihat akhirnya. Mengenai seluruh dunia, masih sulit untuk mengatakannya.

Menurut levitt, kasus yang terjadi di kapal pesiar Diamond Princess  adalah skenario kasus terburuk, menurut Levitt. “Jika Anda membandingkan kapal dengan suatu negara, kita berbicara 250.000 orang memadati satu kilometer persegi, yang sangat ramai. Ini adalah empat kali kepadatan di Hong Kong. Seolah-olah seluruh populasi Isaeli dijejalkan di wilayah seluas 30 kilometer persegi,” jelasnya.

Levitt menyampaikan, kapal memiliki AC sentral dan sistem pemanas serta ruang makan bersama. “Itu adalah kondisi yang sangat nyaman untuk virus, tapi hanya 20% yang terinfeksi. Memang banyak, tapi sangat mirip dengan tingkat infeksi flu biasa,” ujarnya.

Levitt juga mengungkapkan, seperti halnya flu, sebagian besar dari mereka yang meninggal akibat virus corona berusia di atas 70 tahun. “Adalah fakta, bahwa flu kebanyakan membunuh orang tua. Sekitar tiga perempat dari kematian akibat flu adalah orang berusia di atas 65 tahun,” paparnya.

Secara proporsional, lanjut Levitt, ada tahun-tahun ketika flu berkecamuk, seperti di Amerika Serikat pada tahun 2017, di mana terjadi tiga kali jumlah kematian dari biasanya. Dan tetap saja, kami tidak panik.

“Pesan saya, Anda perlu memikirkan corona seperti flu parah. Ini empat hingga delapan kali lebih kuat dari flu biasa, namun kebanyakan orang akan tetap sehat dan manusia akan bertahan hidup,” pungkasnya. (Made Wirya)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here